Korps Pengajar Muda

Mereka adalah sarjana-sarjana terbaik dari berbagai penjuru tanah air. Mereka terpanggil untuk menjadi Pengajar Muda: ikut membantu mencerdaskan kehidupan bangsa melalui langkah nyata di bidang pendidikan. Menjadi Pengajar Muda bukanlah pengorbanan. Ini adalah kesempatan sekaligus kehormatan besar untuk mengenal bangsa Indonesia secara langsung dan utuh. Selama setahun di daerah penempatan, mereka mengajar, berinteraksi dan membagi inspirasi.

Sigit Arifianto (Sigit)

Pemuda kelahiran Bengkulu ini meraih gelar Sarjana Ekonomi dari Universitas Bengkulu Fakultas Ekonomi & Bisnis jurusan Akuntansi . Sigit yang memiliki darah Bengkulu-Jawa ini adalah anak kedua dari empat bersaudara.

Semasa kuliah Sigit aktif di BEM Fakultas Ekonomi & Bisnis UNIB sebagai Sekretaris Umum dan  kemudian  ditunjuk sebagai pelaksana tugas Gubernur BEM. Dia memperoleh beasiswa Prestasi Penunjang Akademik (PPA) dari Direktorat Jenderal Perguruan Tinggi dan  juga merupakan penerima dana Program Mahasiswa Wirausaha (PMW), yang digunakannya untuk mendirikan  usaha kafe  mahasiswa di dekat kampusnya, dari usaha ini pula dia berkesempatan menjadi deligasi pembentukan HIPMI Perguran Tinggi di Bandung 2012. Di tahun 2013, Sigit mendapatkan kesempatan menerbitkan jurnal  sekaligus menyajikannya dalam Malaysia Indonesia International Conference on Economics, Management and Accounting (MIICEMA) 2013.

Sebelum menjadi Pengajar Muda XIII, dia bekerja di salah satu Perusahaan Multi Nasional sebagai Management Trainee. Selama bekerja dia aktif di kegiatan CSR perusahaan terutama kegiatan yang berkaitan dengan financial literasi  ke anak-anak sekolah dan komunitas. Di luar kegiatan kantor dia ikut menjadi relawan pengajar di sekolah juara rumah zakat Jakarta selatan.

Panggilan hidup menjadi seorang Pengajar Muda timbul dari pengalaman masa kecilnya sebagai anak daerah dari keluarga sederhana yang tumbuh ditengah keterbatasan namun tetap berani bermimpi, keberanian untuk bermimpi ini ingin dia bagikan ke anak-anak di daerah terpencil. Harapan terbesarnya adalah bisa melihat anak-anak dari daerah terpencil berani berjuang menggapai mimpi-mimpinya. Mimpi itulah yang membawa Sigit untuk bertemu anak-anak di SD Inpres Pepera, Kabupaten Pegunungan Bintang.