Pak, darimu kami belajar
Liska Rahayu | 09 September 2015

       Pak Kupli, biasa ia dipanggil oleh murid-muridnya dan juga guru-guru di sekolah. 10 tahun pak Kupli mengabdi di SD ini. Selama itu pula ia harus menyusuri bukit-bukit agar sampai kesebuah desa yang bernama Danau Gerak. Baru 2-3 tahun terakhir ia merasakan betapa bahagianya berjalan diatas jalanan yang padat oleh aspal. Ya..sebagian jalan dari rumah pak Kupli ke Cahaya alam (1 desa sebelum desa Danau Gerak) memang sudah di aspal. Sebelumnya, pak Kupli harus berjalan kaki melewati desakan tanah yang liat berkilo-kilo meter menaiki dan menuruni bukit agar sampai ke sekolah. Pak Kupli adalah 1 dari 5 guru honorer yang ada di sekolahku. Tak banyak yang ia dapat, honor-pun hanya 250.000 perbulan, dan ia baru bisa mengambil honornya setiap 3 bulan sekali. Tapi betapa keterbatasan bukan menjadi batasan bagi pak Kupli menuang isi bejana ilmunya.

       Pak Kupli juga guru pertama yang selalu hadir tepat waktu, bahkan sebelum jam sekolah di mulai. Guru yang selalu bersemangat mengikuti kegiatan disekolah dan menemani anak-anak didik berlatih dan bertanding ketika mengikuti lomba hingga sore hari. Pembawaannya sangat sederhana, dengan topi yang ia selalu pakai di kepalanya, menjelang magrib, ia setia menggiring bebek dari sawah agar masuk ke kandang. Riuh suara bebek membuat semakin khidmat kehidupan sore harinya. percayalah pak, bahwa kebaikan itu mengalir. Semoga kebaikan selalu menyertai tiap jengkal hidupmu.

       Pak Kupli, 1 dari jutaan guru honorer di batas-batas senyap yang semangatnya patut kita tiru. Di usianya yang sudah menginjak kepala tiga, ia masih seorang diri, sibuk memperbaiki kualitas pendidikan di Indonesia. Terimakasih pak Kupli, betapa masih ada orang-orang yang peduli dengan pendidikan anak-anak tanpa berlabel materi. Semoga engkau mulia di langit dan di bumi. Di usia-nya yang menginjak kepala tiga, ia memulai kembali ke sebuah ruang persegi, sebuah bangunan tempat ia mencari ilmu lebih dalam, kami namai bangku kuliah. Ia mulai berkuliah, saat ini ia tercatat sebagai mahasiswa semester 2 Universitas terbuka di Muara Enim. Setiap sabtu dan minggu ia beranjak ke Muara Enim untuk berkuliah. Ketika terik mulai meninggi, minggu siang adalah waktu yang tepat untuknya kembali ke atas sini, ke sebuah Desa di antara jajaran bukit yang berbaris. Semoga engkau setia dengan ke-ikhsanan-mu pak, memberi lebih banyak dari kewajibanmu, walaupun menerima lebih sedikit dari hak-mu.

 

Pulau Panggung, 09 September 2015

 

 

Cerita Lainnya

Logo Indonesia Mengajar
KONTAK

(021) 7221570
info@indonesiamengajar.org

ALAMAT

Jl. Senayan Bawah No. 17,
Kel. Rawa Barat, Kec. Kebayoran
Baru, Jakarta Selatan 12180

© 2020 Gerakan Indonesia Mengajar
Ikut Iuran