4 hari di Pulau Nanusa
Zihniihkamuddin | 07 July 2015

Keindahan indonesia akan wisata baharinya terkenal hingga ke penjuru negeri. Salah satu pulau terindah yang pernah saya kunjungi adalah Pulau Nanusa. Nah lo dimana coba .............

Pulau ini terletak di Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara. Di pulau ini terdapat satu desa bernama Nanedakele, yaitu sebuah daerah yang berada di tepi laut dan menghadap ke utara. Tidak jauh dari pulau ini terdapat Pulau Bukide di sebelah timur, dan di bagian utara terdapat Pulau Poa serta Pulau Liang yang belum berpenghuni. Pulau Liang terkenal dengan sarang burung kunti. Ya,  burung berwarna putih yang bentuknya seperti burung merpati. Bahkan banyak warga sekitar datang ke Pulau Liang demi mencari burung ini untuk dipelihara di rumah.

Di Pulau Nanusa, terdapat satu SD N Inpres Nanedakele. SD ini terletak di bukit tertinggi di Desa Nanedakele, yang bisa ditempuh dengan perjalanan sekitar 10-15 menit dari rumah saya. Sebelum mencapai sekolah tersebut, saya harus mendaki bukit terlebih dahulu. Pemandangan alam dari SD ini sangat menarik. Saya bisa melihat secara jelas Pulau Bukide dan Pulau Lipang (anak-anak biasa menyebutnya pulau segitiga karena bentuknya menyerupai segitiga) serta beberapa pulau kecil lainnya. Sekolah ini memiliki 6 rombel, dengan jumlah siswa setiap kelasnya berkisar 4-15 orang. Kemarin saya sempat bertemu Ibu Korneleus, Kepala SD Inpres Nanedakele. Tahun ini, saya diberi kehormatan untuk mengajar kelas IV.

Listrik bukan jadi masalah utama di pulau ini, karena sumbernya berasal dari PLN yang menyala mulai pukul 18.00 WITA hingga 06.00 WITA. Selain itu, di desa ini ada sumber mata air bersih yang debit airnya melimpah. Bahkan dapat dimanfaatkan oleh 3 dusun. Menurut cerita Oppo Yos, ketika musim kemarau beberapa warga pulau lain datang ke desa ini untuk mengambil air. Meski airnya melimpah, sinyal HP masih belum bisa didapatkan di pulau ini. Untuk mendapat sinyal, warga biasa pergi ke bukit atau pesisir pantai dengan mengarahkan ponsel ke Pulau Bukide. Ketika kemarin saya berada di pulau, beberapa kali saya harus turun ke laut untuk mendapatkan sinyal yang stabil ketika ingin menelepon. Nah, namun untuk mengirim SMS lebih mudah, karena saya cukup menggantungkan Handphone di atap rumah.

Kehidupan di pulau ini didominasi masyarakat yang menggantungkan hidupnya di laut, ya mereka bekerja sebagai nelayan. Sekali melaut, nelayan ini bisa menghasilkan uang hingga jutaan rupiah apabila berhasil menangkap banyak ikan. Ikan yang harga jualnya tinggi di daerah ini adalah Ikan Tuna, Ikan Karang atau ikan garopa, lobster, dan cumi-cumi. Namun hal ini akan berubah ketika angin barat dan utara muncul. Karena ketika angin ini muncul, semua kegiatan yang berhubungan dengan laut seperti transportasi dan mencari ikan tidak bisa dilakukan. Dua angin ini berhembus sangat kencang dan berlangsung hingga berhari-hari, bahkan karena terlalu kuatnya banyak pumpboat yang sandar di depan pulau rusak akibat hantaman gelombang air laut.

 

Cerita Lainnya

Logo Indonesia Mengajar
KONTAK

(021) 7221570
info@indonesiamengajar.org

ALAMAT

Jl. Senayan Bawah No. 17,
Kel. Rawa Barat, Kec. Kebayoran
Baru, Jakarta Selatan 12180

© 2020 Gerakan Indonesia Mengajar
Ikut Iuran