Waktu Indonesia Setempat (Uniquely Bawean)
Putri Lestari | 05 July 2011

Waktu Indonesia Setempat

Kawan, empat hari di Pulau ini, aku tak sabar ingin berbagi cerita tentang segala keunikan pulau ini. Sudah pernah ku ceritakan tentang betapa ramahnya orang suku Boyan ini, bukan? mulai anak-anak, remaja, hingga orang tua bisa menyapa ku kapan saja, cepat sekali aku merasa menjadi bagian dari pulau ini. Keberuntungan seperti ini bukan semata karena aku bertitel guru atau karena kedatanganku sudah di sambut Bupati  dan camat serta diantarkan langsung oleh Pejabat Dinas Kabupaten. Tapi memang begitulah suku Boyan, cerita serupa ku dapatkan dari setiap mantan pendatang. Itulah yang menyebabkan Pulau ini banyak dibangun pula oleh pendatang yang tidak mau pulang alias menetap dan menikah dengan orang Bawean.

Hari pertama aku datang ke SDN Kepuh Teluk 3, aku berbincang dengan guru-guru yang sedang mengisi raport. Sampailah aku pada pertanyaan “Pak, kelas mulainya jam berapa?” mereka berpikir sejenak lagu berkata “Jam 13.00 WIS...hmm berarti jam 12.30 WIB” berbalik aku yang terheran-heran. Ini guru lagi becanda apa enggak ya? Saat itu alis-alisku sudah menyatu barangkali. “WIS itu apa ya pak?” dia menjawab “itu bu, kalo orang sini pake Waktu Indonesia Setempat” semakin kaget lah aku, semakin merapatlah alis-alisku. “hah? Maksudnya pak?” dia mulai terlihat bingung dengan pertanyaanku “iya bu, dari dulu kita pakai Waktu Indonesia Setempat bu, beda setengah Jam” masih penasaran aku Tanya lagi “kok bisa?” yang ini santai mereka menjawab “ya dari sananya dulu-dulu sudah begitu bu” ku putuskan untuk berhenti bertanya.

Kawan, dua hari ini tidak ada air yang mengalir ke bak mandi di rumahku. Dari situ aku tertarik mencari tau urusan perairan Dusun Tanah Rata itu. Ternyata sumber air nan jernih ini terletak sangat jauh dari Dusun, warga pun membuat jadwal piket harian, setiap hari ada 4 orang warga yang harus membuka dan menutup pipa-pipa, mereka yang mengatur rumah A mendapat jatah aliran air di siang hari dan rumah B mendapat sebaliknya, mereka juga yang harus mengecek dan memperbaiki pipa-pipa yang rusak, atau ada sambungan yang terlepas, jika ada warga yang malas atau lalai, kasus di rumah ku adalah contohnya, air di bak tinggal sejengkal, kami harus menumpang di rumah tetangga. Kawan, betapa sebuah kepercayaan besar sekali artinya. Desa Kepuh Teluk mampu arif membagi dan menjaga sumber yang mereka miliki, mereka tidak perlu keran air, karena air mengalir sudah pada jadwalnya.

Letak rumah orang tua angkat ku berada di antara langgar dan mesjid, awalnya aku tidak menyadari fungsi langgar yang berada persis di samping kamarku. Aku selalu solat berjamaah di mesjid, ku perhatikan dan agak heran, jamaah solat tidak pernah mencapai dua baris baik laki-laki maupun perempuan. Setelah aku kenal dengan anak-anakku, setiap menjelang maghrib mereka meneriaki aku dari langgar “eeeeboooo” (teriakkan itu persis seperti yang sering aku dan teman-temanku teriakkan pada fasilitatorku Ibu Dhini). “eeboook, solat di Langgar donk buuu!” akhirnya aku solat di langgar bersama ibu angkat ku, ternyata Kawan, Langgar di sebelah kamarku itu adalah tempat solat khusus bagi anak-anak perempuan dan beberapa remaja, setelah solat mereka mengaji dan membaca solawat sampai menjelang Isya. Setelah ku usut lebih jauh, anak laki-laki melakukan hal yang sama di Langgar yang lain. Jadi kawan kita bebas memilih pahala tambahan, ingin menjadi teladan bagi anak-anak, solat lah di Langgar, tapi kicau dan tingkah jenaka mereka, tentu memecah konsentrasi. Jika ingin menjalankan solat dengan damai dan penuh kekhusyu’an, silahkan solat di mesjid. Hebat bukan Dusun ku?

Kawan-kawan Pengajar Muda angkatan dua tentulah ingat dengan Bahasa Bawean yang fenomenal selama di camp Intensive, Bahasa Bawean yang di ciptakan sendiri oleh para Bala Bawean, PM yang bertugas di Pulau Bawean, bagaimana bahasanya? (sulit ku jelaskan lewat tulisan). Nah, sekarang aku benar-benar ada di Bawean, bahasa pertama yang ku jumpai adalah bahasa Jawa dengan sedikit Madura, karena Bapak-bapak UPT dan Kepala sekolah kebanyakan orang Jawa. Memasuki kampungku, Dusun Tanah Rata, Bahasa yang digunakan sangat beragam, pengguna bahasa bawean yang sebenarnya adalah anak-anak, remaja, pemuka agama, dan semua orang yang tidak pernah meninggalkan kampung halaman, tapi ketika aku berbicara dengan kakek-kakek dan nenek-nenek di sini, rasanya seperti berada di semenanjung Malaka, kawan.

Suasana semenanjung Malaka bukan hanya karena bahasa semata, tapi ketika maghrib menjelang, anak-anak siap mengaji dengan busana khas melayu, baju kurung dari Malaysia, atau ketika kemarin ada perpisahan kelas 6 di Pondok Pesantren, tua-muda mengenakan baju kurung itu. Sangat melayu. Bagiku ini suasana yang sangat unik. Pulau yang unik.

Kesenian khas Bawean adalah Hadrah, yaitu musik rebana, sepasang penyanyi bergaya arab dan tarian khas yang mirip sekali dengan tari saman dari Aceh. Bagaimana sebuah daerah di Jawa memiliki kesenian yang sangat melayu.

Penyebab segala keunikan tadi tentu karena orang-orang usia produktif di Desa ini banyak yang memilih bekerja sebagai TKI ke Malaysia dan Singapura, beberapa ikut sanak saudara mereka di Jakarta dan Bekasi. Sebagian besar Murid-muridku tinggal dengan ibu mereka saja atau tinggal dengan paman atau nenek mereka. Orang tua mereka di perantauan tidak pulang setiap tahun, mereka hanya mengirimkan uang atau hadiah saat lebaran.

Kawan, ceritaku ini pastilah tak seberapa, kalian harus datang dan buktikan sendiri, masukkan Pulau Bawean sebagai salah satu tujuan wisata tahun ini ;)

21-6-2011
Cerita Lainnya

Logo Indonesia Mengajar
KONTAK

(021) 7221570
info@indonesiamengajar.org

ALAMAT

Jl. Senayan Bawah No. 17,
Kel. Rawa Barat, Kec. Kebayoran
Baru, Jakarta Selatan 12180

© 2020 Gerakan Indonesia Mengajar
Ikut Iuran