OSK 2012
Putri Lestari | 25 March 2012

10 hari sebelum berangkat berlayar ke pulau jawa untuk Olimpiade Sains Kuark, aku memberikan daftar barang yang harus dibawa kepada dua siswiku yang akan mengikuti perlombaan tersebut. Keesokkan harinya dengan semangat melaporkan, semua barang yang kutulis sudah masuk kedalam tas. Tentu aku tercengang karena hari keberangkatan masih 9 hari lagi. Namun kemudian aku tersadar, pengalaman keluar pulau Bawean ini akan menjadi yang pertama bagi mereka, senangnya bukan kepalang.

Hari berganti akhirnya hari yang dinanti datang juga, jam 6 pagi kami berangkat, diantar keluarga masing-masing menuju pelabuhan sangkapura. Satu jam kemudian kami tiba, satu per satu, siswa dari sekolah para PM berdatangan dengan keluarga masing-masing, bahkan ada yang diantar satu keluarga, mulai dari orang tua sampai kakek neneknya. Untuk beberapa keluarga, hal ini adalah bagian dari sejarah keluarga mereka, dimana anak mereka berlayar bukan untuk kerja di Malaysia tapi untuk bertarung secara akademik di puau Jawa.

Beberapa saat sebelum kapal berangkat, beberapa anak menangis, ada yang takut, ada yang rindu emaknya, bapaknya, sapinya dan lain sebagainya. Untungnya Nain dan Linda sibuk melihat ini dan itu, tak ada yang terlihat duka sedikit pun, sehingga aku bisa membantu teman-teman PM lain yang siswanya menangis lebih dari satu.

3 jam perjalanan, sebagian besar anak terlelap dibawah pengaruh obat anti mabuk yang aku wajibkan minum sebelum berangkat tadi. Menjelang sampai, mereka mulai terbangun, sudah lupa dengan sapi dan dusunnya masing-masing, mata mereka langsung menatap jendela lekat-lekat melihat kapal-kapal besar yang kami lewati.

“Hadaaah.... Rajana....” (aduh, besarnya), “gagahna...” (Bagusnya), “Kapal apa itu ibu?”, “Kok ada asapnya ibu?”, “itu kapalnya jalan ibu?” beragam pertanyaan bertubi-tubi menimpa kami, ada yang mudah dijawab, ada pula yang tak bisa aku jawab sama sekali. Akhirnya, kapal pun segera merapat.  

Di Gresik, teman-teman @infoGresik sudah menunggu kami dengan sebuah Bus AC yang menyenangkan, lagi-lagi anak-anak kami diperkenalkan kepada sebuah transportasi baru dan besar serta dingin pula. Di Bawean, mereka cuma pernah naik macam transportasi, yakni motor dan kol. Kol adalah sebutan angkutan penumpang di bawean. Semacam mobil bak terbuka yang diberi kerangka atap dan kursi besi. Mirip-mirip oplet Si Doel.

Tiba di Wisma Pramuka, kami segera membagi kunci kamar, mereka tidur di campur. Anak-anak dari beberapa sekolah, berkumpul di jadikan satu agar mereka memiliki teman baru. Ternyata keakraban cepat sekali terjalin diantara mereka. Mereka mandi dan beristirahat sampai usai magrib.

Setelah magrib, kami pergi ke sebuah pusat perbelanjaan elit di Surabaya, tak bermaksud membuat mereka menjadi konsumtif, tetapi kami ingin memperkenalkan teknologi yang bernama lift dan tangga jalan. Begitu masuk, wajah mereka terbelalak “tempat apa ini, Bu?” aku jelaskan pada mereka bahwa ini tempat orang berbelanja. Lalu kami mengajak anak-anak menuju lift. Saat mereka masuk, semua tegang karena tidak tahu apa yang akan terjadi. Begitu lift bergerak, ada yang tersenyum lebar, ada yang berwajah panik, ada yang menggenggam tanganku erat-erat dan ada yang mual.

Tujuan kami hanya satu, toko buku. Tak lama di toko buku, kami turun dengan menggunakan eskalator, pengalaman bereskalator ternyata tak semudah naik lift. Di depan tangga jalan, mereka terdiam terpaku tak berani melangkah. Beberapa pengunjung antri di belakang kami, sampai akhirnya kami persilahkan menggunakannya terlebih dulu. Beberapa anak berani melangkah, dan urusan selesai. Beberapa anak, tetap beku kakinya. Aku menggenggam tangan seorang anak, dingin seperti es. Aku yakinkan dia untuk percaya padaku dan melangkah bersama ku. Aku menghitung “satu, dua, tiga ...” dan kaki ku melangkah. Aku mulai turun, tapi tak ada anak disebelahku, ku lihat ke atas dan dia masih terpaku di sana. Untunglah akhirnya ada pengunjung baik hati yang menggendong dia turun. Jantung ini rasanya mau copot setiap kali ada anak yang melangkah turun.

Usai menjajal teknologi, kami kembali ke wisma, bertemu dengan kakak-kakak Penyala Bawean yang baik hati. Berkenalan dengan mereka dan dilanjutkan tidur. Keesokan paginya, kami siap-siap untuk berangkat ke Pasuruan, tujuan kami adalah Taman Safari II Prigen. Perjalanan yang panjang nan berliku  membuat beberapa anak-anak menyerah K.O di Bus. Tapi semua terbayar saat mereka menikmati beragam satwa yang tak pernah mereka lihat. Bahkan aku pun tak pernah melihatnya. Setiap ada satwa baru, pasti pertanyaannya adalah “Apa itu bu?” aku pun cukup sering menjawab “Sebentaaaar yaa..., tulisannya belum kelihatan” hehhe... bu guru harus jujur kalau tidak tahu kan...

Setelah acara sight seeing satwa, kami turun dari bus dan mengeksplorasi kembali beragam permainan, foto bersama Claudia si Orang Utan dan Naik Gajah. Terakhir, kami menuju Pertunjukan lumba-lumba, melihat anak-anak tak berhenti tertawa, bertepuk tangan dan gembira seperti itu, aku merasa kebagahagiaan memuncak dan keluar lewat air mata. Ya aku menangis ditengah riuhnya tawa mereka. Rasanya terbayar semua perjuangan membawa mereka ke ibukota. Kami pulang dengan segudang cerita, tak henti-tentinya mereka berceloteh tentang ini dan itu.

Kembali ke wisma, agendanya hanya belajar dan tidur, mempersiapkan Olimpiade Sains Kuark. Inti dari perjalanan ini. Tak disangka anak-anak berkumpul sesuai dengan level masing-masing belajar kembali dari majalah kuark. Bahkan kelika listrik di wisma padam, mereka dengan cekatan mengambil senter, tak satupun mengeluh.

Keesokannnya, kami dijemput dengan angkot carteran menuju tempat perlombaan yang ternyata disebuah sekolah megah bernama IPH. Angkot kami terparkir disebelah mobil seharga hampir 1 milyar, anak-anak turun dengan gagahnya, tidak ada yang malu apalagi minder? Ketika lomba dimulai ternyata ada satu hal yang lupa kami siapkan, yaitu Jaket. Kelas tempat mereka mengerjakan soal se dingin kulkas. Aku lihat beberapa anak menggigil. Sampai pengawasnya dalam kelasnya pun ikut prihatin, tapi kelas itu menggunakan AC central tidak ada pengaturnya di dalam kelas. Anak-anak pun harus bertahan sampai usai. Semoga dinginnya ruangan tidak membekukan pikiran mereka.

Usai lomba, kami bertanya “Bagaimana pertanyaannya? Susah tidak?” linda dan menjawab “Ada yang susah, ada yang gampang bu!” aku tanya lagi, banyakan susahnya apa gampangnya?” jawaban Nain “Banyak juga yang gampang” diplomatis. Tapi menang atau kalah bukan inti dari perlombaan ini. Berani berkompetisi dengan jujur adalah yang utama.

Cerita Lainnya

Logo Indonesia Mengajar
KONTAK

(021) 7221570
info@indonesiamengajar.org

ALAMAT

Jl. Senayan Bawah No. 17,
Kel. Rawa Barat, Kec. Kebayoran
Baru, Jakarta Selatan 12180

© 2020 Gerakan Indonesia Mengajar
Ikut Iuran