Kami Tidak Mau Bermain Pak, Kami Mau Belajar . . . . !
Muhammadfirdaus Ismail | 17 September 2015

Sore itu, di hari selasa, 15 september 2015, saya mengagendakan mengunjungi salah satu komplek dusun tempat murid saya tinggal. Ini merupakan kunjungan ketiga kalinya selama saya bertugas sebagai Pengajar Muda Rote Ndao. Dusun Istua, Desa Kuli tepatnya. Dusun yang baru dibuka sejak tahun 2011 yang merupakan  salah satu dusun translokasi bantuan Pemerintah Kabupaten Rote Ndao. Pemkab Rote Ndao membuka lahan dan jalan, memberikan bantuan pendirian rumah serta memberikan lahan sawah untuk para warga Desa Kuli yang kurang mampu. Nah, banyak murid saya yang tinggal di komplek dusun translokasi ini yang jaraknya tiga kilometer dari sekolah.

Sesampai di dusun tersebut, saya bertemu dengan ketiga murid saya. Iki kelas lima, Jekson kelas enam dan Agil kelas dua. “Awihhhh, Pak Edo main kesini lae?” tanya Iki. “Iya, mana teman-teman yang lain?” Jawabku. “Pi sawah semua pak, bantu siram semangka”, Jawab Jekson. “Pak, ada apa kesini?” , Tanya Agil. ”Pak mau bermain sama kalian,” Jawabku. “Son mau pak, kami tidak mau bermain, kami mau belajar sa sama Pak Edo.” Sahut Iki dengan suara lantang. Saya pun terkaget-kaget mendengar jawaban itu. “Boleh kalau mau belajar, tapi ada syaratnya?”, Jawabku. “Apa syaratnya pak?” tanya Iki. “Kita cari teman-teman yang lain dan ajak mereka belajar bersama,” Jawabku. “Siap pak, pak tunggu di sini sa, kami akan cari yang lain di sawah,” Sahut Jekson. “Sonde, pak juga ikut ke sawah untuk ajak yang lain belajar.”

Kami pun pergi dan berkeliling ke sawah untuk mencari anak-anak yang lain. Sampai di sawah, orang tua yang sedang siram semangka juga ikut bantu mencari dan mengajak anak-anak untuk belajar. Satu persatu kami mengajak anak-anak untuk belajar. Dan akhirnya berkumpul dua belas anak yang mereka sangat antusias untuk belajar. Bahkan lebih memilih belajar daripada bermain bersama. “Pak, belajar di rumah saya sa,” ajak Daniel (salah satu anak yang ketemu di sawah). “Boleh,” jawabku. “Saya ambilkan papan tulis di rumah dulu ya pak, di rumah saya ada papan tulis tinggalan Pak Iwan (Pengajar Muda sebelumnya) “ sahut Iki. “Oke, kami tunggu di rumah Daniel ya.” Balasku.

Akhirnya kami pun belajar bersama anak-anak di luar rumah Daniel. “Mau belajar apa ini?” tanyaku. “Belajar matematika sa pak” jawab Jekson. “Iya pak, kita belajar matematika sa” sahut Iki. Sore itu kami pun belajar matematika. Ada anak kelas dua hingga kelas enam yang belajar bersama. Anak-anak sangat antusias mengerjakan soal-soal yang saya buat. Bahkan mereka saling berebut untuk mengerjakan soal di papan tulis.

Tak kalah luar biasanya, ada salah satu orang tua siswa yang mau ikut belajar. “Pak, be ju mau dikasih ajar tentang FPB dan KPK” kata Mama Daniel. “Boleh sekali mama, ikut gabung sa mama,” balasku. “Biar nanti kalo Daniel son bisa, mama bisa kasih ajar Daniel FPB dan KPK”, kata Mama Daniel. “Wahh... Luar biasa semangat mama. Mama sa semangat sekali, anak-anak harus lebih semangat lagi ya.” Tegasku. “Siap pak !,” Teriak anak-anak dengan serentak.

Karena di dusun ini belum ada listrik, kami pun menyudahi belajar saat matahari sudah mulai tenggelam. Saya pun undur diri dan berpamitan pada anak-anak dan para orang tua murid yang ikut menunggu kami belajar. Sebelum pulang, tiba-tiba ada salah satu wali murid yang memanggil. “tunggu sebentar pak, saya ambilkan semangka dulu.” Sahut Bapaknya Jekson. “Ini pak, semangka untuk pak, sering-sering kesini ya pak, nanti saya juga ikut belajar matematika pak,” tambahnya. Saya pun dibawakan satu karung semangka. “Terlalu banyak ini pak,” kataku. “sonde pak, son apa-apa. Dibawa sa. Terimakasih sudah ajak anak-anak belajar, kami juga mau belajar bersama pak” Kata bapaknya Jekson. “Wah terimakasih pak, ya sudah saya pamit dulu pak, sudah gelap. Kapan-kapan beta kesini lae belajar bersama.” Kataku. Saya pun pulang ke rumah yang berjarak sekitar empat kilometer dari dusun tersebut.

Terimakasih banyak kepada para guru SD Inpres Batulai, dan para Pengajar Muda Indonesia Mengajar sebelum saya serta para orang tua murid saya. Kalian telah mengajar  anak-anak dengan sebenar-benarnya pengajaran. Seperti perkataan John Milton Gregory  bahwa “mengajar yang benar bukanlah yang menyampaikan pengetahuan, melainkan menggugah orang untuk mencari pengetahuan dan belajar secara mandiri”. Terbukti murid-muridmu kini telah menjadi anak-anak yang haus untuk belajar dan mencari pengetahuan. Mereka belajar bukan karena paksaan tetapi karena keinginan. Saya yakin, mereka akan menjadi pembelajar sejati. Pembelajar yang akan terus menciptakan proses belajar sepanjang hidup mereka.

Cerita Lainnya

Logo Indonesia Mengajar
KONTAK

(021) 7221570
info@indonesiamengajar.org

ALAMAT

Jl. Senayan Bawah No. 17,
Kel. Rawa Barat, Kec. Kebayoran
Baru, Jakarta Selatan 12180

© 2020 Gerakan Indonesia Mengajar
Ikut Iuran