Halo, Indonesia. Halo, Kawio!
Okkie Pritha Cahyani | 01 July 2015

“Tanah air ku tidak ku lupakan. Kan terkenang selama hidupku. Biarpun saya pergi jauh, tidak kan hilang dari kalbu. Tanah ku yang ku cintai, engkau ku hargai..”

Potongan lagu yang berjudul “Tanah Air” terdengar dari sudut Bandara Soekarno-Hatta. Tak seperti biasanya, bandara ini dipadati pemuda dan pemudi yang sibuk berfoto, bercengkrama sambil membawa trolley berisi tumpukan carrier. Mereka yang mengenakan rompi bertuliskan “Indonesia Mengajar” di bagian belakangnya itu adalah Pengajar Muda X. Pagi itu mereka siap diberangkatkan ke desa penempatannya masing-masing. Aku adalah salah satu dari mereka. Berada di antara mereka sambil menatap raut wajah penuh haru, membuat langkahku terasa berat. Waktu menunjukkan pukul 05.00 WIB. Aku memeluk satu per satu Pengajar Muda X. Sambil membayangkan senyum ayah dan ibuku, akhirnya ku langkahkan kaki memasuki lorong keberangkatan. Hari itu semuanya akan mulai saling merindu satu dengan yang lain. Hari itu semuanya akan meniti kehidupan baru. Hari itu akan menjadi titik awal dimulainya sebuah perjuangan baru. Ya, di hari itu. Minggu, 14 Juni 2015. Selamat berjuang dan sampai bertemu satu tahun ke depan, kawan! 

Aku ditempatkan di Kepulauan Sangihe, wilayah paling utara di Indonesia. Malam itu, 20 Juni 2015. Kapal Meliku membawaku menuju pulau yang berdekatan dengan gunung api bawah laut terbesar di dunia. Pulau Kawio. Ya, sebuah pulau yang berbatasan dengan Filipina. Bahkan dari beberapa spot di Pulau Kawio, negara itu terlihat cukup jelas. Filipina memang bisa ditempuh dengan 4 jam perjalanan saja dari Kawio.

Keesokan harinya aku tiba di Kawio. Tepat pukul 11.00 WITA. Cuaca di Kawio cukup bersahabat. Dermaga dengan panjang 300-an meter menyambut kedatanganku. Ternyata memang tidak perlu pergi ke luar negeri untuk bertemu pantai yang eksotis. Cukup di Indonesia. Karena di Kawio, aku bisa melihat hamparan laut biru dengan batu karang dan gerombolan ikan berwarna-warni yang terlihat dengan jelas ketika air surut. 

Bersamaan dengan kedatanganku, beberapa anak berlari menghampiri dan mencium tanganku.

"Enci Okkie ya?" sapa mereka sambil membantu membawa barang-barangku yang menumpuk di dermaga.

Sebentar. Mereka menyapaku di hari pertama aku sampai di Kawio? Ya, rupanya Pengajar Muda VIII sudah menceritakan tentangku. Lelah perjalanan 12 jam yang sudah ku tempuh untuk menuju Kawio rasanya tidak lagi terasa ketika ku lihat semangat anak-anak yang terpancar dari rautnya. 

Aku percaya. Ini bukan sekadar pengabdian. Ini adalah sebuah tanggung jawab. Bergerak, bukan hanya berbicara. Turun tangan, bukan hanya memprotes kebijakan yang ada. Keterbatasan anak di pelosok negeri bukan menjadi alasan untuk mereka tetap bermimpi. Lokasi geografis yang jauh dari kehidupan kota, bukan sebuah halangan untuk terus bersekolah. Karena bagaimana pun, anak-anak Indonesia harus mendapatkan pendidikan yang layak. Tidak peduli dimana tempat tinggal, usia, status sosial ekonomi mereka atau keterbatasan lainnya.

365 hari ke depan aku akan belajar banyak hal dari anak-anak di tempat ini

365 hari ke depan aku akan belajar menjadi pengajar yang dicintai murid-muridku

365 hari ke depan aku akan belajar menumbuhkan mimpi anak-anak di tempat ini

365 hari ke depan aku akan belajar hidup bersama masyarakat Sangir

365 hari ke depan aku akan belajar berbahasa Sangir

365 hari ke depan aku akan mendengarkan banyak hal di tempat ini

365 hari ke depan aku akan belajar di sekolah kehidupanku ini. Ya di Kepulauan Sangihe.

So mahe, Kaikehage. Sangihe!

(Sekali layar terkembang, pantang mundur)

Cerita Lainnya

Logo Indonesia Mengajar
KONTAK

(021) 7221570
info@indonesiamengajar.org

ALAMAT

Jl. Senayan Bawah No. 17,
Kel. Rawa Barat, Kec. Kebayoran
Baru, Jakarta Selatan 12180

© 2020 Gerakan Indonesia Mengajar
Ikut Iuran