Melahap Sebulan di Rote Ndao
Fransmateus Julianson Situmor | 24 July 2015

Sebulan sudah berlalu sejak saya pertama kali menginjakkan kaki di pulau yang sederhana nan eksotis ini. Banyak hal juga yang telah saya kecap, lihat dan rasakan dengan kombinasi indera saya yang terbatas ini. Kesan pertama memang menggoda, namun terkadang kurang tepat, kata beberapa orang. Namun bukan berarti dia tak patut diperhitungkan. Setidaknya ada beberapa hal dalam sebulan yang menurut saya cukup menarik untuk dibagikan. Berikut cuplikannya:

1. Bajingan tak selamanya bajingan

Berbahagialah engkau para bajingan yang pindah ke Rote, karena di sini engkau mulia namanya. Ya, di Rote, bajingan itu berarti keren, atau luar biasa, dan penyebutannya sering kali diikuti dengan kata “mamati”, yang merupakan gabungan dari “mau mati”. Maka jika anda melakukan hal yang mengundang decak kagum, maka bersiaplah dengan sorakan: “Pak ini bajingan mamati!”. Ketika mendengar seruan ini, maka percayalah, mereka tidak sedang menyamakan anda dengan bandit pesakitan yang menanti ajal karena babak belur dikeroyok massa, namun sebaliknya, mereka sedang memuja anda setinggi-tingginya. Karena Anda keren parah. Sampai mau mati. Nah loh!

2. Apapun makanannya, gula air minumannya

Bagi masyarakat Rote, pohon lontar adalah pohon kehidupan. Hampir seluruh bagian dari pohon lontar dapat mereka olah menjadi komoditas penunjang kehidupan. Salah satu hasil produksinya adalah gula air, yang merupakan hasil pengolahan nira. Bagaimana bentuknya? Yah, cair. Rasanya? Um, manis. Gula air bahkan sering disebut makanan pokok masyarakat Rote, hingga sering terucap: orang Rote bisa tidak makan tiga hari asalkan mereka minum nira dan gula air. Segar memang, namun panen lontar ini hanya terjadi pada rentang Agustus-Desember. Di luar itu jangan naif, es teh manis buat sendiri juga sudah patut disyukuri.

3. Muka rambo, hati romeo

Kecenderungan untuk berbicara blak-blakan dengan logat yang tegas memang menjadi ciri khas sebagian besar masyarakat Nusa Tenggara Timur, termasuk Rote. Ditambah dengan bentuk muka yang juga tegas dan tubuh yang tegap semakin memperkuat kesan “keras”, yang dapat mengintimidasi lawan bicara yang lemah imannya. Namun seperti durian, yang terlihat di luar seringkali tak menunjukkan apa yang di dalam, karena menurut pengamatan saya sebulan ini, masyarakat Rote berhati lembut. Mau bukti? Lihatlah budaya cium hidung. Budaya Rote ini, konsepnya seperti jabat tangan, namun bedanya, kedua pihak saling menempelkan ujung hidung satu sama lain. Bayangkan saja, ada dua pria kekar berkulit cokelat dengan rahang kotak saling menempelkan hidung. Saya yang menonton saja merasa canggung, apalagi melakukannya. Aneh jika dilakukan kepada sesama pria, tapi bisa jadi  metode nyekil yang yahud untuk nona Rote yang manis nantinya.

Kelembutan hati orang Rote juga terlihat sekali ketika dalam pesta, mereka seringkali menangis saat mendengar syair-syair yang diiringi dentuman gong. Arti syair-syair itu, katanya, adalah tentang kerinduan orangtua terhadap anak yang pergi merantau. Lagi, satu hal yang menarik adalah ketika kami, PM X, mengantarkan PM VIII ke pelabuhan untuk kembali ke Jakarta. Ketika PM VIII perlahan meninggalkan pelabuhan, kulihat jelas bapak-bapak bertato melambaikan tangannya ke kapal sambil tersedu-sedu menangis. Sampai penjaga pelabuhan, yang juga orang Rote, berkata sembari tertawa: “Tahun depan Indonesia Mengajar jangan ada di Rote lagi ya! Kita punya hati ini terlalu lembut!”. Ah tenang saja Pak, kami ini yang terakhir kok, bisikku lirih, terhanyut suasana.

4. Lalu lintas ala safari

Saya tak pernah ingat melihat lampu lalu lintas di Rote. Mungkin memang tak ada. Pulau kecil ini sepertinya memang tak butuh lampu lalu lintas menilik jalanannya yang tak terlalu ramai. Namun bukan berarti kita bisa melenggang bebas tanpa hambatan ketika berkendara. Sebabnya? Karena akan selalu ada ternak yang siap menyapa. Hampir di semua wilayah di Rote, kecuali di Ba’a, ibukota kabupaten, ternak dapat dengan leluasa menjelajah. Entah itu babi, sapi, domba, kambing bahkan ayam sekalipun dapat dengan seenaknya melompat bebas di jalan raya. Kondisi ini yang kadang membuat jantung tak tenang ketika mengarungi jalanan yang kosong, karena bisa jadi ada kejutan yang muncul dari pinggir jalan.

5. Toleransi harga mati

Mayoritas tak harus mengekang, dan minoritas tak harus meradang. Setidaknya itu yang saya tangkap dari praktek toleransi umat beragama di Pulau Rote. Pada awalnya, beberapa teman setim yang beragama Islam khawatir akan sulit beradaptasi di lingkungan masyarakat Rote yang mayoritas Kristen. Sikap tersebut merupakan hal yang wajar mengingat dalam beberapa hal, praktek beragama keduanya cukup berbeda, salah satunya dalam hal makanan. Namun kekhawatiran itu segera sirna ketika mereka merasakan sendiri praktek toleransi umat beragama di Rote. Rekan setim saya mendadak menjadi tukang jagal profesional karena dalam sehari bisa menyembelih belasan ayam dan beberapa kambing. Banyak kisah toleransi lainnya yang sudah dituliskan dengan apik oleh beberapa teman saya di sini dan sini.

Dan tak terasa satu bulan berakhir. Waktu, nyatanya, seperti dedaunan, yang menguning tanpa pemberitahuan. Perjalanan semakin menarik! Kuharap semesta masih punya kejutan di bulan-bulan mendatang. Salam hangat! 

Cerita Lainnya

Logo Indonesia Mengajar
KONTAK

(021) 7221570
info@indonesiamengajar.org

ALAMAT

Jl. Senayan Bawah No. 17,
Kel. Rawa Barat, Kec. Kebayoran
Baru, Jakarta Selatan 12180

© 2020 Gerakan Indonesia Mengajar
Ikut Iuran