Selamat Datang!
Okkie Pritha Cahyani | 07 November 2015

Masih teringat jelas hari itu. Seorang anak perempuan ku lihat ikut berbaris di barisan kelas III saat apel pagi. Ini kali pertama aku melihatnya. Selasa, 20 Oktober 2015. Dia seperti murid-murid lainnya. Berkulit gelap, posturnya juga tidak terlalu tinggi atau terlalu pendek. Tingginya sesuai dengan ukuran anak sebayanya. Jam di tanganku menunjukkan pukul 07.30. Apel pagi selesai dan semua murid kembali ke kelas masing-masing.

"Halo, murid baru ya? Siapa namanya?"

Dia menatapku. Tapi tak ada satu kata pun yang terucap darinya. Ku ulangi pertanyaanku, "Kamu namanya siapa?"

"Enci, dia dari Filipin. Enggak mengerti bahasa Indonesia, Enci. Dia bisanya bahasa Filipin sama bahasa Sangir (bahasa daerah Sangihe), Enci. Arenge Christa (namanya Christa), Enci," celetuk salah satu muridku.

Kalau di film kartun, sudah pasti ada petir yang menyambar di atas kepalaku seketika. Aku terdiam beberapa saat. Empat bulan berada di sini, belum membuatku lancar berbahasa daerah apalagi Tagalog, bahasa Filipina. Dan sekarang aku dihadapkan dengan murid yang tidak mengerti bahasa Indonesia. Selamat datang di sekolah kehidupan yang sebenarnya, Okkie!

"Oh oke, dang. Kalau begitu, Alya duduk dekat dengan Christa. Nanti kalau Enci menerangkan dengan bahasa Indonesia, kamu jelaskan ke Christa dengan bahasa Sangir ya," ungkapku kemudian.

"Yahh, Enci. Kenapa harus saya yang ajarin? Kalau guru lain enggak boleh kalo kita mau kasih ajar begitu ke teman,"

Aku menghampiri Alya. "Alya, nanti semua teman-teman juga bersama-sama kasih ajar ke Christa. Nah sekarang Alya dulu ya. Kalau sama teman harus mau berbagi. Kalau temannya enggak mengerti, harus dikasih ajar. Biar sama-sama bisa, sama-sama naik kelas. Kan pasti senang rasanya kalau semua bisa naik kelas."

"Enci, tapi kan saya bukan guru. Enci yang guru. Saya kan murid, masa saya mengajari."

"Alya, mengajar itu bisa dilakukan siapapun. Enggak cuma guru di sekolah aja. Coba liat di perahu cita-cita. Katanya cita-cita kamu mau jadi guru? Nah, dari sekarang boleh belajar jadi guru kecil, ya?"

Akhirnya aku melihat juara kelas itu tersenyum lebar dan mengangguk mantap. Lega rasanya bisa membuat dia mengerti.

Selalu ada hal baru yang ku temui setiap hari berganti. Beberapa kali anak-anak ini melontarkan pertanyaan polos seperti, "Enci, kalau di Solo apa warna benderanya? Oh saya kira kalau di jawa itu udah bukan Indonesia"; "Enci, apa itu telepon koin? Koin itu apa?"; "Enci, di TV kemaren ada sepeda bisa naik-naik di atas gedung. Kalau di Jakarta bisa begitu ya Enci?"; "Enci, Putri duyung di laut kan ya?". Tak jarang aku pun kewalahan menjawab pertanyaan mereka. Tapi sungguh, kesederhanaan dan kepolosan yang mereka miliki adalah bagian dari kebahagiaan yang sampai sekarang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Intinya, aku bahagia melihat mereka setiap pagi menyebrang laut dengan perahu agar bisa masuk sekolah. Aku bahagia bisa melihat mereka bercerita tentang laut, tentang permainan yang mereka mainkan di desa tanpa sinyal dan listrik ini, dan semua hal tentang keseharian murid-muridku.

Akhirnya aku mengerti. Ada yang ingin Tuhan titipkan untukku belajar dan belajar lagi melalui setiap celah proses kehidupanku. Mulai dari bertemu anak-anak dan belajar bahagia secara sederhana hingga bertemu dengan orang-orang baru yang terkadang menguji kesabaran dan kematangan dalam mengambil keputusan. Selalu ada banyak cara untuk belajar menjadi lebih baik.

Cerita Lainnya

Logo Indonesia Mengajar
KONTAK

(021) 7221570
info@indonesiamengajar.org

ALAMAT

Jl. Senayan Bawah No. 17,
Kel. Rawa Barat, Kec. Kebayoran
Baru, Jakarta Selatan 12180

© 2020 Gerakan Indonesia Mengajar
Ikut Iuran