Pendaran Sinar Misbah dari Timur

Asa Adetya Pamungkas 24 Februari 2026

Hari masih gelap, matahari belum juga muncul saat aku beranjak ke luar dan memasuki mobil untuk menuju ke Stasiun Cikarang. Jalanan tak pernah sunyi di Bekasi kiranya. Orang-orang sudah berlalu-lalang mencari karunia Tuhan bahkan di pagi yang masih juga buta itu.

Setibanya di stasiun, langkahku sedikit bergegas untuk memasuki gerbong Commuter Line yang sudah siap mengangkut orang-orang yang hendak mencari peruntungan atau sekadar berliburan di ibukota.

Tak terasa, sudah hampir lima bulan sejak aku pulang dari penugasanku sebagai Pengajar Muda di Desa Kilbutak, Kabupaten Seram Bagian Timur, Maluku.

Pagi itu, aku menuju stasiun Manggarai untuk selanjutnya menuju Bandara Internasional Soekarno Hatta dengan menaiki Kereta Bandara. Hari pertama di bulan Februari itu sudah ku tandai di kalenderku sejak dua minggu sebelumnya. Seorang anak dari desa penempatanku, Kilbutak, diberikan kesempatan oleh Tuhan untuk melakukan perjalanan ke Singapura untuk mengikuti program School Immersion yang dilaksanakan oleh Adonta Education bekerjasama dengan Indonesia Mengajar. Dan hari itu, aku akan menemuinya untuk menitipkan sedikit doa dan pesan kepadanya yang sudah begitu membanggakan.

Adiba, seorang gadis mungil nan ceria yang saat ini duduk di kelas 8 Sekolah Menengah Pertama (SMP) adalah anak yang berbakat itu. Masih begitu segar di ingatanku tentang senyumnya yang lebar dan sapaannya yang ramah tatkala kami berpapasan di jalanan kampung yang sempit. Kerap kali, kami bertemu saat tangannya sibuk membawa kotak berisikan roti dan mulutnya sibuk meneriakkan “Roti gula! Roti gula!”, menawari para warga kampung yang memang tak memiliki banyak pilihan jajanan yang bisa mereka nikmati.

Adiba memang anak yang rajin. Sore hari, sepulang dari sekolah, ia selalu membantu ibunya yang merupakan orang tua tunggal untuk berjualan roti keliling kampung. Tak hanya itu, Adiba juga anak yang berbakat, percaya diri, dan senang mempelajari hal baru. Ia selalu bersemangat jikalau ditunjuk sebagai perwakilan sekolah atau desa untuk tampil membawakan puisi atau pidato di acara-acara kecamatan.

Itulah alasan mengapa di bulan November lalu, saat seorang officer mengirimkan flyer berisikan pengumuman seleksi program School Immersion, aku mendaftarkan Adiba. Tentu, dengan menanyakan kesediaannya dahulu sebelumnya.

Saat itu, aku tentu amat berharap agar ia bisa lolos dan melihat dunia secara lebih luas. Namun, jikalau pun belum, setidaknya ia bisa belajar banyak dari proses seleksi tersebut, pikirku. Bukan tanpa alasan, anak-anak di sana memang tidak memiliki banyak kesempatan untuk bisa mengikuti program semacam itu.

Namun, rupanya Tuhan memang Maha Baik. Dia mendengar dan melihat apa yang selalu diupayakan oleh Adiba dan ibunya setiap hari. Dia menumbuhkan mimpi dalam benak Adiba, menjaganya, merawatnya, dan mewujudkannya. Tentu, ini bukan hanya tentang kerja keras Adiba selama proses seleksi, tetapi juga tentang doa yang selalu dipanjatkan dalam sujud-sujud yang sunyi dan damai oleh sang ibu.

--

Sesampainya di Singapura, Adiba selalu memberiku kabar. Ia bercerita tentang kegiatan-kegiatannya, termasuk saat ia sedang berkegiatan di sebuah sekolah, Deyi Secondary School. Tak lupa, ia bercerita tentang teman-teman barunya yang baik hati dan selalu mengajarinya tentang hal-hal baru, serta mambantunya saat ia mengalami kesulitan dalam berkomunikasi menggunakan bahasa Inggris.

Tak hanya berkegiatan di sekolah, Adiba juga mengunjungi beberapa museum serta tempat wisata yang semakin menambah pengetahuan sekaligus pengalamannya dalam melihat dunia secara lebih luas. Pengalaman dan pengetahuan yang akan ia simpan untuk semoga bisa menjadi manfaat yang lebih besar di masa depan.

--

Ah, rasanya begitu hangat saat melihat misbah berisikan penuh dengan mimpi dan harapan yang dibawakan oleh gadis mungil itu berpendar cahayanya sampai ke Singapura. Mungkin sebelumnya, anak-anak di sana bukannya tak berani untuk bermimpi bisa pergi ke luar negeri, hanya saja bagi mereka mungkin tidak terpikirkan untuk bisa bermimpi ‘setinggi’ itu, saking terbiasanya mereka dengan akses yang terbatas. Namun, lewat seorang gadis bernama Adiba semuanya seolah menemukan harapan baru.

Ini tentu bukan hanya tentang mimpi dan harap dari Adiba seorang, tetapi ini juga tentang harapan agar pintu-pintu kesempatan yang sama bisa semakin terbuka lebar bagi setiap anak tanpa terkecuali. Agar tak ada lagi mimpi yang tak berani untuk terbang tinggi. Agar tak ada lagi anak yang tertinggal dan ditinggalkan.

--

Bayangkan jika tiap-tiap kita bergerak lewat jalan kita masing-masing untuk mengupayakan pendidikan yang berkualitas bagi tiap anak, tentu saja akan lebih banyak Adiba-Adiba lain yang akan lebih giat untuk menaruh harap dan doa pada Sang Pencipta, serta mewujudkannya lewat kerja keras dan semangat.

Dan bayangkan, jika kita semua serius mengupayakan perbaikan kondisi pendidikan kita secara esensial dan menyeluruh, serta menyasar kepada kebutuhan fundamental yang ada di lapangan, bukan semata-mata hanya untuk memenuhi ego politik, validasi, atau pun legasi dari beberapa orang atau golongan tertentu. Akan ada berapa banyak anak-anak kita yang tak lagi ragu untuk bermimpi? Akan ada berapa banyak orang tua yang tersenyum lebar sambil sesekali menitikkan air mata saat mimpi-mimpi anaknya terwujud? Dan akan ada berapa banyak misbah yang cahayanya berpendar ke segala penjuru yang siap menerangi cita dan masa depan kita semua—Indonesia?

 

Catatan: Foto Cover memuat wajah anak dan sudah mendapatkan izin dari orang tua yang bersangkutan


Cerita Lainnya

Lihat Semua