Perjalanan Anak Bangsa: Indonesia Mengajar (Chapter 4)
Sepagi itu kepala telah kudongakkan dengan mata lurus menajam ke atas awan. Sesekali kadang kuubah pandangan mata melirik ke arah kerumunan kelapa b...
Perjalanan Anak Bangsa: Indonesia Mengajar (Chapter 5)
Kupandangi jalan raya Parung-Bogor yang begitu panjang, luas, membentang dari ujung kaca angkutan yang tak bersesak dengan isi para penumpang. Kulem...
Perjalanan Anak Bangsa : Indonesia Mengajar (Chapter 6)
Langit telah menampakan warna merah, kuning, orange dan kejinggaannya saat sore padam yang tak pernah ku tahu apa benar sudah berganti dengan ma...
Perjalanan Anak Bangsa : Indonesia Mengajar (Chapter 7)
“Jika sudah tiba saatnya aku bertemu dengan anak-anak ini, Ingin rasanya kuteriaki waktu, Kenapa begitu cepat berlalu, Ingin kumaki ambisi, ...
Angin, Aku Rindu
Sudah satu minggu aku berada di pusat Kota Fakfak. Urusan koordinasi dengan pengajar muda dan Indonesia Mengajar sudah beres, kegiatan advokasi pend...
Anak-anak Tambora
Bangunan sekolah tiga lokal itu berdiri hening di antara kantor-kantor perangkat dusun yang terbengkalai. Riuhnya anak-anak bermain jadi satu-satuny...