YEBMUM ! PEGUNUNGAN BINTANG
Nadiatulkhair | 04 December 2016

 

Yebmum !

Tidak terasa sudah hampir setahun sudah saya berada di pulau paling timur Indonesia, Papua. Banyak hal yang ingin saya ceritakan, saya akan mulai dari Kabupaten Pegunungan Bintang, Kabupaten penempatan saya yang baru pertama kali saya dengar ketika menjadi Calon Pengajar Muda, Indonesia Mengajar.

Jika Korea punya Annyeong Haseyo, Thailand punya Sawadika, India punya Namaste dan Siaran Dahsyat punya Salam Hangat Terdahsyat, maka Pegunungan Bintang punya Yebmum. Ya, Yebmum adalah Bahasa Ngalum yang artinya Salam. Bahasa Ngalum adalah salah satu bahasa daerah yang mayoritas digunakan di Pegunungan Bintang.

Kab. Pegunungan Bintang yang biasa kami singkat dengan Pegbin adalah salah satu kabupaten di Provinsi Papua yang terletak di kawasan pegunungan sekitar 4000 kaki di atas permukaan laut. Kabupaten ini adalah hasil dari pemekaran Kabupaten Jaya Wijaya pada tahun 2002. Pegbin terdiri dari 34 distrik dengan ibukota Oksibil, ada beberapa distrik yang berbatasan langsung dengan Negara Papua Nugini. Ada dua suku besar yang mendiami Pegbin yaitu Suku Ngalum dan Suku Ketengban. Mayoritas masyarakat beragama Katolik dan Kristen Protestan. Sumber perekonomian utama masyarakat adalah di bidang pertanian dan perkebunan. Hasil alam di Pegbin cukup beragam, mulai dari umbi-umbian, sayur-sayuran dan kopi. Kopi Pegbin adalah salah satu kopi yang terkenal di Papua. Secara umum makanan pokok warga adalah boneng (ubi jalar) dan om (keladi). Namun di Oksibil, nasi sudah menjadi makanan pokok warga. Untuk masak masyarakat menggunakan kayu bakar. Sedangkan untuk air sendiri masyarakat mengandalkan air hujan dan air sungai.

Jika sebagian orang masih berpikir bahwa masyarakat Papua tidak menggunakan pakaian, maka hal itu tidak berlaku di Pegbin, semua masyarakat sudah menggunakan pakaian dari anak kecil hingga orang dewasa, namun secara umum masyarakat masih belum terbiasa menggunakan alas kaki. Koteka atau di Pegbin biasa disebut Okbul adalah pakaian adat laki-laki sedangkan pakaian adat perempuan disebut Unom. Unom adalah rok yang terbuat dari daun unom yang dikeringkan. Biasanya masyarakat menggunakan pakaian adat ketika ada acara adat sekaligus menampilkan tarian-tarian daerah sepertI Oksang, Jambir, Limne. Sedangkan senjata asli masyarakat Pegbin adalah Busur atau Ebon. Salah satu hal yang menarik ketika saya pertama kali datang ke negeri paling timur Indonesia ini adalah cara masyarakat untuk berjabat tangan. Jika biasanya kita berjabat tangan hanya dengan menggenggam tangan maka masyarakat Papua akan menambahkannya dengan menjepit jari telunjuk orang yang berjabat tangan dengan dirinya menggunakan jari telunjuk dan jari tengah lalu ditarik hingga mengeluarkankan bunyi , jika tidak mengeluarkan bunyi maka mereka akan mengulanginya lagi.

Semua bangunan yang ada di Pegbin terbuat dari kayu, mulai dari rumah-rumah hingga perkantoran. Rumah adat Pegbin terbagi menjadi dua, rumah adat bagi laki-laki disebut Bokam sedangkan untuk perempuan disebut Sukam. Bokam biasanya berisi benda-benda adat dan yang boleh masuk ke Bokam hanya laki-laki saja, sedangkan sukam biasa digunakan untuk tempat melahirkan bagi perempuan dan tempat menginap bagi perempuan yang sedang haid. Namun tidak banyak lagi Bokam dan Sukam yang ada di Pegbin.

Kondisi geografis yang terletak di pegunungan mengakibatkan tidak adanya jalur darat menuju Pegbin. Perjalanan menuju Pegbin hanya bisa dilakukan menggunakan pesawat. Saat ini hanya ada dua maskapai yang melayani penerbangan dari Sentani (Jayapura) – Oksibil yaitu Trigana Air dan AMA. Enam bulan pertama saya berada disini hanya ada satu maskapai Trigana Air yang melayani penerbangan sedangkan satu pesawat Trigana lainnya mengalami kecelakaan tahun lalu. Ketika saya pertama kali menuju Oksibil bahkan badan pesawat dibagi menjadi dua bagian, bagian depan untuk barang dan bagian belakang untuk penumpang, hanya 15 penumpang dari sekitar 50 muatan pesawat. Nomor bangku pesawat tidak berlaku disini, kita bisa duduk dimana ada kursi yang tersedia. Ada satu bandara di Oksibil dengan panjang lintasan sekitar 1,3 km, lintasan ini sering dijadikan tempat olahraga bagi masyarakat di sore hari, mengingat penerbangan hanya ada hingga pukul empat sore. Aktivitas bandara juga tidak terlalu ketat, siapa saja boleh masuk kebandara.

Ketika menginjakkan kaki di Oksibil, kita akan disambut oleh sebuah gerbang dengan patung Yesus bertuliskan Terib Tibo Semo Nirya atau Mari Bangkit Membangun Bersama yang merupakan semboyan Kab. Pegunungan Bintang. Di Oksibil ada banyak masyarakat pendatang yang berasal dari Toraja, Buton, Makassar dan Jawa. Mereka bekerja sebagai tukang ojek, supir, tukang bangunan dan pegawai pemerintahan. Oksibil sendiri tidak seperti kota pada umumnya, tidak ada lampu lalu lintas dan hiruk pikuk lalu lintas kendaraan apalagi kemacetan. Ada beberapa kantor dan fasilitas umum yang bisa digunakan masyarakat seperti RSUD Oksibil yang melayani pengobatan dengan gratis, Bank Papua dan Bank BRI untuk pelayanan perbankan, Gereja-Gereja Katolik dan Protestan serta sebuah Masjid untuk umat muslim beribadah. Disini toleransi beragama sangat tinggi, kumandang azan selalu diperdengarkan lima waktu dan selalu ada peringatan-peringatan hari besar agama Islam seperti Idul Fitri, Idul Adha, Maulid Nabi, 1 Muharram, Isra Mi’raj dan lain-lain. Tidak ketinggalan ada Taman Baca Al-quran bagi anak-anak setiap sore dan pengajian bagi ibu-ibu sekali dalam seminggu.

Selama berada di Oksibil saya tidak mengalami kendala dalam berkomunikasi dengan menggunakan telepon genggam, meskipun hanya satu operator yang menyediakan layanan komunikasi. sedangkan untuk sinyal internet dengan menggunakan operator tersebut tidak terlalu kuat, kalau sinyal kuat terkadang masih bisa bertukar pesan WhatsApp. Ada satu tempat yang membuka layanan wifi gratis yaitu salah satu rumah pegawai Badan Pusat Statistik, setiap hari dari pagi hingga malam banyak warga Oksibil yang datang kesana untuk menikmati fasilitas wifi gratis.

Seperti yang sudah saya sebutkan diatas, Kabupaten Pegunungan Bintang terdiri dari 34 distrik, ada banyak alat transportasi yang digunakan antar distrik, seperti pesawat, taksi dan ojek. Melihat kondisi geografis di Pegbin sendiri, pesawat adalah transportasi utama antar distrik disamping jalan kaki. Kita akan terbiasa melihat pesawat-pesawat kecil seperti Twin Otter, Cessna dan Pilatus berisikan 5-12 penumpang lalu lalang di langit Pegbin dari pagi hingga sore hari. Tidak banyak pesawat yang menyediakan jasa secara reguler, beberapa pesawat bisa terbang jika ada yang menyewa. Biasanya penumpang menyewa untuk mengangkut barang dagangan. Untuk lalu lintas darat sendiri, taksi atau mobil jenis Strada biasa digunakan untuk mengantar warga ke distrik-distrik yang bisa dilalui dengan mobil. Selain mobil, ojek adalah angkutan paling laris di Pegbin, ada banyak pangkalan ojek di Oksibil yang bisa mengantar penumpang kemana saja. Kita tidak harus menemukan pangkalan ojek tujuan distrik ini atau itu, karena kalau tukang ojeknya berani mengantar maka kita bisa menggunakan ojek tersebut. Buton Club adalah sebutan kami bagi para tukang ojek, karena hampir semua tukang ojek berasal dari Buton.

Pegbin yang merupakan wilayah pegunungan mempunyai jalan antar distrik yang cukup curam. Sangat jarang kita temukan jalan aspal menuju distrik, kebanyakan adalah jalan bebatuan yang menaiki gunung, melintasi lereng, curam dan licin. Tukang-tukang ojek yang sudah terbiasalah yang mampu melewati jalan-jalan tersebut. Untuk ongkos angkutan umum di Pegbin sendiri tergolong mahal dikarenakan kondisi jalan dan harga bahan bakar yang mahal. Hanya sedikit distrik yang bisa dijangkau dengan alat transportasi darat, banyak distrik yang hanya bisa ditempuh dengan berjalan kaki. Warga sudah terbiasa berjalan kaki berjam-jam hingga berhari hari, naik turun gunung, keluar masuk hutan. Termasuk saya sendiri pun sudah terbiasa berjalan kaki berjam-jam disini.

Sejauh ini saya tidak melihat adanya pabrik dan peternakan hewan disini tapi kebanyakan masyarakat memelihara babi dan ayam. Semua barang kebutuhan sehari-hari dipasok dari Jayapura menggunakan pesawat. Jalur transportasi yang hanya bisa ditempuh menggunakan pesawat menyebabkan harga-harga barang kebutuhan harian sangat tinggi, bisa mencapai 4-10 kali lipat dari harga di Jayapura/Jawa. Sebagai contoh harga bensin 1 liter di Oksibil Rp. 40.000-45.000, harga beras Rp. 35.000-50.000/kg. Ada satu pasar yang melayani kebutuhan sehari-hari di Oksibil, ada banyak warga lokal yang menjual hasil kebun di pasar tersebut. Sedangkan untuk kios-kios sendiri biasa diisi oleh warga pendatang. Untuk penerangan sendiri masyarakat mengandalkan solar cell dan genset (bagi yang memiliki). DI Oksibil sendiri layanan listrik hanya ada dari pukul 6 sore hingga pukul 12 malam.

Saat ini emua jenjang pendidikan sudah ada di Pegbin, dari PAUD, TK, SD, SMP, SMA, SMK bahkan universitas. PAUD, TK, SMA dan universitas ada di Oksibil, sedangkan SD dan SMP tersebar di berbagai distrik, namun tidak semua distrik mempunyai SMP. Ada sekolah negeri dan swasta disini, sekolah swasta adalah sekolah yang berlatar belakang pendidikan agama Katolik. Untuk universitas sendiri, ada Universitas Terbuka dan Universitas Cendrawasih kampus Oksibil. Di sekolah-sekolah Oksibil kita akan melihat keberagaman yang sangat indah karena murid-murid tidak hanya warga asli Pegbin tapi juga anak-anak pendatang. Guru-guru di Oksibil pun beragam mulai dari guru asli hingga pendatang yang sudah berpuluh-puluh tahun berada di Oksibil.

Inilah sedikit gambaran Pegunungan Bintang yang bisa saya ceritakan. Sebuah negeri yang mengajarkan saya apa makna toleransi yang sebenarnya, sebuah negeri di atas awan yang begitu indah dan damai. 

Cerita Lainnya

Logo Indonesia Mengajar
KONTAK

(021) 7221570
info@indonesiamengajar.org

ALAMAT

Jl. Senayan Bawah No. 17,
Kel. Rawa Barat, Kec. Kebayoran
Baru, Jakarta Selatan 12180

© 2020 Gerakan Indonesia Mengajar
Ikut Iuran