Dari Kabut Pegunungan Kami Datang

Muthia Indriani Rangkuti 24 Februari 2026

 

SEMANGAT ANGGUN 

Hari Pendidikan Nasional tahun ini terasa begitu istimewa bagi kami di Moa. Biasanya, perayaan Hardiknas hanya untuk mereka yang di dataran. Namun kali ini, SD Negeri Moa yang berada di gunung juga ikut ambil bagian. Beberapa hari sebelum Hardiknas, kabar datang bahwa setiap sekolah perlu mengirimkan perwakilan FLS3N tingkat kecamatan. Semangat kami sempat surut. Rasanya mustahil: waktu terlalu singkat, persiapan minim, dan akses jalan ke kecamatan yang cukup ekstrim. Namun, ada semangat yang lebih besar dari pada keterbatasan.

Belum selesai memikirkan itu semua, kabar baru datang: lomba dipercepat. Artinya, kami hanya punya dua hari untuk menyiapkan segalanya. Keterdesakan ini memunculkan energi baru. Guru-guru juga opsir semakin semangat, Anak-Anak rela berlatih lebih lama, dan orang tua pun bahu-membahu mempersiapkan apa yang mereka bisa.

Perjalanan ke kecamatan menjadi babak tersendiri dalam kisah ini. Ojek yang ada hanya satu. Sehingga Saya dan Anggun harus berangkat dengan satu motor alias bonceng tiga. Jalan yang kami lalui bukan jalan mulus beraspal. Sepanjang perjalanan, kami melewati jalan tanah yang licin, motor beberapa kali mogok, bahkan sempat tertahan karena longsor.

Akhirnya kami tiba di kecamatan. Ketika undian urutan tampil, Anggun mendapat urutan satu, setelahnya tangannya dingin, matanya berkaca-kaca, anak yang biasanya sangat percaya diri ini ternyata sangat butuh dikuatkan. Banyak orang yang memberikan Anggun semangat, mengapresiasi Anggun yang jauh-jauh datang dari gunung untuk mengikuti lomba menyanyi solo.

Pengumuman tiba, Anggun meraih peringkat Harapan I. Namun, perjuangan SD Moa tidak berhenti di situ. Malam penutupan Hardiknas di kabupaten menjadi puncak kebersamaan kami.

TAK HANYA TARI, TAPI JUGA TEKAD

Anak-anak SD Moa diberi kesempatan tampil menari. Semangat di sekolah begitu terasa. Guru-Guru dengan sabar melatih gerakan tari, sementara para orang tua menyiapkan kebutuhan Anak-Anak, mulai dari kostum hingga bekal perjalanan. Mereka juga ikut mengantar anak-anak turun ke kecamatan. Semua mengambil peran, semua ikut dalam lingkar semangat yang sama: merayakan pendidikan dengan cara kami.

Di momen itu, saya melihat betapa pendidikan bukan hanya urusan kelas atau buku. Pendidikan hidup dalam kebersamaan, dalam keringat dan tawa, dalam dukungan tanpa pamrih banyak pihak. Saya teringat sebuah kalimat yang disampaikan salah satu orang tua siswa, dengan mata berkaca-kaca.

"Saya juga berterima kasih kepada para guru yang telah rela berkorban materi, waktu, tenaga, dan banyak hal lainnya demi membentuk mental, ilmu, serta pengalaman yang tak akan pernah hilang dari sejarah maupun cerita hidup kami. Terutama bagi anak-anak kami, pengalaman ini akan selalu mereka bawa sepanjang kehidupannya. Terima kasih untuk Guru SD Negeri Moa dan Indonesia Mengajar.”

Kata-kata itu menancap kuat di hati saya. Saya sadar bahwa yang kami lakukan mungkin tampak kecil: sebuah lomba nyanyi, sebuah tarian sederhana. Namun, bagi anak-anak dan orang tua di Moa, ini adalah sejarah. Sejarah tentang keberanian mencoba, sejarah tentang gotong royong, sejarah tentang cinta pada pendidikan.

Dari perjalanan ini, saya belajar bahwa merayakan Hardiknas bukan soal megahnya panggung atau besar kecilnya hadiah. Merayakan Hardiknas adalah ketika Anak-Anak pelosok bisa berdiri di atas panggung dengan penuh percaya diri, ketika orang tua tersenyum bangga dari desa melihat anaknya tampil, ketika guru dan masyarakat saling baku bantu agar anak-anak merasakan pengalaman berharga.

 

 


Cerita Lainnya

Lihat Semua