Jan
22

 25 November 2011

Mau tidak mau mengajar itu selalu mendidik”

-Bartolomeus B-

Ketika Mengajar Menjadi Mendidik dan Emosional

Anak-anak ku di kelas 4 begitu gaduh..mereka seperti kuda yang keluar kandang. Mereka sangat senang corat-coret buku, suku kalabur di kelas, suka pura-pura kelaparan agar bisa pulang, suka tidak mendengarkan gurunya yang kou ini. Sinyal pasti Tertib...mempan 30 detik, mereka menjadi nglunjak dan menjadi tidak menghiraukan dengan baik perintah gurunya. Ternyata efek pembelajaran yang membebaskan mereka berekspresi membuat anak-anak yang selama ini di bawah bayang-bayang rotan menjadi merasa sangat bebas.

Bagi yang percaya konsep Brain Based Learning tentang sel otak yang menjadi  mengkerdil dan “layu” di bawah tekanan, rasa takut, dan rasa cemas, sepertinya anak-anak di Molu mengalami hal itu yang membuat mereka begitu lama memahami materi karena sambungan-sambungan sel otak mereka tidak klop. Ibaratnya jembatan di otaknya terputus-putus. Nah...begitu otaknya mendapat stimulasi, sel-sel otak menjadi bertumbuh. Mungkin sikap anak-anak yang menjadi nglunjak itu karena masa-masa pertumbuhan sel otak itu. Namun, masalahnya mereka menjadi sangat sulit diatur. Aku menjadi geram, terlebih  guru-guru yang sedang belajar dari metode keras menjadi metode menyenangkan untuk anak. Rupanya fenomenanya dihadapi semua. Para guru yang cannot handling, memilih kesimpulan mudah :

“Anak-anak ini kalau diberi hati jadi tidak hormat, jadi memang harus dengan pukulan”

Dipikir-pikir hal itu wajar....tapi masalahnya aku juga jadi geram dengan sikap anak-anak ini. Seminggu menjelang masa-masa hari Pahlawan, mereka semakin menjadi. Kugunakan peluit untuk menenangkan mereka, semakin mereka tidak hiraukan perintah, semakin keras peluitnya.....Eh ternyata pendekatan ini juga bertahan 1 menit. Tapi setidaknya 30 detik lebih lama J

Trial n Error....karena sinyal belum sampai di Adodo Molu, jadinya harus berpikir sendiri bagaimana menangani hal seperti ini tanpa harus menjatuhkan pukulan. Karena menjadi PERHATIAN anak-anak tidak menjadi taat ketika dipukul, mereka malah sangat senang ketika temannya dipukul. Aku berusaha memberi pukulan adalah untuk saat mendidik anak seperti gembala yang memukul dombanya ketika melenceng. Jika aku selalu memukul ketika mereka tidak taat, hal ini adalah saat-saat yang ditunggu para guru. Mereka berusaha meyakinkan aku bahwa anak-anak Maluku ini batu yang harus dipukul agar halus.

Sebelum-sebelumnya aku memberi hukuman lari keliling kelas, lari keliling lapangan, cubitan di perut, jeweran di kuping, digelitik sampai nyerah, atau disuruh meninju tembok jika bertengkar (dengan aku meninju tembok lebih dulu). Setelah menerima hukuman, mereka selalu kutanya satu pertanyaan,” Mengerti kenapa dihukum?” jika mereka diam, kujelaskan kenapa dihukum dan kelaspun berusaha mengerti itu dan mereka memilih sendiri hukuman kalau salah. Mungkin metode hukuman-kesadaran ini bisa berlaku untuk kelakuan anak-anakku.

7 November 2011. Anak-anakku sama sekali tidak mendengarkan perintah dan penjelasan belajar. “Tuhan tolong aku untuk tetap in controll....”,doaku dalam hati. Hingga akhirnya aku diam sama sekali dan tidak mengajar hingga istirahat. Aku hanya diam di meja guru dan anak-anak satu per satu mulai saling memarahi agar temannya diam. Sebenarnya sering kulakukan ini. Ketika anak-anak ramai, aku diam dan mereka menjadi mendengar. Tapi karena setelah diam, aku tetap mengajar lagi, mereka jadi gampangin, karena pak Guru pasti baik lagi setelah diam. Nah kali ini aku mendidik mereka.

Setelah istirahat aku tetap diam di kelas. Mereka juga diam. Ada yang tetap kalabur dengan lari-lari, hingga akhirnya aku beranjak mau ke kantor. Di tengah mau ke kantor ada anak yang lapor ke guru paling expert dalam menenangkan anak dengan rotan. Akhirnya...terjadilah hal yang paling tidak diinginkan, semua guru datang ke kelas dan memarahi anak-anakku. Akhirnya yang lapor tadi kusuruh masuk kelas dan kudiamkan. Di kelas hanya ada aku, dan 2 anak murid yang lapor. Aku sangat tidak suka ada anak yang suka temannya dihukum, sekalipun hal itu terlihat benar.

Setelah masuk kelas, aku tetap diam hingga pulang sekolah. Anak-anak ternyata masih ada yang coba-coba ribut, sepertinya merasa aku akan baik kembali. Sebagian menjadi marah pada yang ribut, sebagian lagi teriak-teriak agar temannya tenang. Akhirnya......sebenarnya mikir-mikir, terlalu over atau gimana...Tapi akhirnya dengan diam kupreteli semua hiasan kelas yang sudah kami pasang sama-sama.

Eh tiba-tiba ada suara terisak....ternyata anak-anakku menangis. Ga kuat juga atiku, tapi mereka harus diajari arti konsekuensi. Satu per satu kuambil. Mobil Jadwal, Dinosaurus piket, Rumah nama, Jam Tertib, Tugu struktur kelas, nama-nama anak-anak yang dibuat dari kertas bekas, dan tulisan-tulisan lain. Semua kutaruh di meja guru dan aku diam. Saat aku sedang mencabuti tulisan dan gambar, anakku yang paling suka negerjain gurunya, Yermias marah pada teman-temannya yang terus ribut,” Terus..terus...terus baribut kamong, bodo kamong semua, begini katong seng belajar lae,”. Dada rasanya sesak dan lebih sesak lagi ketika Hani, murid paling pintar di kelasku sambil berkaca-kaca berkata,”Pak Guru, besok seng ajar katong lae,”. Rasanya rontok hati ini....pipiku basah. Cepat-cepat kuusap. Kubilang kalau besok tetap datang tapi belajar sendiri mereka.

Dua hari kudiamkan anak-anakku. Aku duduk diam di kursi guru dan anak-anak diam di kursi masing-masing. Dua hari yang menyesakkan ketika melihat anak-anak mencoba meluluhkan hati gurunya dengan mulai menulis dan menggambar materi yang sebelum-sebelumnya kuberikan. Tapi efek berubah itu harus lewat sesuatu yang ekstrem memang.

Tanggal 9 November sebelum pulang sekolah aku berkata,”Bagi yang masih mau belajar dengan pak guru, besok jam 5.30 hampir siang (subuh), bapak tunggu di ujung pulau dengan darmaga,”. Di Adodo Molu sedang dibangun darmaga di arah ujung kanan pulau.

Gambling.....anak-anakku yang tidak biasa bangun pagi (buktinya jarang mandi ke sekolah karena kesiangan) pasti sulit untuk bangun pagi dan aku juga tidak terlalu berharap...Pagi-pagi jam 5, Adodo Molu masih sangat gelap. Setelah mandi dan mengambil bekal yang tadi malam kubeli, aku berjalan menuju tanjung.

Ternyata ada 5 orang anakku yang datang pukul 5.30 tepat. Irvan, Yermias, Nelce, Yoke, dan Naomi. Mereka berlari-lari dari arah kampung dan segera bercerita padaku. Ada yang karena cemas terlambat, si anak bangun-tidur, bangun-tidur, bangun-tidur, dia gelisah menunggu pagi. Ada yang sengaja tinggal di rumah orang tuanya dekat pantai. Biasanya dia tinggal dengan pamannya di dekat sekolah. Ada yang dari jam 5 sudah di depan pintu untuk melihat pak gurunya sudah lewat atau belum.

Memang tidak semuanya tepat waktu, tapi believe it or not, semua murid kelas 4 datang. Akhirnya mereka belajar mengerti bahwa, menjadi bebas dalam belajar itu harus, tapi mereka harus mengerti menghormati apa yang guru instruksikan. 9 Hari setelah hari pahlawan, aku pergi ke Tutunametal dan semoga murid-muridku tetap mengingat hal itu.

2 Komentar
Tinggalkan komentarmu

Belum punya akun? Daftar sekarang!