Sepeda Motor
Putri Lestari | 01 October 2011

Siapa yang percaya, aku bisa mengendarai sepeda motor? Benar benar di jalan raya, bukan hanya di seputaran Bumi Perkemahan Pramuka di Cibubur? Benar-benar di jam normal bukan di waktu orang sembahyang Tahajud atau saat para Jin buang anak? Siapa yang percaya? Bahkan diriku sendiri tidak percaya.

 

Setelah usia ku 17 tahun, aku mulai menagih janji ke Papa bahwa aku boleh belajar Mobil dan Motor, agak terlambat memang, tapi bukankah itu yang sesuai peraturan dan perundang-undangan, atau mungkin nyaliku memang belum muncul untuk memaksa orang tuaku mengajari aku mengendarai alat transportasi bermesin.

 

Bukan sekali dua kali aku belajar mengendarai motor, tapi entah kenapa menurut Mama, kalau dilihat stang motor selalu kelihatan bergetar seperti mau jatuh. Pernyataan itu memang ku benarkan, rasanya stang motor terlalu liar untuk dikendalikan. Dan aku tidak pernah benar-benar belajar. Lagi pula aku adalah penganut setia transportasi publik. Kenapa harus mengendarai motor ditengah terik matahari Jakarta atau dinginnya malam yang bikin sakit paru-paru basah kalau bisa tidur nyenyak di Bus atau Kereta. Aku rela ikut bus berputar sampai ke terminal supaya bisa dapat tempat duduk, atau ikut kereta Bekasi-Kota dari Stasiun Gambir menuju Kota untuk ikut kembali menuju Kota-Bekasi dan lagi-lagi melewati gambir. Memang menggunakan transportasi umum di Jakarta Raya memerlukan taktik dan strategi.

 

Tapi aku tetap belajar, sesekali, bukan hanya motor bahkan mobil, tapi lagi-lagi track record mengendarai motor yang terakhir hanya dari gerbang belakang Bumi Perkemahan Pramuka (Buperta) di Cibubur menuju Mc. Donald yang ada di samping gerbang depan Buperta. Prestasi tambahannya adalah, aku mengendarai motor di luar Pagar Buperta, bukan di dalam pagar, aku berada di jalan raya, bersama pengendara motor dan mobil lainnya. Kenapa aku berani??? Karena jam 2 pagi. Yak, tepat saat orang usai sembahyang Tahajud. Sungguh Prestasi.

 

Bahkan ada kejadian bodoh yang tak pernah ku lupa. Jam 2 bersama Kak Fitrah, teman sekaligus pelatih motor (dan mobil) ku. Dia lah yang menjadi saksi Prestasiku saat itu, dia ku bonceng dibelakang, sambil memberikan instrusksi kapan harus di gas, kapan harus di rem dan kapan harus pindah gigi. Saat melewati gerbang belakang Buperta, aku ingin seperti Papa yang selalu membunyikan klakson tanda permisi. Aku ingin begitu, tapi masalahnya aku tak tahu dimana letak klakson. Tak kurang akal, aku bunyikan klakson dari mulutku. “Permisi Pak, tiiiiiin...tiiiiiin” Kak Fitrak ketawa kepingkal-pingkal “Lu, gak tau, ngebunyiin rem?” belakangan aku juga baru sadar, aku tidak tahu bagaimana menyalakan lampu sen.

 

Yang punya motor, gak kalah jantungan, begitu melihatku kembali dia langsung bilang “alhamdulilah, ini motor belum lunaaaas” sambil menghela nafas yang sejak aku berangkat mungkin dia tahan.

 

Masalah lain yang membuat orang tak percaya aku bisa mengendarai sepeda motor atau mobil adalah masalah kiri dan kanan, yak, aku masih suka bingung dan tertukar mana kiri dan kanan, sampai setiap kali jadi pemandu wisata aku selalu memberikan coretan kecil di kedua tanganku supaya aku bisa cepat bilang “Bapak dan Ibu di sebelah kanan anda adalah....” tanpa harus berpikir lama.

 

Tapi menjadi warga dusun tanah rata memaksaku harus bisa mengendarai motor, selama 3 bulan ini, mobilisasiku bergantung pada Tidar, temanku sesama PM Bawean yang rumahnya berjarak 15 menit jalan kaki dari tempatku, atau bergantung pada Adik angkatku, Ushul atau tetanggaku Ela. Tapi mereka tak selalu ada tentunya, sering sekalia ada motor tapi tidak ada yang mengantar. Padahal sering aku harus menemui orang-orang di balai desa.

 

Mulai dari memberanikan diri membawa motor disekitaran kecamatan Tambak yang jalannya hanya lurus-lurus saja, membawanya ke pasar yang dipenuhi banyak orang, sampai akhirnya aku memberanikan diri mengantar Icha (sesama PM Bawean) ke Dusunnya yang bernama Pinang Gunung, seperti namanya, Dusun ini benar-benar diatas gunung. Jalannya menanjak tinggi, dua kali icha harus turun karena aku gagal mengendalikan liarnya stang.

 

Tapi akhirnya sampai, dan aku bisa turun lagi dengan selamat sampai ke Tambak (kecamatan). Ini Prestasi emmbuatku melongok. Aku tidak percaya pada kemampuanku sendiri selama ini rupanya. Prestasipaling hebat dan bersejarah adalah pagi ini. Aku harus memfoto copy soal ulangan matematika untuk nanti siang, aku coba pergi ke rumah Ela, rupanya dia sedang ke hutan cari pakan sapi. Yang ada hanya motor dan kuncinya yang memnaggil-manggil diriku.

 

Dengan izin Bapak angkatku, aku berangkat ke Kepu, yang perlu kalian tahu, Dusunku tak kalah tinggi dengan Pinang Gunung. Dusun Tanah Rata, berada di tempat yang tidak rata. Inilah dusun teratas (karena letaknya bukan prestasinya) yang ada di Desa Kepuh Teluk. Perjalanan ke Bawah, tak kalah terjal berliku dengan komposisi kanan tebing dan kiri jurang. Perjalanan menuju Kepu ini ku tempuh selama 35 menit. Oh ya, jalannya juga Off Road lho. Yak aku berhasil sampai kepu dan berhasil kembali naik ke dusun Tanah Rata.

 

Hari itu adalah hari bersejarah, dimana aku menaklukkan ketakutan ku dan keragu-raguanku, hari dimana aku mengalahkan liarnya sepeda motor. Menjadi Pengajar Muda selalu memaksaku untuk selalu bisa. J 

                    

Cerita Lainnya

Logo Indonesia Mengajar
KONTAK

(021) 7221570
info@indonesiamengajar.org

ALAMAT

Jl. Senayan Bawah No. 17,
Kel. Rawa Barat, Kec. Kebayoran
Baru, Jakarta Selatan 12180

© 2020 Gerakan Indonesia Mengajar
Ikut Iuran