Jan
23

Siang itu mendung mengantung di langit-langit Lomununtu. Lonceng panjang tanda berakhirnya jam pelajaran di sekolah berdentang. Segera setelah berdoa, anak-anak berhamburan ke luar kelas. Saya juga melangkah ke luar ruang guru, menghampiri anak-anak yang masih berada di halama sekolah, berjanji bahwa sore ini kami akan megadakan jadwal belajar bersama. Setiap sore, secara bergiliran saya memang memberikan pelajaran tambahan kepada mereka. Kami biasa belajar bersama sore hari di sekolah. Kebetulan jarak rumah keluarga angkat saya dengan sekolah tidak terlalu jauh. Sekitar 300 meter saja. Siang itu, beberapa langkah sebelum tiba di rumah hujan turun dengan sangat deras.

Satu jam, dua jam, hujan tak kunjung reda. Saya melirik jam di layar ponsel. Pukul 15.00 WITA. Saya mulai gelisah di balik jendela kamar. Sibuk menimbang apakah saya akan berangkat ke sekolah memenuhi janji untuk belajar sore bersama atau melanjutkan tidur saja karena probabilitas murid datang sangat kecil sekali. Jujur, dalam kondisi seperti ini pilihan kedua sangatlah menggoda. Suasana yang redup karena langit yang gelap dan udara yang dingin adalah waktu yang menyenangkan untuk tidur. Tapi entah mengapa ada sebagian hati yang bersikukuh ingin tetap datang ke sekolah.

Menit terus merambat maju. Jarum jam sudah berada di angka 4. Pukul 15.20 WITA. Hujan masih saja lebat. Dan saya masih berdiri di posisi yang sama. Di balik jendela kamar, berpikir, menghitung dan menimbang akan membelah hujan pergi ke sekolah atau tidak. Mneit selanjutnya saya memutuskan untuk mengambil payung, memasang raincoat pada tas ransel dan mengenakan sandal gunung spesialis jalanan berlumpur. Saya memutuskan untuk pergi ke sekolah dengan sebuah materi pembelajaran yang saya rasa lebih berharga daripada materi pejalaran Matematika yang rencananya akan kami pelajari sore ini.

“Turun les kah, Bu? Hujan. Paling tidak ada yang turun..”, Imah, adik angkat saya berujar. Saya hanya tersenyum lalu pamit. Jalanan sepi. Beberapa rumah warga tertutup. Tentu saja. Sore ini hujan turun cukup lebat. 10 menit kemudian saya tiba di sekolah.

Kosong. Tak ada seorangpun di sekolah. Perkiraan saya benar. Tidak akan ada murid yang datang sore ini. Sekedar informasi, banyak diantara siswa saya yang berasal dari pulau seberang. Artinya, untuk sampai ke sekolah mereka harus mendayung sebuah perahu kecil melintasi sungai yang konon juga berbuaya. Tentu saja, mendayung melintasi sungai ditengah hujan lebat seperti ini akat terlalu beresiko. Nyawa lebih berharga daripada belajar sore bersama Bu Halida di sekolah. Saya sepenuhnya paham. Sekedar tersenyum kecil mendapati sekolah yang lengang. Sebentar saya mengecek kondisi sekolah, memastikan semua pintu sudah terkunci lalu kembali pulang membelah hujan yang masih turun cukup lebat. Besok, saya berharap ada pelajaran baru yang mereka dapat dari apa yang saya lakukan sore ini.

Esoknya saya berangkat seperti biasa. Seolah tidak terjadi apa-apa. lalu di halaman sekolah saya disambut oleh beberapa orang anak murid berlari menghampiri. “Ibu, maaf saya kemarin tidak datang les. Katanya Ibu datang ya?”. Prediksi saya benar. Ada anak murid yang melihat saya datang ke sekolah kemarin, saat hujan turun dan tidak ada seorang murid pun yang datang. Dan berita itu dengan cepat menyebar di kalangan murid. Saya hanya tersenyum. Berkata tidak mengapa. Lalu seorang anak murid yang lain bertanya “Kenapa Ibu datang jhe Bu? Kan hujan?”. Saya dengan ringan menjawab, “Ibu datang karena Ibu sudah berjanji. Janji seorang ksatria tidak akan pernah patah hanya karena hujan. Makanya Ibu datang.”. Mereka hanya tersenyum.

Saya tidak berharap mereka sepenuhnya memahami pembicaraan kami tadi. Boleh jadi besok mereka akan lupa adegan itu. Tapi memori tentang kejadian kemarin akan terus mereka ingat. Semoga ingatan itu tetap dibawa, sampai pada suatu masa yang saya tidak ketahui, masa ketika tubuh-tubuh kecil itu tumbuh dewasa dan duduk di kursi-kursi megah memegang tambuk kekuasaan negeri ini. Semoga mereka tidak akan pernah lupa bahwa janji sekecil apapun tidak akan dilanggar hanya karena hujan atau badai.

Rain and storm won’t be an excuse to break your promise, kiddos!

2 Komentar
Tinggalkan komentarmu

Belum punya akun? Daftar sekarang!