Dihormati tanpa Ditakuti
Priscilladeni | 01 April 2016

Di sekolah saya bertugas, terdapat seorang tokoh yang saya kagumi yakni Bapak Frengki Alwolka. Bapak Frengki adalah wakil kepala sekolah yang menjalankan tugas sebagai kepala sekolah karena kepala sekolah kami sedang tugas belajar di Jayapura. Hal unik dari Bapak Frengki adalah beliau bukanlah penduduk asli Pepera, beliau berasal dari distrik lain namun bersedia mengajar di Pepera. Bapak Frengki adalah sarjana agama yang menjadi guru agama di sekolah sekaligus tokoh agama yang disegani di masyarakat. Setiap hari Minggu, bel gereja tanda ibadah akan segera dimulai dibunyikan oleh Bapak Frengki dan beliau sendirilah yang memimpin ibadah dalam dua bahasa yakni bahasa Ngalum dan bahasa Indonesia. Beliau berharap dengan demikian, masyarakat yang masih kesulitan berbahasa Indonesia menjadi lebih mengenal bahasa nasional.

Bapak Frengki sekalipun disibukkan dengan berbagai urusan lain seperti administrasi sekolah dan keagamaan masyarakat juga sangat dekat dengan para siswa terbukti dari hafalnya beliau akan nama seluruh siswa yang berjumlah ratusan. Hal menarik yang pernah saya lihat, setiap pagi setelah bel sekolah dibunyikan dan sebelum masuk ke kelas, para siswa selalu dibariskan di lapangan dan Pak Frengki mengecek kehadiran para siswa per kelas yang merupakan wujud perhatian Bapak Frengki terhadap para siswanya. Selain itu, saat anak-anak bermain di jam istirahat, Bapak Frengki juga tidak segan ikut bermain bersama mereka. Bentuk perhatian lainnya dari Bapak Frengki di lingkungan sekolah adalah ketika kami pertama kali tiba di desa, beliau mengajak anak-anak, para guru dan masyarakat desa untuk membantu membangun dapur bagi kami. 

Momen lain yang berkesan adalah saat kami berniat menyelenggarakan upacara bendera perdana, Pak Frengki langsung berinisiatif mendirikan tiang bendera bersama anak-anak dan melatih anak-anak lagu wajib nasional. Selain itu, Bapak Frengki juga bersedia menjadi pembina upacara bendera pertama kami. Ada kata-kata beliau yang saya ingat dimana beliau mengapresiasi para petugas dan peserta upacara dari seluruh kelas yang telah bersedia berpartisipasi dan melakukan tugasnya dengan baik. Beliau mengatakan, “Senang sekali melihat kelas kecil maupun kelas besar sudah berani menjadi petugas upacara. Tepuk tangan untuk kalian yang sudah melaksanakan upacara dengan baik. Sekalipun masih ada kesalahan, anak-anak tidak perlu takut salah tetapi harus terus memiliki keinginan untuk belajar.”

Singkatnya, saya mengagumi sosok beliau yang dapat dihormati tanpa perlu ditakuti oleh siapapun.

Cerita Lainnya

Logo Indonesia Mengajar
KONTAK

(021) 7221570
info@indonesiamengajar.org

ALAMAT

Jl. Senayan Bawah No. 17,
Kel. Rawa Barat, Kec. Kebayoran
Baru, Jakarta Selatan 12180

© 2020 Gerakan Indonesia Mengajar
Ikut Iuran