Hidup Tak Selalu Tentang Takdir, Bahkan Nadir #DanauGerak1
Liska Rahayu | 30 June 2015

“ Izinkan aku bercerita, tentang manusia di kumparan zaman. Adalah waktu, yang membuat manusia hidup diantara deretan detik yang berubah menjadi menit, jam, hari, minggu, bulan, hingga tahun. Adalah waktu, yang pada akhirnya manusia tahu kapan ia harus kembali pada pusaran semesta. Adalah waktu, yang karenanya kita tersadar bahwa hidup tak selalu tentang takdir, bahkan nadir “

Kami menyebutnya Danau Gerak, sebuah desa yang percaya bahwa hidup tak selalu tentang takdir, bahkan nadir. Desa yang percaya bahwa nadir tidak selalu tentang  gelap, tapi juga tentang terang. Danau Gerak merupakan Desa tertinggi diantara 9 Desa lainnya di Kec.Semende Darat Ulu, Lereng Bukit Barisan. Suhunya sangat dingin, tapi percayalah masyarakatnya sangat hangat. Di desa ini, hampir seluruh masyarakatnya menanam kopi robusta atau dalam bahasa Semende disebut kawe. di Desa ini, PLN belum juga masuk. Tapi yakinlah, keterbatasan bukanlah batasan untuk mereka mencari terang pengetahuan.

Bagi masyarakat Semendeu, tanah yang mereka pijak saat ini tidak hanya tempat mencari makan, tapak pijak perjalanan, wadah pengembaraan diri, dan harta. Tapi percayalah, tanah bagi suku Semendeu adalah tentang dari mana mereka berasal dan kemana mereka akan kembali. “Tumpukan materi hanyalah tanda, sementara makna, memiliki kedudukan berkali lipat lebih tinggi daripadanya”. Kalimat ini pernah seorang teman sampaikan, dan masyarakat suku Semendeu di Desa Danau Gerak membuktikannya. Percayalah, kebahagiaan bukan perkara atribut kebendaan semata.

Membutuhkan waktu 11-12 jam dari Kota Palembang, untuk bisa sampai ke Desa Danau Gerak menggunakan jalur Darat. Topografi yang berbukit dan bergunung, membuat perjalanan menuju Desa Danau Gerak terasa panjang. Tapi percayalah, bahwa kesungguhan berawal dari kesediaan berkorban. Perjalanan panjang menjadi cerita tersendiri bagi siapapun yang akan kesana. Jajaran perbukitan, kebun-kebun kopi, pematang-pematang sawah, hingga kebun sayur-mayur milik masyarakat menjadi warna disetiap kelok perjalanannya.

Masyarakat Semendeu memiliki karateristik bahasa yang unik. Masuk kedalam rumpun bahasa Melayu dengan dialek-dialek bahasa yang khas, menjadikan suku Semendeu terlihat lebih otentik dengan bahasa yang mereka miliki. Bahasa tersebut merupakan alat utama untuk menyebarkan kebudayaan dari satu generasi kegenerasi berikutnya, karena kebanyakan kebudayaan dituliskan dalam bentuk lingusitik. Bagi suku Semendeu, bahasa lebih dari sekedar alat mengkomunikasikan realitas. Bahasa merupakan alat untuk menyusun realitas, dimana bahasa yang berbeda akan menciptakan dan mengekspresikan realitas yang berbeda. Beberapa contoh kata dalam Bahasa Semendeu: Mampir dahulu (Singgah Kudai) ; Semangat (Ribang) ; Sudah (Udem); Orang (Jeme') ; Sebentar (Senampor) ; Bagus (Alap) ; Main-main (Busek) dsb

 

Palembang, 30 Juni 2015

Ramdhan Ke-12

                                                                        

Cerita Lainnya

Logo Indonesia Mengajar
KONTAK

(021) 7221570
info@indonesiamengajar.org

ALAMAT

Jl. Senayan Bawah No. 17,
Kel. Rawa Barat, Kec. Kebayoran
Baru, Jakarta Selatan 12180

© 2020 Gerakan Indonesia Mengajar
Ikut Iuran