Bab 1 : Ibu Guru Baru
Oleh: Rahma Nurbaiti,

"YEY!!! ADA IBU GURU BARU!!!"

Itulah kalimat pertama yang masih kuingat jelas saat pertama kali aku berangkat ke sekolah dasar tempatku menjadi Pengajar Muda. Sekolah Dasar Negeri Harapan Makmur.

Kata mereka, "Ibu... ibu pengganti Bu Gita, ya?"

Ada lagi yang menyahut, "Ibu nanti lama juga kan? Katanya 1 tahun ya, bu?"

Lalu berebutan sekelompok anak bertanya, "Bu.. nanti ngajar kelas 5 ya, bu?" "Enak aja!! Kelas 6 duluan laah!" "Ngajar kelas 4 juga ga, bu?"

Di sudut dekat pintu kelas, murid-murid kelas 1 dan 2 tersenyum malu-malu.
---

Ah... awalnya asing, tapi kata-kata "bu guru" sekarang sudah seperti sapaan salam yang biasa kita ucapkan setiap hendak masuk atau keluar rumah. Lumrah dan makin terbiasa.

Sekarang, tiap kali aku ke sekolah, atau berjalan-jalan keliling desa, bahkan saat tidak mengenakan rompi hijau armyku sekedar untuk mandi di sumur dekat rumah mamak piaraku, ada saja yang menyeletuk, "BU GURUU!!"
"Nak (mau) adus (mandi) ya, bu?"
"Hallo, Bu guru Beti! Lari sore yuk, bu? Apa cak itu bahasanya, bu? Maraton ya, bu?"

Dan kujawab sambil tertawa, "Ao (iya).. maraton namanya man (kalau) kamu lari dari sikak (sini) sampai Linggau tuh nah~ man cuma dari sikak ke dam sumur tuh, jogging namanya.. lari sore sambil ngobrol."

"OOOOH.. JOGGING YUK, BU BETI!"
---

Dan, yak! Tiap kali aku mengeluarkan HPku pasti anak-anak ini berebutan bicara, "Nak foto kita, bu? Apa Ibu nak nyari sinyal?"

"Katek (ga ada) sinyal sikak nah, bu. Dem laah.. kita foto bae, bu."

"Deeem" kujawab sambil berkata, "Cis, kacang bun..."

"CIIIIIS :)"
***

Cerita Terbaru
Cerita menarik lain dari Pengajar Muda

Hari Turunnya Al Qur'an di Desaku, Kuala Baru, Aceh Singkil

Bab 2 : Ngelong

Bab 1 : Ibu Guru Baru

Prolog : Bumi Silampari

Merica dan Pendidikan Lalomerui

Seluruh Cerita

Lihat seluruh cerita Pengajar Muda

Ikut Iuran