Kita Masih Dijajah, Ibu!
Ashelarisa | 08 March 2016

Orang cerdas dikenal dari jawaban-jawabannya. Orang bijak dikenal dari pertanyaan-pertanyaannya.” – Naguib Mahfouz.

Adalah sebuah pengalaman yang tak tergantikan ketika saya berkesempatan menjadi Pengajar Muda angkatan X yang selama setahun ditempatkan di SD Inpres Oeoko, Kabupaten Rote Ndao, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Keunikan budaya dan keindahan alamnya seringkali membuat saya terpukau. Betapa negeri ini begitu kaya. Belum lagi penerimaan masyarakatnya yang begitu hangat, kebahagiaan ketika bercanda dan tertawa bersama anak-anak, perasaan campur aduk ketika mengajar, menjadi guru. Saya sarankan supaya anda harus mengalaminya sendiri jika ingin tahu bagaimana rasanya. Caranya? Silakan mendaftar menjadi Pengajar Muda. Hehehe...

Salah satu tujuan mengapa Pengajar Muda di tempatkan di pelosok daerah Indonesia adalah untuk mengisi kekosongan guru sesuai kebutuhan di sekolah penempatan Pengajar Muda. Untuk tahun ini, jumlah guru di SD Inpres Oeoko sudah mencukupi sehingga saya ditetapkan menjadi guru mata pelajaran Bahasa Inggris untuk kelas I sampai kelas VI, berbeda dengan Pengajar Muda sebelum saya yang menjadi wali kelas. Begitu juga dengan rekan sepenempatan saya, beberapa diantaranya ada yang menjadi wali kelas bahkan ada yang harus mengajar kelas rangkap karena kurangnya jumlah guru. Tentunya setiap Pengajar muda, dengan situasi dan kondisi yang berbeda pula, punya cerita masing-masing.

Dan ini adalah salah satu cerita favorit saya.

Hari itu adalah hari pertama saya mengajar di Kelas VI. Jam terakhir pula. Tentu menjadi misi besar bagi saya bagaimana agar siswa tetap bersemangat menerima pelajaran di saat perut mulai memberontak dan pikiran sudah berteriak minta pulang. Berbagai kekhawatiran juga muncul di benak saya. Bagaimana jika siswa kelas VI ini sangat aktif sehingga sulit ditertibkan? Bagaimana jika mereka malah sangat pasif? Bagaimana jika mereka sulit memahami penjelasan dari saya? Bagaimana jika mereka tidak menyukai saya? Dan seterusnya.

Begitu saya melangkahkan kaki masuk ke ruang kelas VI, seluruh siswa seketika berdiri. Seorang siswa -sang ketua kelas- memberi aba-aba.

“Siap!”

“Hormat!”

Lalu semua siswa serentak mengucapkan “Selamat Siang, Ibu!”

Saya menjawab sapaan tersebut, kemudian mengabsen sambil mulai kembali mengingat-ingat nama   

dan wajah mereka satu per satu.

Setelah selesai mengabsen, saya memulai apersepsi dengan bertanya kepada mereka,

“Anak-anak, sekarang kita akan belajar apa?”

“Bahasa Inggris, Ibu!” Semua kompak menjawab.

“Kira-kira mengapa kita harus belajar Bahasa Inggris?”

Sejenak mereka terdiam, lalu kelas mulai berdengung. Kemudian seorang siswa bernama Polce Muda mengacungkan tangan.

“Ya, Polce?”

“Supaya nanti mudah cari kerja, ibu!”jawabnya lantang.

Lain jawaban Polce, lain lagi jawaban dari Jeremias,”Supaya katong bisa baomong dengan bule, ibu!”

Lalu bermunculan jawaban-jawaban lainnya. Ada yang menjawab supaya pintar, supaya bisa tahu banyak bahasa, dan sebagainya. Tak lupa saya memberikan apresiasi berupa pujian atau tepuk tangan kepada mereka yang telah menjawab. Ternyata mereka begitu aktif dan berani, bukan anak-anak yang pemalu seperti dugaan saya sebelumnya.

Tiba-tiba, seorang siswa berkata,“Itu artinya kita masih dijajah ibu!”

Sejenak saya tercenung. Pernyataan kritis itu diucapkan seorang siswa bernama Nikson Hello.

 “Mengapa Nikson menganggap kalau kita masih dijajah?”

“Iya bu, katong kan su punya Bahasa Indonesia, tapi mengapa harus belajar Bahasa Inggris lagi? Itu artinya kita masih dijajah, ibu!”

“Baik, Nikson bertanya, mengapa kita perlu belajar Bahasa Inggris lagi padahal kita sudah punya Bahasa Indonesia? Ada yang mau menjawab?” Saya bertanya sembari memikirkan bagaimana caranya menjelaskan jawabannya dengan sederhana  agar mudah dipahami.

Semuanya diam.

“Tidak ada yang mau menjawab? Baik, kita sudah berkenalan kan? Sekarang ibu tanya, ibu aslinya dari mana?”

“Dari Bengkalis, Riau, Ibu!”

“Ibu sudah cerita, kalau masyarakat di Bengkalis itu menggunakan bahasa apa?”

“Bahasa Melayu, Ibu!”

“Bagaimana dengan di Rote? Orang Rote biasanya menggunakan bahasa apa?”

“Bahasa Rote!”

Sonde, kalau di sini katong pakai Bahasa Dengka na..”seorang siswa menimpali.

“Oke, disini anak-anak ibu menggunakan Bahasa Dengka. Sekarang coba bayangkan, jika Bahasa Indonesia tidak ada, lalu ibu mengajar menggunakan Bahasa Melayu sementara anak-anak ibu terbiasa menggunakan Bahasa Dengka, apakah kita bisa saling mengerti?”

“Tidak, ibu!”

“Nah, itulah pentingnya Bahasa Kesatuan. Indonesia ini terdiri dari begitu banyak suku, banyak bahasa. Maka perlu adanya satu bahasa yang disepakati bersama menjadi bahasa nasional, agar semua rakyat Indonesia bisa saling berkomunikasi. Itulah bahasa persatuan kita, Bahasa Indonesia”

“Eh, itu isi sumpah pemuda Ibu!”

“Ya, benar sekali. Coba sama-sama kita sebutkan isi dari Sumpah Pemuda.”

Serentak mereka mulai mengucapkan isi Sumpah Pemuda.

“Kami putra dan putri Indonesia mengaku bertumpah darah yang satu, tanah air Indonesia.

Kami putra dan putri Indonesia mengaku berbangsa yang satu, Bangsa Indonesia.

Kami putra dan putri Indonesia menjunjung tinggi bahasa persatuan, Bahasa Indonesia.”

“Pada butir keberapa dalam Sumpah Pemuda yang memuat tentang Bahasa Persatuan?”

“Ketiga, Ibu!”

“Nah, sekarang kita kembali ke pertanyaan Nikson. Mengapa kita perlu belajar Bahasa Inggris padahal kita sudah punya Bahasa Indonesia?”

“Supaya bisa mengerti kalau mau baomong sama orang luar negeri, ibu!”Jawab Iwan.

“Pintar! Kita berikan tepuk lingkaran untuk Iwan! Sama halnya dengan Negara Indonesia, negara lain juga punya bahasa persatuan. Maka butuh satu bahasa yang harus dipelajari dan dipahami agar semua orang di dunia bisa saling berkomunikasi. Lalu ditetapkanlah Bahasa Inggris menjadi bahasa internasional. Begitu ya, bisa dipahami?”

“Bisaaa!” Serempak semua menjawab, namun Nikson masih terdiam.

“Bagaimana Nikson, sudah jelas?”

Saya kira Nikson akan mengangguk dan pertanyaannya berhenti sampai disitu. Ternyata dia malah bertanya lagi,

“Kalau begitu, kenapa tidak Bahasa Indonesia saja yang menjadi Bahasa Internasional Ibu?”

Good question. Anak ini cerdas. Pertanyaan ini sukses membuat saya berpikir lagi. Bagaimana cara menjawabnya dengan singkat namun tetap mudah dipahami, karena jika berbicara tentang mengapa Bahasa Inggris bisa menjadi Bahasa Internasional, bisa-bisa saya harus menceritakan sejarah panjang peradaban dunia.

“Pertanyaan Nikson bagus sekali. Jadi begini anak-anak, zaman dahulu Bangsa Inggris adalah bangsa penjajah. Mereka menjelajahi bumi untuk menguasai dunia. Sambil menjajah negara-negara di dunia, mereka juga ikut menyebarkan Bahasa Inggris. Nah, Indonesia pernah atau tidak dijajah Inggris?”

“Pernah, ibu!”

“Belanda, Jepang, Portugis juga merupakan bangsa penjajah. Namun, bangsa yang wilayah jajahannya paling banyak adalah Bangsa Inggris. Makanya Bahasa Inggris menyebar ke seluruh dunia.”

Mereka tampak serius mendengarkan. Mungkin sambil membayangkan apa yang saya katakan.

“Lalu, kenapa bukan Bahasa Indonesia? Ada pepatah yang mengatakan ‘tuntutlah ilmu walau sampai ke Negeri Cina’. Kalau mau Bahasa Indonesia yang menjadi bahasa internasional, anak-anak ibu cari ilmu sebanyak-banyaknya dimanapun, sambil ikut menyebarkan Bahasa Indonesia seperti Bangsa Inggris. Kalau sudah begitu, bukan tidak mungkin jika suatu saat nanti Bahasa Indonesia yang jadi bahasa internasional, ya kan?”

Si Nikson mulai manggut-manggut.

“Baik, masih ada pertanyaan? Kalau sudah tidak ada lagi kita langsung masuk ke materi pertama yaaa... Tapi sebelum itu kita tepuk semangat dulu, supaya anak-anak ibu makin semangat!”

Seketika saya jatuh cinta pada mereka. Hari itu saya belajar. Bahwa menjadi guru pun harus terus belajar. Pasti akan lebih banyak pertanyaan tak terduga dari anak-anak cerdas ini. Bukti bahwa Indonesia menyimpan banyak mutiara berharga, kekayaan bangsa yang sesungguhnya.

Belakangan baru saya ketahui, Si Nikson sendiri ternyata di cap ‘nakal’ oleh beberapa guru lainnya. Barangkali karena celetukan dan pertanyaannya yang tidak biasa. Namun hal tersebut malah membuat saya semakin percaya. Bahwa tiap anak itu istimewa.

***

Apersepsi : Menyampaikan tujuan pentingnya materi pembelajaran agar peserta didik termotivasi mempelajari materi tersebut. Bisa dilakukan dengan memberi pertanyaan, simulasi, membuat teka-teki, bahkan dengan bercerita/mendongeng.

Katong (Bahasa Rote) : Kita        

Baomong (Bahasa Rote) : Berbicara

Su (Bahasa Rote) : Sudah

Sonde (Bahasa Rote) : Tidak/Belum

Dengka : Salah satu nusak (kerajaan) di Rote Ndao yang sekarang mayoritas penduduknya tinggal di wilayah Kecamatan Rote Barat Laut. Di zaman kolonial, Rote Ndao terbagi menjadi 19 kerajaan. Setiap wilayah kerajaan memiliki bahasa dan logat yang berbeda. 

Cerita Lainnya

Logo Indonesia Mengajar
KONTAK

(021) 7221570
info@indonesiamengajar.org

ALAMAT

Jl. Senayan Bawah No. 17,
Kel. Rawa Barat, Kec. Kebayoran
Baru, Jakarta Selatan 12180

© 2020 Gerakan Indonesia Mengajar
Ikut Iuran