Jul
07

 

Saya ingin membuka tulisan ini dengan sebuah perikop dari Injil yang menceritakan sebuah perumpamaan yang disampaikan oleh Yesus. Kisah yang diambil dari Injil Matius ini berbunyi demikian:

Perumpamaan tentang domba yang hilang

“Bagaimana pendapatmu? Jika seorang mempunyai seratus ekor domba, dan seekor di antaranya sesat, tidakkah ia akan meninggalkan yang sembilan puluh sembilan ekor di pegunungan dan pergi mencari yang sesat itu? Dan Aku berkata kepadami: Sesungguhnya jika ia berhasil menemukannya, lebih besar kegembiraannya atas yang seekor itu daripada atas yang kesembilan puluh sembilan ekor yang tidak sesat. Demikian juga Bapamu yang di sorga tidak menghendaki supaya seorang pun dari anak-anak ini hilang” (Matius 18: 12-14)

Dalam interpretasi yang umum dalam Kristiani, makna perikop ini adalah Yesus menegaskan bahwa objek utama dari pewartaan dan karya-Nya bukanlah orang yang sudah beriman, tapi justru kepada orang berdosa yang diibaratkan-Nya sebagai domba yang hilang. Perumpamaan ini menjadi relevan ketika melihat dalam kehidupan sehari-hari, yang diutamakan dan menjadi perhatian utama kita, di bidang apapun itu, adalah orang yang baik, yang menyenangkan, yang bersikap positif, dan sejenisnya.

Di sekolah, hukum ini juga sering terjadi. Guru-guru selalu punya anak kebanggaan, biasanya anak yang pintar, cantik, pandai menyanyi, punya bakat jadi pemimpin, pendeknya tidak memusingkan guru. Anak-anak inilah yang selalu berada di spotlight, mereka jadi anak yang paling merasa berharga di sekolah. Kasus ini berlaku entah itu di kota besar maupun di desa terpencil. Anak-anak kota yang menang olimpiade sains, atau anak desa yang secara mengejutkan bisa mengikuti konferensi di ibukota, tetap sama-sama adalah anak yang nomor wahid di sekolah dan lingkungan mereka. Memang ini merupakan keniscayaan, di mana yang ‘kuat’ yang bersinar, tapi seperti ilustrasi dari Injil di atas, bagaimana dengan anak yang ketinggalan, yang tidak menonjol, domba-domba yang hilang itu?

Biasanya, anak-anak yang ‘biasa-biasa’ saja ini –yang selalu ada di tiap kelas- sering dianaktirikan oleh guru, dan tidak pernah diberi kesempatan menjadi seseorang yang disorot. Hal ini sering saya temui di sekolah tempatku mengajar. Jika yang melatih upacara adalah salah seorang guru lain selain saya, biasanya anak-anak yang dipilih adalah anak-anak yang itu-itu saja, anak-anak yang memang sudah pintar membaca dan cepat nangkap. Guru-guru malas mengajar anak-anak yang butuh latihan lebih. Sudah sering saya lihat, saat ada anak-anak yang baru melakukan satu kesalahan saja dalam latihan, entah itu upacara atau baris berbaris, mereka langsung dikeluarkan dan diganti dengan anak lain yang sudah punya jam terbang lebih. Ini menyebabkan anak-anak yang tertinggal punyap otensi untuk seteusnya akan selalu tertinggal.

Dan saya akan bercerita tentang seorang muridku yang juga berada pada posisi ‘tertinggal’ ini. Bertha Etalwewa, sudah pernah saya ceritakan dalam tulisanku ‘Memenangkan Bertha’. Bertha adalah anak yang saat pertama kali kutemui penampilannya sangat awut-awutan. Dia anak yang paling tertinggal di kelasku, kelas IV, karena belum bisa mengenali angka dan huruf. Tulisan tangannya hampir pasti tidak terbaca, kemampuan menghitungnya pun sangat rendah, ia tidak bisa menghitung penjumlahan sederhana seperti 5+6.

Setelah mengajar Bertha selama beberapa bulan, saya menyadari bahwa tampaknya ia menderita disleksia, sebuah gangguan pada pengenalan akan huruf. Ia sudah bertahun-tahun diajari tentang huruf –Bertha sudah dua kali tinggal kelas- namun tetap saja huruf yang ia hafal baru A, B, dan O saja. Ironisnya saat saya tanya, ia mengakui bahwa adiknya yang saat ini duduk di kelas 2 SD lebih pintar dalam mengenali huruf daripada dia. Saya memang sedikit kehabisan akal dalam mengajar Bertha, terutama saat saya menyadari bahwa ia selalu enggan untuk belajar saat ada orang lain ynag melihat. Ia rupanya malu dengan kesulitannya dalam membaca ini. Masalah ini cukup sulit saya pecahkan, karena selain anak-anak selalu berkerumun di manapun saya berada, Bertha sendiri juga tidak telaten dalam belajar. Ia sering tidak datang saat saya minta ke rumahku, atau lari entah ke mana saat saya sambangi di rumahnya.

Guru-guru lain sebenarnya sudah angkat tangan dengan keadaan anak ini. Salah seorang rekan guru malah mengatakan kepada saya bahwa masalah Berha ini adalah karena faktor keturunan, artinya karena orang tuanya memang ‘tidak pintar’, makanya si anak pun susah untuk belajar. Orang tua Bertha pun sudah kehabisan akal untuk mengajar anak ini, dan mungkin tidak berharap banyak kepada anaknya ynag satu ini.

Tanpa bermaksud mengheroikkan diriku, saya tidak sependapat dengan apa yang dilihat oleh orang tua, guru-guru, dan juga teman-teman Bertha. Menurut saya Bertha adalah anak yang bisa menjadi ‘sesuatu’. Walau ketinggalan dalam semua aspek pelajaran, tapi ia anak yang penuh percaya diri. Ia selalu yang paling semangat dalam melakukan aktivitas –malah kadang sedikit berlebihan semangatnya sampai memukul temannya- dan ia punya bakat dicintai orang. Kelas selalu sepi tanpa Bertha, yang selalu membuat semua orang tertawa. Ia termasuk anak yang sangat rajin datang sekolah. Pendeknya, Bertha terlalu berat untuk dilewatkan, untuk dibiarkan melalui pendidikan tanpa pernah dimenangkan, tanpa pernah ia merasa memenangkan dirinya sendiri.

Dan mulailah saya, seperti di tulisan saya sebelumnya, berusaha memenangkan Bertha. Saya selalu percaya dalam mengajar anak-anak ada dua aspek yang harus diperhatikan, yaitu pedagogis dan psikologis. Pedagogis berbicara tentang teknis cara mengajar yang tentunya berbeda bagi tiap anak, sementara psikologis berbicara tentang kepribadian anak, tentang motivasi dan hal-hal pribadi yang mengganjal kemajuannya. Ternyata hal yang paling menarik bagi saya adalah aspek psikologisnya. Bertha dibesarkan di keluarga yang di deda yang tergolong miskin ini termasuk keluarga paling miskin. Rumahnya sangat sederhana, penghasilan ayahnya pun sangat terbatas, karena tidak mengikat rumput laut seperti kebanyakan ayah-ayah lainnya. Saking terbatasnya, mereka tidak pernah makan nasi, karena beras harus dibeli. Mereka hampir selalu memakan makanan yang bisa diperoleh di kebun, yaitu pisang dan ubi saja. Suatu waktu, pada jurnal pagi saya melemparkan pertanyaan, yaitu seandainya kamu bisa pergi ke manapun kamu bisa pergi, kamu akan pergi ke mana. Bertha menjawab dengan polosnya, ia ingin ke Saumlaki. Alasannya, karena ingin melihat mobil. Bertha baru sekali ke Saumlaki, yaitu sewaktu pergi dengan rombongan siswi-siswiku menarikan tarian adat Tnabar Fanewa Desember lalu. Bahkan ke Larat, kota superkecil yang terletak 4 jam perjalanan laut dari Wadankou pun Bertha baru sekali, waktu perjalanan ke Saumlaki itu. Sebelum itu seumur hidupnya Bertha tidak pernah keluar dari desaku yang sepi dan jauh ini.

Suatu hari ide itupun muncul. Saya berpikir untuk membawa Bertha ke Saumlaki pada saat saya berangkat untuk berkumpul dengan teman-teman yang lain. Ide itu kelihatan begitu ideal, karena biasanya di Saumlaki banyak waktu lowong sehabis berurusan di Dinas Pendidikan yang biasanya kupakai untuk bersantai-santai saja di rumah. Waktu itu mestinya akan efektif jika dipakai untuk mengajar Bertha mengenal huruf. Selain itu dengan membawanya ke Saumlaki, berarti saya membantunya memenangkan suatu hal, yaitu mewujudkan keinginannya untuk pergi ke Saumlaki. Saya percaya, hal ini akan membuat anakku ini bisa terdorong untuk belajar membaca.

Seperti beberapa ide gila saya yang sering saya ceritakan, ide ini kelihatan tidak ideal karena ada counter idea, yaitu adanya kecemburuan dari teman-teman yang lain. Mengenai ijin orang tua tidak ada masalah, karena mama Bertha sudah mengijinkan dia pergi bersamaku. Karena itu saya berdiri di depan kelas, menjelaskan alasanku membawa Bertha dengan menggunakan ilustrasi kisah domba yang hilang ini. Saya dengan blak-blakan bertanya kepada anak-anak, apakah mereka merasa Bertha lebih kurang dari mereka?  Mereka sepakat dan memang merasa bahwa di antara teman-teman lainnya, Bertha yang paling membutuhkan pendampingan khusus. Saya menceritakan kisah domba yang hilang, dan menjelaskan bahwa saya mencintai semua anak dan seandainya bisa, ingin membawa semua anak. Sayang karena keterbatasanku, saya hanya bisa membawa satu anak saja. Karena itu saya ingin membawa teman kita yang paling membutuhkan, karena seperti Tuhan mencintai seorang domba yang terpisah dari kerumunan, begitu juga saya sebagai guru dan juga anak-anak semua sebagai teman Bertha. Saya bersyukur, anak-anak tidak ada yang protes, dan malah secara tulus ikut bersuka karena Bertha akan pergi ke Saumlaki bersamaku.

Dan di hari Rabu itu, tiba-tiba saudaraku mengabarkan bahwa akan ada kapal motor yang berangkat ke Saumlaki. Saya pun buru-buru berkemas, sembari meminta Bertha untuk membawa barang-barangnya dan langsung menuju ke pantai. Sesampai saya di pantai, dari kejauhan saya melihat Bertha berlari, membawa satu tas kecil yang sudah compang camping. Tas itu mirip tas pinggang, sehingga saya bertanya mengapa dia tidak membawa tas yang lebih besar. Ternyata Bertha tidak mempunyai tas lain selain tas itu, apalagi bajunya memang tidak banyak. Saya sedikit tertegun, dan mulai merasa bahwa keputusanku untuk membawanya ikut serta memang tepat.

Sesampainya di atas kapal motor, Bertha yang tiba-tiba murung, mungkin deg-degan menyambut perjalanannya ini, duduk di ujung motor, sambil melihat teman-teman sekelasnya yang melambai dari jauh. Saya senang, niat baik ternyata selalu dimuluskan oleh Tuhan. Motor melaju di bawah gerimis yang membuat pandangan sedikit kabur, tapi hatiku begitu cerah, semangat menyambut petualangan kecil Bertha, bertanya-tanya apa yang akan terjadi nanti. (bersambung)

Saumlaki, 23 Mei  2012 

 

 

0 Komentar
Tinggalkan komentarmu

Belum punya akun? Daftar sekarang!