Jek : Si Jenius Tanpa Kata
Muhammadfirdaus Ismail | 05 December 2015

Alkisah. Seekor kura-kura terlihat sedang berjalan sendirian di tepi hutan, ia berjalan lamban dan kurang bersemangat. Rupanya ia iri dengan kemampuan si Rusa yang bisa berlari cepat sedangkan ia hanya bisa berjalan lamban sekali. Si Rusa mengabarkan bahwa si Raja Hutan sedang kelaparan dan ingin memangsa siapa saja yang ditemuinya.

Melihat si Kura-Kura yang lamban ia mengatakan, wah kalo si Raja Hutan bertemu denganmu pasti kamu akan menjadi santapannya, karena berlari saja kamu tidak mampu. Mendengar perkataan si Rusa maka Kura-Kura pun minta tolong untuk diajarkan bagaimana cara berlari cepat sehingga bisa terhindar dari ancaman si Raja Hutan.

Rusa pun mengajarkan cara berlari yang cepat untuk menghindar dari terkaman si Raja Hutan. Kura-kura belajar siang dan malam tanpa lelah, namun meskipun berusaha sekeras mungkin tetap saja ia berlari tidak secepat rusa.

Suatu hari, tanpa sengaja si Kura-Kura bertemu dengan si Raja Hutan. Melihat si Raja Hutan yang sedang kelaparan dan siap memangsanya, si Kura-Kura berlari secepat yang ia bisa, namun jalan si Kura-Kura terlihat malah aneh dan si Raja Hutan malah tertarik untuk menangkapnya. Ia pun menangkap dan mempermainkan si Kura-Kura dengan cakarnya yang tajam. Akhirnya si Kura-Kura pasrah dan menarik seluruh anggota tubuhnya ke dalam tempurung sambil berdiam diri menunggu eksekusi si Raja Hutan.

Si Raja hutan berusaha dengan segala cara untuk menghancurkan tempurung Kura-Kura dengan kukunya yang tajam, dan dengan gigitan-gigitannya, namun tempurung itu sangat kuat, kokoh laksana baja. Akhirnya si Raja Hutan menyerah dan meninggalkan Kura-Kura bersama tempurungnya.

Kejadian itu rupanya diamati oleh seekor monyet yang ada di atas pohon. Si Monyet memberitahu Kura-Kura bahwa ia selamat dan si Raja Hutan telah meninggalkannya dengan frustasi. Beruntung kamu Kura-Kura karena kamu mempunyai tempurung yang kuat sebagai pelindungmu, tanpa harus bersusah payah untuk lari atau memanjat pohon seperti kami, ujar si Monyet.

Seperti pada kisah tersebut, kali ini aku akan bercerita tentang salah satu muridku yang spesial di sekolah kami, Ia adalah Jek. Pada tulisan sebelumnya yang berjudul “Persahabatan Jek dan Yan” (https://indonesiamengajar.org/cerita-pm/muhammad-ismail-5/persahabatan-jek-dan-yan), aku sudah sedikit bercerita tentang Jek yang spesial. Dia mempunyai keterbatasan tidak bisa bersuara seperti anak seusianya. Keterbatasan yang membuat ia tidak bisa membaca dan berkomunikasi lisan dengan teman-temannya, Namun di balik itu, Jek punya kelebihan lain. Apa kelebihannya, begini ceritanya . . .

Saat itu pelajaran Matematika Bab Bangun Ruang. Awalnya aku menanyakan kepada anak-anak, “Anak-anak, kita su belajar tentang bangun datar, coba sebutkan nama-nama bangun datar?” Tanyaku. “Persegi pak, persegi panjang, lingkaran, layang-layang, trapesium, segitiga, segitiga sama kaki.” Jawab murid-muridku dengan lantang. Kelas pun menjadi ramai karena dengan lantang dan semangat murid-muridku menjawab pertanyaanku tadi. Hanya Jek yang tidak menjawab.

“Nah, setelah kita belajar tentang bangun datar, kita akan belajar tentang bangun ruang. Haiyoo,, siapa yang bisa kasih contoh nama bangun ruang?” Tanyaku pada anak-anak. Kemudian aku pun menunjukkan beberapa bangun ruang yang telah aku persiapkan sebelumnya. Mulai dari kubus hingga bangun ruang bola aku tunjukkan ke anak-anak. “Nah, sekarang pak akan memberikan masing-masing satu bangun berbentuk kubus, tugas kalian adalah imajinasikan bangun kubus ini menjadi sebuah gambar di buku tulis kalian.” Perintahku. “Siap pak . . .!” Jawab muridku dengan lantang. “Butuh waktu berapa menit?” tanyaku. “Sepuluh menit pak, tiga puluh menit pak, lima menit sa pak,” jawab murid-muridku dengan ribut. “Ya sudah, pak kasih waktu lima belas menit dulu ya, kalau su ada yang selesai kasih tahu pak” kataku. “Siap pak . . .!“ jawab muridku dengan serentak.

Anak-anak pun memulai melihat-lihat, membolak-balik dan mengamati dengan seksama kubus yang aku berikan ke mereka. Mereka mulai mencoba menggambar apa yang  diamatinya. Terlihat anak-anak menggambar, coret, gambar lagi, coret lagi. “Bagaimana anak-anak, su pada menyerah ko?” tanyaku. “Sonde pak, be son menyerah,” jawab anak-anakku. Mereka tampak tidak pantang menyerah meskipun berkali-kali menggambar dan mencoret. “Begini ko pak?”, Be su selesai pak, seperti ini ko?”, Iya pak, be ju su selesai, seperti ini ko?” murid-muridku mulai beribut. Kemudian aku pun melihat hasil mereka satu per satu. “ Wah, bagus sekali gambarnya, sedikit lagi benar ni.” Jawabku.

Lima belas menit berjalan, waktu untuk mengerjakan sudah habis. Aku kembali melihat hasil karya murid-muridku, tetapi belum ada satu pun yang tepat. “Anak-anak, Pak kasih tambahan waktu lima menit ya?, kita tepuk semangat dulu,” pintaku. “Siap Pak.” Jawab muridku. “Tepuk Semangat !”, “Prok prok prok, Se,, prok prok prok, Maa, prok prok prok Ngat, Seeeee Ma Ngat “, tepuk dari murid-muridku dengan antusiasnya. Setelah empat menit waktu tambahan berjalan, dari sudut belakang ada yang mengangkat tangan dengan semangatnya, dan terlihat ingin mengucapkan sesuatu tetapi karena keterbatasan pita suara yang kecil suranya pun tidak terdengar dari depan. Yaa,, Dia adalah Jek.  Aku pun menghampirinya, dia seakan ingin mengatakan bahwa ia telah selesai.

Dan,,, Wowwwwww . . . . Luar Biasa terkejutnya aku setelah melihat hasil gambarnya, merinding juga. Dan Dialah satu-satunya muridku yang bisa mengimajinasikan bangun ruang kubus yang tiga dimensi untuk digambar menjadi bentuk dua dimensi. Dengan sempurna, setelah beberapa kali belum tepat, dan berpuluh kali membolak-balikkan kubus yang aku berikan, akhirnya Jek bisa menggambarnya dengan tepat. Yaa,, Dialah si jenius itu.

Kamu memang luar biasa nak, di tengah keterbatasanmu, kamu tak pernah merasa rendah diri dan minder di antara teman-temanmu. Kamu selalu paling rajin ke sekolah di antara teman-temanmu. Dan inilah kelebihanmu, kamu punya daya imajinasi dan kemampuan menggambarmu yang di atas rata-rata temanmu. Makin cinta padamu aku nak.

Seketika, aku pun teringat waktu dulu aku masih SD. Guruku waktu itu, memberikan tugas yang sama. Dan saat itu, aku tidak bisa menemukan cara menggambar kubus. Meskipun waktu itu, kami diberi waktu lebih lama, tak satu pun dari kami (teman-teman kelasku) SD Pendem 2, Sumberlawang, Sragen, yang bisa menemukan cara menggambar kubus dengan benar.

Sobat semuanya, sering kali kita iri akan kepandaian, kelincahan, ketampanan, atau kesupelan yang dimiliki oleh orang lain, dan kita hanya melihat diri sendiri lambat dan merasa rendah diri di depan orang lain. Nah… Gara-gara keluhan seperti itu, kita sering dibuat lupa oleh kelebihan yang sebenarnya kita miliki, yang mungkin tidak dimiliki oleh orang lain.

Seperti Kura-kura, meskipun larinya tak secepat Rusa, tapi ia punya kelebihan memiliki tempurung sangat kuat yang tak bisa ditembus oleh si Raja Hutan.

Begitu pun dengan Jek, di tengah keterbatasannya. Dia tak pernah menyerah dan merasa rendah di depan teman-temannya. Dan ia membuktikan bahwa Ia punya kelebihan lain dari teman-temannya. Aku belajar banyak darimu Jek. 

Cerita Lainnya

Logo Indonesia Mengajar
KONTAK

(021) 7221570
info@indonesiamengajar.org

ALAMAT

Jl. Senayan Bawah No. 17,
Kel. Rawa Barat, Kec. Kebayoran
Baru, Jakarta Selatan 12180

© 2020 Gerakan Indonesia Mengajar
Ikut Iuran