Anak Maluku Itu Mewah (Hal Sederhana Bisa Jadi Permaian)
Jarotdwi Handoko | 10 February 2016

“saya hanya diam menggeleng-geleng kepala melihat murid-murid saya chaos”

Kerjasama antara sekolah dengan pemerintah Desa di Adodo Molu memang sudah terjalin dengan baik, salah satunya adalah seringnya pihak pemerintah desa melalui Ibu PKK memberikan bubur kacang hijau kepada murid-murid di hari jum’at.

Suatu hari di hari jumat 27 November 2015 kegiatan ini berulang yaitu pembagian bubur kacang hijau di rumah bapak Kepala Desa. Pada pembagian bubur kacang ini setiap anak mendapatkan jatah satu gelas dan kebetulan gelas yang ada adalah gelas sekolah yang siperuntukan untuk anak-anak yang warnanya beraneka ragam, mulai dari warna merah, kuning hijau dan biru.

Setelah acara makan bubur kacang telas selesai maka murid-murid kembali ke sekolah, hari ini memang tidak belajar karena hari jumat waktu untuk olahraga, setelah para guru juga menikmati bubur kacang hijau saya segera kembali ke sekolah, pada saat itu jam istirahat sehingga anak-anak bermain dan berkumpul di lapangan sekolah.

Berbeda dari biasanya hari ini sungguh ramai sekali mereka berlarian sambil berkelahi (tentunya berkelahi main-mainan) sambil berteriak warna-warna (kuning, merah, hijau dan biru). Setiap berlari lalu mereka bertanya kepada anak yang lain “ose warna apa?” (kamu warna apa) bila berbeda warna maka mereka berkelahi seperti permainan geng-gengan.

Saya masuk ke sekolah lalu duduk santai di tempat santai untuk melihat keadaan, rasanya malas untuk melerai karena ingin melihat dahulu apa yang sebenarnya terjadi, karena di hadapan saya seperti sedang ada arena pertempuran antara 4 geng (sesuai dengan warna gelas). Terkadang saya melihat mereka dengan senyuman yang otomatis keluar karena melihat mereka begitu lucunya sudah ada yang kotor pakainnya karena terjatuh, sudah ada yang rambutnya sudah tidak beraturan dan lama-kelamaan jumlah orang yang tergabung di dalam arena ini semakin banyak, ternyata geng ini merambat ke seluruh kelas mulai dari kelas satu hingga kelas 6.

Saya masih terpaku duduk di tempat santai, rasanya enggan melerai mereka karena ingin memberikan kesempatan mereka untuk tersenyum bahagia, ya ini adalah permainan alami mereka yang tentunya tidak membutukan biaya banyak, tetapi mereka begitu bahagia meskipun terkadang pukulan yang mereka lancarkan atau yang mereka terima terasa sakit tapi mereka tidak mengeluh, mereka terus saja berkejar-kejaran.

Lalu tiba-tiba ada anak kelas dua yang nangis, dan sungguh kebetulan anak yang menangis tersebut adalah anak dari kepala sekolah, ternyata punggungnya terpukul oleh teman sekelasnya dan dia tidak bisa berdiri dan akhirnya menangis. (akhirnya permainan murah yang ada dipikiran saya mulai menguap, karena bila ini sakit beneran maka bisa celaka).

Akhirnya saya menginstruksikan anak kelas 6 yang berbadan besar untuk di bawa ke puskesmas yang ada di desa, akhirnya setelah baikan saya minta izin kepada guru wali kelasnya untuk dipulangkan saja. Akhirnya saya tanya ke anak kelas 6 yang memang lebih dekat dengan saya karena memang intensitas mengajar saya di kelas 6 lebih banyak. ”kamong bermain apa, kamong samua baku pukul?” (kalian main apa, kalian bertengkar), “seng bapak, anak kelas dua dong pi bermain geng warna-warna barang katong jua baku ikut deng dong, jadi katong samua baku pukul dengan beda warna” (tidak bapak, anak kelas dua bermain geng warna-warna terus kita juga ikut bermain dengan mereka, jadi kita semua bertengkar dengan berbeda warna).

“warna? Ose pu warna apa Sonia?”(warna? Warna kamu apa Sonia?), “bet pung warna merah, bapak guru pu warna apa?” (merah, bapak warna apa?). Inilah anak Maluku sedang di introgasi malah balik tanya. “warna? Bapak masing bingung, memang kamong baku ribut warna apa? Power renjer? (warna? Bapak masih bingung, memang kalian bertengkar waarna apa?), “seng bapak, tadi katong pi makan bubur kacang to, nah katong pu gelas itu warna warni, jadi katong jadi geng warna to” (tidak bapak, kan tadi kita pergi makan bubur kacang, nah gelas kita itu warna warni, jadi kita menjadi geng warna) sahut Rani.

Akhirnya saya dapat info yang jelas, jadi mereka bertengkar atau bermain pertengkaran lebih tepatnya hanya gara-gara warna gelas, jadi mulai dari kelas dua lalu merambat sampai ke kelas 6, akhirnya mereka bertengkar meskipun beda kelas atas dasar kekompakan geng warna gelas. Kadang saya merasa lucu dengan apa yang sering terjadi di Sekolah ini, anak-anak begitu polosnya dan unik hal-hal sederhana bisa menjadi persoalan yang bisa mengundang tawa. Ah mereka sungguh kaya, kaya akan imajenasi.

Akhirnya saya klarifikasi ke guru-guru dan persoalan selesai tapi dari kejadian ini saya merasa lucu kepada anak-anak, mereka sungguh jujur dan apa adanya, inilah yang membuat saya senang dengan murid-murid saya hal sederhana bisa menjadi permainan yang menarik dan tentunya membuat mereka bahagia. Akhirnya saya berlalu dengan senyuman meninggalkan sekolah untuk pergi ke rumah.

Jarot Dwi Handoko, Pengajar Muda SDK Adodo Molu, Maluku Tenggara Barat

Cerita Lainnya

Logo Indonesia Mengajar
KONTAK

(021) 7221570
info@indonesiamengajar.org

ALAMAT

Jl. Senayan Bawah No. 17,
Kel. Rawa Barat, Kec. Kebayoran
Baru, Jakarta Selatan 12180

© 2020 Gerakan Indonesia Mengajar
Ikut Iuran