Agu
03

Febri, begitulah biasa dipanggil. Dia merupakan satu dari beberapa anak ‘bedeng’ (sebutan khusus untuk daerah pembuatan batu bata_red). Dia berasal dari daratan Sumatera. Ketika kecil, kedua orang tua Febri membawa serta dirinya untuk merantau hingga pada akhirnya Febri sampai di pulau Bengkalis ini.

Febri memiliki seorang adik perempuan yang kini telah diuduk di kelas 5 SD sedangkan dia sendiri berada di kelas 4. Beberapa kali dia harus menetap pada jenjang kelas yang sama, karena ketidakmampuanya dalam mengenal huruf. Pertemuanku pertamaku dengannya adalah ketika aku masih menjadi guru pengganti. Beberapa hari saat kedatanganku di sini aku diminta untuk menggantikan guru kelas untuk mengisi pelajaran bahasa Indonesia di kelas 4 dan di sanalah aku bertemu pertama kali dengan Febri.

Ketidakbisaanya dalam membaca membuatnya tidak dapat memahami materi yang tertera di buku pelajaran. Padahal seharusnya buku pelajaran memudahkan setiap peserta didik untuk memahami ilmu pengetahuan. Ketidakbisaanya dalam membaca membuatnya menjadi bahan olokan ketika pelajaran, terutama yang berkaitan dengan pelajaran membaca hingga guru kelaspun telah pasrah karenanya. Namun demikian, ketidakbisaanya dalam membaca tak menutup kemampuannya yang lain, yakni kinestetik.

Bintang siswa kali ini ku berikan pada Febri. Hari ini dia menjadi yang ter-cakap di kelas IPA yang saya ampu. Hari ini sebenarnya materi telah selesai dan sengaja ku sisakan satu pertemuan untuk mengadakan praktikum atau penelitian sederhana mengenai bab yang baru saja di pelajari yakni mengenai energi bunyi. Beruntung saat pelatihan di MTC aku mendapat pelatihan berupa pembelajaran kreatif hampir di semua mata pelajaran. Lebih beruntungnya lagi saat itu kami (Pengajar Muda) diajari bagaimana membuat praktikum sederhana untuk membuktikan mengenai sumber bunyi dan itu adalah materi yang ku ajarkan di sini. Sungguh merasa bersyukur mendapat pembekalan mengenai tata cara praktikum hingga tahap mempraktikannya sebelum terjun langsung ke lapagan. Terimakasih bu Wei dan bu Ruth ^^.

Selama proses praktikum aku melihat Febri tampak mendominasi tim. Dengan keahliannya, teman-teman yang lain duduk terpatung. Di kala kelompok yang lain memanggilku karena mereka mengalami kesulitan, kelompok Febri melaju lebih dulu, bahkan selesai 30 menit sebelum kelompok kedua menyelesaikan praktikumnya. “Yeiii... selesai triak mereka antusias.

“Mau membantu kelompok lain?,” tanyaku pada Febri dkk  yang kemudian segera mereka iyakan. Di sini aku ingin memberikan pemahaman bahwa ternyata orang yang selama ini mereka anggap lebih dibawah mereka ternyata suatu saat justru jauh melampaui mereka. Di akhir sesi praktikum ini ku sempatkan untuk mengajak seisi kelas-teman-teman yang telah di bantu-untuk memberi aplause kepada Febri dan timnya atas bantuan dan tak hanya tepukan tangan yang Febri dapat, siulan dan teriakan bernada positifpun dia dapatkan di sini, di ruang kelas yang menjadi saksi keberadaanya selama beberapa tahun ini. sebelum keluar dari kelas, ku sempatkan untuk mendokumentasikan mereka dan saat itu banyak anak yang mendekati Febri dan berfoto bersamanya dengan riang gembira.

Aku selalu percaya bahwa Tuhan itu Maha Adil. Ketika Dia memberikan anugerah berupa kelemahan di satu bidang, tak lupa Dia memberi kelebihan pada bidang lainnya. Memang untuk saat ini Febri belum bisa membaca, namun keterampilan tangan dan kecakapannya melebihi teman-teman sekelasnya, dan itu selalu terbukti tiap kali aku mengadakan praktikum di kelas ini.

1 Komentar
  • alex
    Untuk Pengajar Muda (PM) 1 dan 2, dimana saja berada., pembawa pesan pertama dari Gerakan Indonesia Mengajar ke pelosok Nusantara. Setelah selesai mengabdi, adakah mimipi/ keinginan/ rencana untuk melakukan sesuatu yang dapat membuat GIM menjadi gerakan bersama yang diketahui dan dimiliki semua rakyat Nusantara serta menimbulkan niat tulus dari rakyat di Nusantara ini untuk berpartisipasi dalam Pendidikan, baik secara langsung maupun tidak.
    Karena untuk menghancurkan rantai kebodohan dan kemiskinan, hanya dengan pendidikan. Dan pendidikan membutuhkan dana dan gerakan bersama, karena tanpa itu, kita tidak dapat menghancurkan rantai kebodohan dan kemiskinan, dan akhirnya Mutiara Nusantara akan hilang ditelan waktu.
    Akankan ini terjadi lagi dan lagi, tanpa bisa kita cegah dan hancurkan?.
    Sanggupkah Mutiara Nusantara kita, menghancurkan rantai kebodohan dan kemiskinan itu dengan kekuatannya sendiri ?.
    Jadikan GIM sebagai pembuka jalan tetapi apa yang akan kita lakukan selanjutnya karena tanpa adanya bantuan dari kita, rakyat nusantara lainnya, Mutiara Nusantara akan menemui kesulitan untuk memutus rantai kebodohan dan kemiskinan yang membelenggu dirinya, mari kita bantu mereka, bisakah PM 1 dan 2, sekali lagi berpartisipasi menemukan jalan keluarnya.
Tinggalkan komentarmu

Belum punya akun? Daftar sekarang!