Tanah Rata sudah Merdeka
Putri Lestari | 23 September 2011

Menyampaikan ide ke anak-anak ternyata lebih mudah direspon, anak-anak tidak pernah ada terlalu khawatir, anak-anak selalu bersemangat dengan hal baru, anak-anak tidak pernah memikirkan hasilnya. Kerjakan saja dulu, jalani saja dulu!

Awal agustus aku bermimpi, anak-anak berkumpul di lapangan kecil depan sekolah dan mereka upacara saat hari kemerdekaan tiba dalam mimpiku kulihat juga warga dusun Tanah Rata datang berduyun-duyun menyaksikan upacara bendera. Mimpi itu Indah sekali, lalu mimpi indah itu aku sampaikan kepada pak Ainun, bendahara sekolah yang bisa dianggap sebagai wakil kepala sekolah saat pak Suratmin tidak ada.

Reaksi beliau, “ya... susah... anak-anak kan tidak pernah tugas upacara. biasanya kita upacara ke Tambak (kecamatan), semua dipanggil kesana suruh upacara” aku tanya lagi apa biasanya anak-anak ikut, Pak Ainun menjawab beberapa anak ikut, tapi jarang ada yang mau karena suka mabuk atau pusing di tengah jalan, karena Tambak cukup jauh sekitar 1 jam dari Tanah Rata. Pembicaraan hari itu memberiku kesimpulan, bahwa sekolah menganggap membuat upacara bendera adalah tidak mungkin, karena selain belum pernah terjadi di sekolah dan saat ini adalah Ramadhan dan tidak ada dana untuk membuat lomba-lomba. 

Baiklah, setidaknya sampai tanggal 17 Agustus nanti anak-anak tahu sejarah kemerdekaan bangsa dan hafal lagu Indonesia Raya. Setiap hari aku membawa handphone yang ku isi lagu Indonesia Raya, sebelum mulai pelajaran, anak kelas 3-6 duduk-duduk di dhurung (pendopo), baca buku sambil mendengarkan lagu Indonesia raya dan Indonesia Pusaka yang ku ulang-ulang. Lama-lama mereka ikut bernyanyi. Karena guru-guru lain sering tidak ada, aku buat acara Cerdas Cermat Dhurung (C2D), aku bergaya seperti pembawa acara,  anak-anak pegang kertas dan pensil, menanti pertanyaan, pertanyaan mulai dari matematika sampai bahasa Inggris dan sejarah bangsa tentunya, banyak hal yang mereka belum tahu. Seperti nama Presiden pertama Indonesia mereka jawab “Soekarno Hatta” mereka tidak tahu kalau Soekarno dan Hatta adalah 2 orang yang berbeda dengan jabatan yang berbeda juga. Dari cerdas cermat selalu ku sisipkan cerita sejarah. Ini berlangsung selama satu minggu, sampai suatu hari.

Ku celetukkan ide Upacara Bendera Hari Kemerdekaan, tak kusangka waktu aku tanya “siapa yang mau jadi pemimpin upacara?” semua angkat tangan “Eshoooooon” (artinya saya), begitu aku tanya “siapa yang mau jadi pengibar bendera?” serempak mereka menjawab lagi “Eshoooooon” ku tanya lagi sambil menggerakan tangan “kalau yang mau jadi dirigen?” lagi-lagi mereka menjawab “Eshoooon” rupanya mereka tidak tahu kalau setiap orang hanya bisa menjalankan satu tugas. Dan setelah semua petugas terpilih sang pemimpin upacara bertanya “Bu, pemimpin upacara itu tugasnya apa bu?” diikuti pertanyaan serupa dari semua posisi. Aku menahan geli.

Setelah ku jelaskan satu-satu barulah mereka bereaksi “haaaaa elah bu... tak bisa eshon” tapi karena mereka pada dasarnya ingin mencoba, sedikit saja ku bujuk-bujuk mereka semangat, hari itu semua hanya belajar berbaris, membaca UUD 1945, belajar menyanyi lagu Indonesia dan Hari Merdeka.

Pak Ainun belum tahu anak-anak bersemangat, saat pak Ainun datang anak-anak langsung menyerbunya “Tad (Ustad), kita mau upacara Tad, tujuh belasan” Pak Ainun jadi ikut bersemangat, siangnya kita cari bambu untuk dijadikan tiang bendera.

Anak-anak sendiri yang membawa golok, kami menuju hutan, lalu memilih bambu untuk dijadikan tiang bendera, mereka bilang "ibu tidak usah ke sini, annati gatal" lucu sekali mereka melindungi ku, lalu kulihat mereka ramai-ramai menggotong bambu ke sekolah. guru-guru jadi turun tangan semua, memasang umbul-umbul dan bendera keramat yang hanya dikeluarkan setahun sekali untuk di pajang persis tanggal 17.

Tanggal 16 Agustus, kepala sekolah datang membawa berita duka untuk anak-anakku, tanggal 17 agustus, ada perinta bahwa semua guru harus upacara di kecamatan. dia minta upacara jadi penurunan bendera. aku memutar otak, tak mungkin anak-anakku yang baru kenal upacara harus latihan lagi dalam sekejab menjadi upacara penurunan bendera, yang ada bakal-acak-acakan.

berita ini, ternyata membuat anak-anak ngambek, mereka minta upacara tetap berjalan sesuai rencana, sebagian tidak mau jadi petugas. akhirnya aku minta izin kepada kepala sekolah untuk Upacara tanggal 18 agustus. bukan masalah upacaranya, sebenarnya ini hanya masalah belajar Upacara dan belajar mencintai Bangsa dan sejarah kita.

Aku kumpulkan dan ku bujuk para petugas bendera. Ku katakan pada mereka bahawa kita akan upacara tanggal 18 Agustus, mereka masih cemberut. lalu aku mulai berorasi. "anak-anak, siapa yang mengetik, teks proklamasi di tahun 1945?" mereka menjawab Sayuti Melik, aku tanya lagi. "siapa yang membacakannya saat itu?" masih cemberut tapi tetap menjawab "Sukarno" ku katakan pada mereka, kenapa mereka di kenang sampai sekarang? mereka diam.

aku lanjutkan, Ibu mengetik teks proklamasi untuk kalian, Ibu baca Proklamasi kemarin, tapi apa Ibu seterkenal Sayuti Melik atau Presiden Sukarno? mereka diam dan menggeleng. Karena mereka yang pertama melakukan itu, mereka yang pertama, mereka yang mempelopori, mereka membuat sejarah maka mereka dikenang. Mau kah kalian membuat sejarah di Dusun Tanah Rata seperti Presiden Sukarno dahulu? mari menjadi yang pertama mengibarkan bendera di Dusn Tanah Rata, mari menjadi yang pertama membaca Proklamasi, mari menjadi yang pertama menyanyikan lagu Indonesia Raya.

siapa yang Mauuuu?????

semua menjawab semangat "Akuuuuu" mereka tersenyum. aku? ah kalian sudah tahu reaksiku teman.

malam 18 agustus, usai solat terawih, aku minta bapakku yang ketua masjid mengumumkan bahwa besok ada upacara bendera di depan SD, dan semua warga harap datang.

tanggal 18 agustus, Usai sahur, anak-anak sudah mengingatkan aku, Ibu, nanti kita upacara ya... pagi-pagi aku berkeliling kampung, mengajak warga sekali lagi. beberapa sudah berpakaian rapi, mulai dari kelas 1 sampai kelas 6 berkumpul. menuju lapangan kecil depan SD. yang ku takutkan sekarang adalah, guru-guru apa bisa tepat waktu. akhirnya satu per satu bermunculan.

sesaat sebelum di mulai, petugas bendera menghampiriku, "Ibu, bagaimana kalau nanti salah? aku malu ibu, tak bisa bergerak nanti aku. gemetar" aku tersenyum memeluk mereka dan bilang "Ibu yakin kalian bisa karena sudah berlatih dengan sungguh-sungguh. kalau kalian salah, Ibu akan tetap bangga. semangat"

kepala sekolah ku tidak datang. ku minta PNS di sekolahku untuk ajdi pembina. beliau tidak mau, guru-guru lain? juga tidak mau. tidak ada satu pun yang pernah upacara. akhirnya aku yang menjadi pembina upacara.

semua berjalan lancar. mulus sekali, aku terharu sekali, ibu-ibu berkumpul di dhurung menyaksikan Upacara Bendera pertama di Dusun Mereka. anak-anak itu bukan hanya sedang belajar. mereka juga sedang mengajari semua orang untuk lebih cinta pada negaranya. Indonesia Raya berkumandang mengiringi bendera Merah Putih yang berkibar di angkasa Tanah Rata. Dusun Tanah Rata sudah Merdeka.

Cerita Lainnya

Logo Indonesia Mengajar
KONTAK

(021) 7221570
info@indonesiamengajar.org

ALAMAT

Jl. Senayan Bawah No. 17,
Kel. Rawa Barat, Kec. Kebayoran
Baru, Jakarta Selatan 12180

© 2020 Gerakan Indonesia Mengajar
Ikut Iuran