Mei
15

Saya masih teringat kata Pak Coti, salah satu wali murid dari suku Akit, “...yang saya wariskan pada anak saya dalam hidup ini hanyalah pendidikan, ilmu pengetahuan, dan pergaulan..” Berbicara mengenai pergaulan, saat ini saya menginisiasi sebuah program baru untuk anak-anak yaitu sahabat antar pulau. Program ini bertujuan untuk mengembangkan pergaulan anak-anak dengan mempunyai sahabat-sahabat di seluruh pelosok nusantara. Saya ingin melalui program ini, anak-anak dapat saling belajar dan mengenal kondisi daerah-daerah lain di seluruh nusantara tanpa terbatas oleh ruang dan waktu. Awalnya saya ragu ketika mensosialisasikan program ini kepada anak-anak mengingat ini adalah pengalaman baru bagi mereka, tetapi karena saya “mengimin-imini” mereka dengan keindahan alam di daerah lain tempat calon sahabat baru mereka, antusiasme mereka meningkat. Mereka ingin tahu bagaimana lucunya ikan badut (nemo) di bawah laut Halmahera Selatan, kehebatan gajah bermain bola (seperti di salah satu iklan rokok terbaru) di Lampung, meriahnya berenang  bersama di sungai kalimantan, hingga kerja keras teman-teman yang bersekolah di atas gunung Majene.

Ya, sahabat baru mereka memang berada di keempat daerah penempatan pengajar muda angkatan pertama. Untuk yang edisi perdana ini saya telah menerapkan sistem: satu pengajar muda, satu pulau, satu sekolah. Tidak menutup kemungkinan jika program ini berjalan lancar dan masih mendapat respon yang baik dari anak-anak, sistem akan dikembangkan dengan menambah sahabat baru di berbagai desa tempat para pengajar muda lain di tempatkan. Karena ini uji coba, maka cukup satu saja dulu. Untuk Kabupaten Paser, Kalimantan Timur saya menggandeng Mansyur Ridho yang bertugas di Desa Selengot, untuk Kabupaten Halmahera Selatan, Maluku Utara saya menggandeng Ayu Kartika Dewi, untuk Kabupaten Majene, Sulawesi Barat saya akan mengajak sekolah Erwin P Irjayanti atau Wiwin, dan terakhir untu Kabupaten Tulang Bawang Barat, Lampung saya mengajak siswa-siswa dari sekolah Ginar Santika (Inay).

Ide ini sebenarnya bukan ide orisinal saya. jujur, saya terinspirasi dengan beberapa pengajar muda lain yang gemar mengunjungi kantor Pos untuk mengirim surat antar pulau. Sekarang, inspirasi tersebut saya aplikasikan kepada para siswa saya. Apalagi materi tentang menulis surat juga sedang mereka pelajari dalam mata pelajaran IPS dan bahasa Indonesia. Jadi bisa dikatakan sambil menyelam minum air. Bagi saya menulis surat adalah kegiatan yang cukup istimewa karena mampu menggabungkan kemampuan visual dan kinestetik. Dengan membayangkan situasi di daerah tempat sahabat baru tinggal, secara tidak langsung mereka mencoba untuk mengasah kemampuan visualnya dengan membayangkan. Misalnya saja untuk daerah penempatan Lampung, saya membantu imajinasi mereka tentang Lampung dengan menganjurkan mereka untuk melihat iklan rokok terbaru produksi Dj*rum yang menayangkan kehebatan alam Indonesia termasuk Lampung. Pada iklan tersebut mereka menonjolkan kemeriahan bermain bola dengan gajah-gajah Lampung. Kinestetik, yaitu dengan mengajak mereka menulis apa yang mereka bayangkan, mereka ingin tanyakan, dan mereka harapkan.

Berlandaskan pemikiran itu, saya tidak membatasi format penulisan. Bebas dan membebaskan. Saya hanya menganjurkan mereka agar lebih menarik ada baiknya jika pada surat tersebut mereka menceritakan terlebih dahulu tentang kondisi alam, kegiatan sehari-hari, maupun kegemaran mereka. Hal ini agar isi surat tidak hanya sekedar pertanyaan namun juga perkenalan. Saya berharap, program sahabat antar pulau ini dapat menjadi pintu gerbang bagi mereka untuk mengembang pergaulan di ranah yang lebih luas. Tidak sahabat untuk saat ini saja tapi untuk selamanya. Meski raga tak pernah menjelajah Indonesia tapi jiwa gemar berkelana nusantara. Selamat menulis dan menanti balasan anak-anak. Selamat mendapatkan sahabat baru.

1 Komentar
  • alex
    Untuk Pengajar Muda (PM) 1 dan 2, dimana saja berada., pembawa pesan pertama dari Gerakan Indonesia Mengajar ke pelosok Nusantara. Setelah selesai mengabdi, adakah mimipi/ keinginan/ rencana untuk melakukan sesuatu yang dapat membuat GIM menjadi gerakan bersama yang diketahui dan dimiliki semua rakyat Nusantara serta menimbulkan niat tulus dari rakyat di Nusantara ini untuk berpartisipasi dalam Pendidikan, baik secara langsung maupun tidak.
    Karena untuk menghancurkan rantai kebodohan dan kemiskinan, hanya dengan pendidikan. Dan pendidikan membutuhkan dana dan gerakan bersama, karena tanpa itu, kita tidak dapat menghancurkan rantai kebodohan dan kemiskinan, dan akhirnya Mutiara Nusantara akan hilang ditelan waktu.
    Akankan ini terjadi lagi dan lagi, tanpa bisa kita cegah dan hancurkan?.
    Sanggupkah Mutiara Nusantara kita, menghancurkan rantai kebodohan dan kemiskinan itu dengan kekuatannya sendiri ?.
    Jadikan GIM sebagai pembuka jalan tetapi apa yang akan kita lakukan selanjutnya karena tanpa adanya bantuan dari kita, rakyat nusantara lainnya, Mutiara Nusantara akan menemui kesulitan untuk memutus rantai kebodohan dan kemiskinan yang membelenggu dirinya, mari kita bantu mereka, bisakah PM 1 dan 2, sekali lagi berpartisipasi menemukan jalan keluarnya.
Tinggalkan komentarmu

Belum punya akun? Daftar sekarang!