Bahagia. Titik.
Okkie Pritha Cahyani | 07 September 2015

"Enci saya mau belajar terus biar bisa seperti kakak-kakak mahasiswa. Saya enggak mau seperti kakak saya, Enci"

Aku terdiam sejenak sebelum akhirnya aku bertanya, "memang kakak kamu kenapa?"

"Kakak saya cuma sampai SD, Enci... Saya maunya sekolah terus."

"Putra, jangan takut bermimpi. Enci yakin kamu pasti bisa terus bersekolah dan jadi anak yang sukses kalo kamu mau"

Putra mengangguk mantap. Bahagia. Itu satu kata yang bisa menggambarkan bagaimana suasana hati seorang guru ketika percakapan tadi terjadi. Dan malam itu menjadi potret semangat anak ujung utara negeri yang ingin terus berjuang. Ya malam itu, tepat di tanggal 17 Agustus 2015.

51 mahasiswa dari perguruan tinggi swasta di Tahuna baru menyelesaikan KKN di desaku tempo hari. Siapa yang menyangka, ternyata keberadaan 2 minggu mahasiswa tadi membekas di hati muridku. Dalam sekejap, muridku yang sempat diajari cara memakai laptop, mulai menggambar keyboard di bukunya. Tak hanya itu, mereka juga mulai banyak bertanya kepadaku tentang fungsi-fungsi keyboard serta menu yang ada dalam desktop.

Ternyata seperti ini rasanya menjadi seorang guru...

Percayalah. Sebelumnya aku pikir menjadi pengajar cukup dengan mentransfer ilmu ke murid dan selesai lah tugasku. Tapi ternyata ada hal yang jauh lebih penting dibandingkan mentransfer ilmu. Siap menjadi guru, berarti siap menguatkan tangan anak-anak, agar mereka bisa menggenggam mimpinya. Mau menjadi guru, berarti mau menjadi bahan bakar yang siap mengisi tangki motor yang dikendarai anak-anak untuk mencapai mimpinya. Kapan saja, dalam keadaan hati apa pun.

Dari anak-anak muridku, aku belajar beberapa hal, baik dari kebahagiaan (yang sering kali tercipta dari hal sederhana) maupun kepahitan hidup yang ku temui di tempat ini. Ketika langit gelap karena mendung, anak-anak tak berpikir panjang untuk tetap keluar dan bermain. Mereka melepaskan sendal dan berlari sambil menggiring ban bekas dengan sepotong kayu. Ketika hujan tiba-tiba turun, mereka tetap berlarian sambil tertawa bersama. Apabila angin mulai kencang, satu per satu berteduh atau pulang ke rumah. Mereka selalu tau kapan harus pulang. Coba bandingkan apa yang kadang terjadi dengan orang-orang dewasa ketika langit gelap? Beberapa dari mereka memutuskan untuk menunda pergi, menimbang-nimbang lagi untuk beranjak dengan berbagai pertimbangan dan kekhawatiran yang mungkin belum tentu terjadi.

Jika remaja kerap dilanda galau karena cinta, di sini ku temui anak-anak yang masih tetap tersenyum meski setiap pagi mereka tidak sarapan karena tidak ada makanan. Jika anak-anak di kota merengek meminta dibelikan gadget, di sini ku temui anak-anak yang menangis ketika angin kencang tidak bisa membuat perahunya pergi mengantar mereka bersekolah. See? Everyone create their own happiness. Selalu ada celah untuk tetap bahagia dan bersyukur meski dalam keadaan sulit sekalipun. Berusahalah untuk bahagia. Iya, bahagia, titik.

Cerita Lainnya

Logo Indonesia Mengajar
KONTAK

(021) 7221570
info@indonesiamengajar.org

ALAMAT

Jl. Senayan Bawah No. 17,
Kel. Rawa Barat, Kec. Kebayoran
Baru, Jakarta Selatan 12180

© 2020 Gerakan Indonesia Mengajar
Ikut Iuran