Musuh Dalam Selimut
Putri Lestari | 15 May 2012

Sebenarnya aku tidak tahu persis dimana musuh yang ini berada, apakah memang di balik selimut, dibalik bantal atau di balik seprai? Aku benar-benar tidak tahu. Aku bahkan tidak tahu bentuknya, warnanya atau wujudnya, yang aku tahu hanya namanya. Tapi sejak minggu ke-2 aku ada di dusun ini, aku sudah menyatakan perang. Dan perang itu belum juga usai sampai saat ini.

Selang beberapa bulan, baru aku tahu, ternyata pernyataan perang ini bukan hanya terjadi di dusun ku tapi juga di dusun Bala Bawean yang lain, tepatnya di dusun teman ku Icha dan Hety. Sampai tulisan ini di posting, kami bertiga belum pernah memenangkan perang.

Dialah TONGO, serangga yang tak pernah kami lihat wujudnya, tak pernah bisa kami sadari saat dia menggigit kami sampai kulit terasa perih, gatal dan terasa terbakar lalu menghitam dan tetap gatal. Menurut ibu angkat ku, Tongo berukuran sangat kecil, sekecil serbuk tepung.

Kami mencoba memberantas Tongo dari tubuh kami dengan berbagai cara, yang pertama adalah dengan Minyak Tawon, sejak kecil aku percaya keampuhan Minyak asal Makassar itu, tapi nampaknya kali ini Minyak Tawon harus berteluk lutut. Lalu kami oleskan beragam balsam-balsaman yang ternyata juga berakhir pahit. Lalu kami ke apotek untuk mendapatkan obat sakit kulit nomor satu yang konon mempu menghilangkan panu, kadas dan kurap hanya dengan sekali oles. Aku agak ragu karena dia tak mencantumkan gigitan serangga atau Tongo, tapi segalanya patut dicoba. Benar saja, hasilnya nihil. Lalu Hety menemukan Caladine cair dan konon mampu menghilangkan Tongo. Benda ini lumayan mengurangi gatalnya namun tetap saja tak menuntaskannya.

Ketika Tomcat marak diperbincangkan, kami jadi membanding-bandingkan kejahatan kedua serangga itu. Seorang anak bahkan bertanya “Apa hubungan Tongo dan Tomcat? Apa mereka bersaudara?” kesimpulan ku hanya bisa sampai “Tongo kalah populer dibanding Tomcat” (sungguh tidak ilmiah sodara-sodara).

Tongo juga membuat kami kreatif. Setiap kali ada Tongo baru di badan kita, Icha akan bernyanyi

 

“Bertambah satu Toooongo,

bertambah satu T.O.N.G.O

Gatal, gatal, gatal, yang ku rasakan,

Bertubi-tubi yang kau berikan”

 

Menyanyikan syair ini harus dilengkapi dengan cengkok melayu yang khas. Dan kepada PM 4 akan ku nyanyikan lagu perkenalan

“Jika ada yang bilang Tongo baik jangan kau dengar.

Jika ada yang bilang Tongo gatal baru kau dengar,

Banyak cara yang telah ku coba, sia-sia

Tongo tetap saja datang lagi... wo wo”

 

Nyanyikan dengan nada lagu BCL yang aku lupa judulnya.

 

Teman, itulah seklumit cerita tentang ‘Musuh dalam Selimut’ semoga sebelum aku pulang kami bisa berjumpa dan berbicara empat mata secara baik-baik, agar tidak ada dendam yang tersisa di jiwa. (Ngawur).

Cerita Lainnya

Logo Indonesia Mengajar
KONTAK

(021) 7221570
info@indonesiamengajar.org

ALAMAT

Jl. Senayan Bawah No. 17,
Kel. Rawa Barat, Kec. Kebayoran
Baru, Jakarta Selatan 12180

© 2020 Gerakan Indonesia Mengajar
Ikut Iuran