Okt
03

 

Senin ini pelajaran IPA Kelas VI. Akupun masuk kelas, mengajak anak-anak berdo’a sebelum belajar. Setelah berdo’a, aku coba menanyakan kabar anak-anakku hari ini, sembari mengamati siapa yang belum hadir atau tidak datang ke sekolah.

Kelas IPA pagi ini aku buka dengan bernyanyi. Aku bagi kelas menjadi tiga kelompok. Aku bertanya lagu kesukaan masing-masing kelompok. Setelah mereka sepakat dengan lagu pilihan masing-masing, aku ajak mereka bernyanyi bersama. Mereka harus bernyanyinya sesuai dengan kode yang aku berikan. Jika aku angkat tangan kanan, anak-anak di kelompok sebelah kananku yang bernyanyi. Di saat mereka bernyanyi, aku ganti angkat tangan kiri. Jadi, seketika itu anak-anak di kelompok sebelah kiriku langsung bernyanyi, sedangkan yang kanan otomatis akan diam-berhenti bernanyi. Jika kedua tangan aku angkat, maka kelompok di depanku (bagian tengah) yang bernyanyi. Begitu seterusnya, mereka harus bernanyi menyelesaikan penggalan-penggalan lagu masing-masing karena pindah kesempatan bernyanyi. Jika didengarkan pasti akan berbeda, seperti ganti lagu karena setiap saat bisa berganti giliran bernyanyi.

Anak-anakku di sekolah ini memang paling suka bernyanyi, walaupun sebagian besar masih malu-malu untuk kebolehan di depan yang lain. Tapi di saat sela-sela jam belajar atau jam istirahat, mereka sering bernyanyi sendiri. Hampir selalu mereka menawarkan diri untuk bernyanyi satu per-satu sebelum pulang. Jadi, jika mau pulang syaratnya mereka harus bernyanyi dulu di depan teman-teman sekelasnya.

Seusai apersepsi, aku ajak anak-anak untuk bertepuk semangat. Menandakan bahwa mereka harus semangat karena masih pagi dan siap menerima materi. Materi hari ini tentang perkembangbiakan makhluk hidup, lebih tepatnya adalah perkembangbiakan secara kawin (generative). Menyampaikan materi ini sebenarnya sangatlah menantang, karena harus menyampaikannya kepada anak-anak yang usianya akan masuk ke kategori pubertas. Bahkan beberapa sudah menginjak pubertas. Tentunya ekspresi malu-malu akan banyak terjadi ketika membahas materi ini.

Ketika jam belajar berlangsung, anak-anak teringat sebuah kejadian unik yang terjadi di halaman sekolah, ketika kita semua sedang asyik-asyiknya melaksanakan upacara bendera. Sepasang anjing hadir di tengah-tengah kami yang sedang hikmat melaksanakan upacara rutin tersebut. Inilah cerita dibalik kejadian upacara bendera beberapa minggu yang lalu.

*************************************************************************************

Senin pagi itu menyapa desa kami. Waktu itu, aku sengaja bergegas menuju sekolah lebih awal karena cuaca pagi ini cerah. Hujan-pun lama tak datang bertandang. Lapangan sekolah pasti kering, pikirku saat itu. Anak-anak sudah latihan upacara sabtu lalu. Jadi tidak ada alasan untuk tidak menjalankan upacara bendera. Maklum ketika hujan bertandang, lapangan sekolah kami becek dan berair, jadi satu-satunya waktu dimana kita bisa melaksanakan upacara adalah ketika lapangan kering.

Begitu sampai di sekolah, anak-anakpun langsung memukul lonceng tanda upacara akan dimulai. Petugas upacara menempatkan diri pada posisinya, anak-anak yang lainpun demikian halnya. Sayangnya, hanya aku saja yang bisa mengikuti upacara hari itu. Jadi berperan sebagai majelis guru sekaligus menjadi Pembina upacara. Bagiku, hal tersebut tidak jadi perkara, asalkan anak-anak merasakan suasana upacara rutin yang tidak selalu mereka rasakan setiap Senin tiba. Dari upacara bendera, anak-anak belajar banyak hal, belajar bagaimana menjadi petugas upacara, mengenal lebih dekat dengan Indonesia melalui serangkain proses upacara. Mereka akan tahu UUD 1945, Bisa menyanyikan lagu kebangsaan, lagu-lagu wajib, mengenang jasa-jasa pahlawan negeri kita dan banyak lagi yang lainnya.

Rangkaian demi rangkaian tertib upacara kami lalui dengan penuh hikmat. Namun, ketika amanat dari Pembina upacara (saya sendiri) berlangsung. Tiba-tiba sepasang anjing datang di arena lapangan upacara. Sepasang anjing yang sedang dilanda cinta akhirnya kawin di lapangan di depan kami yang sedang upacara. Sontak, anak-anak buyar, tersenyum malu menyaksikan kejadian itu. Akupun berusaha tetap tenang, tidak merespon kegaduhan anak-anak, agar mereka tetap focus menyelesaikan upacara. Aku akan menjawab jika mereka bertanya saja, pikirku saat itu. Entah mengapa, takut kurang tepat atau salah menjelaskan sementara tidak semua anak harus mengetahuinya sekarang soal kejadian yang barusan mereka saksikan.

*************************************************************************************

Pagi ini, aku diingatkan lagi dengan kejadian itu oleh anak-anak kelas VI. Saat aku sengaja menggali pengetahuan mereka tentang perbedaan cara perkembangbiakan, yaitu kawin dan tidak kawin.

 “Anak-Anak, siapa yang tahu, bedanya perkembangbiakan secara kawin (generative) dan secara tidak kawin (vegetative)?”

Anak-anakpun berupaya mencari tahu jawabannya. Aku yakin diantara mereka sedikit banyak sudah tahu, namun malu-malu dalam menyampaikan sehingga yang ada mereka hanya tersipu-sipu malu.

Bendi salah satu muridku mencoba berbicara dengan sendirinya “Anjing waktu upacara Pak”. Walalupun sambil malu diselingi ketawa, diikuti oleh anak-anak yang lainnya.

Akupun berusaha mengajak mereka untuk terbuka, tidak malu-malu. “Iya, kenapa Ben dengan Anjingnya?  Ayo tidak apa-apa, kita sedang belajar sekarang. Jadi tidak usah malu-malu. Coba apa yang anak-anak ketahui? Apa bedanya perkembangbiakan secara kawin dan secara tidak kawin?”

Minggu lalu memang kita sudah belajar bagaimana perkembangbiakan secara tidak kawin, nah pertemuan ini kita belajar tentang perkembangbiakan secara kawin (generative).

“Coba anak-anak perhatikan dan ingat-ingat materi yang lalu, Amoeba bisa membelah diri, Hydra bisa berkembangbiak dengan tunas, cacing pipih bisa berkembang-biak dengan fragmentasi (memotong diri). Nah berarti mereka bisa berkembangbiak dengan sendiri bukan? Nah coba lihat anjing kemarin, apakah jika sendiri anjing bisa kawin?” tanyaku kepada mereka.

“tidak” jawab anak-anak.

“Jadi bagaimana?” timpalku

“Harus ada dua, jantan dan betina”. Jawab anak-anak.

“Iya, benar sekali. Jadi perkembangbiakan secara kawin, itu harus ada dua kelamin, jantan dan betina. Apakah ayam bisa bertelur jika hanya betina saja? “

“Tidak Pak” serentak menjawab

“Apakah anjing bisa beranak, jika semua anjing itu jantan semua?”

“Tidak Pak” jawab anak-anak.

Akupun tersenyum, mereka sudah memahaminya. “Jadi, perkembangbiakan secara kawin itu melibatkan dua individu (sepasang), jantan dan betina.” Penutupku untuk diskusi tentang perkembangbiakan secara kawin.

Begitulah sekilas gambaran kelas IPA di kelasku minggu ini. Cukup berat memang setiap menjelaskan konsep perkembangbiakan, pubertas untuk anak-anak kelas VI. Tantangan tersendiri bagi seorang guru.

2 Komentar
  • ania maharani
    hihi.. anak muridnya cerdas!

    coba kalau ada kucing yang sedang melahirkan, atau anak-anak kucing dibawa ke sekolah, pasti ceritanya akan berbeda, pak Guru
    • Suhariyanto
      ide yg baguss Mba,
      haruss dicobaa. pastii seruu dan menyenangkan sekali bagi anak-anak :-))
      memang pembelajaran harus kontekstual shg mudah untuk dipahami :-))
      thanks Mba Ide nyaa
Tinggalkan komentarmu

Belum punya akun? Daftar sekarang!