Nasionalisme Sederhana
Ali Akbar Al Ayubi | 26 August 2015

Hari kemerdekaan, dimana semua rakyat Indonesia bersuka cita memperingatinya dengan mengikuti upacara 17 Agustus dan mengadakan lomba – lomba kerakyatan semacam panjat pinang atau yang lainnnya.

Seminggu sebelumnya saya silaturahmi ke rumah bapak sampe kepala Desa Bungan Jaya untuk sekedar ngobrol malam, dalam obrolan ringan malam itu saya bertanya bulan Agustus Desa mengadakan acara tidak pak ? wah itu belum tau jawab bapak tersebut.

Malam itu pak Sampe menemui saya, bagaimana pak guru acara Agustusan untuk anak - anak sekolah ? Jadi pak ,jawab saya, kalau desa gimana pak ? jadi kata pak Sampe sambil mengajak saya menemui bendahara desa, karena ada anggaran desa untuk hari – hari besar nasional.

Malam berikutnya kami rapat untuk membentuk panitia karena acara agustus kali ini di gabung antara sekolah dan Desa karena sebelumnya ternyata hanya sekolah saja yang mengadakan lomba agustusan.

Mari kita mulai rapat kali ini, baiklah pertama yang harus di pilih adalah ketua panitia kata saya, kebetulan malam itu saya di minta memimpin rapat. “ Pak guru saja yang menjadi ketua” sebut ketua Komite Sekolah,  “Tidak bisa pak, kalau bisa dari pemuda atau orang tua murid” jawab saya.

“wah kami belum pernah mengadakan acara perlombaan agustusan seperti ini sebelumnya” kata Arjun pemuda desa. “Maka dari itu kita sama – sama belajar, biar nanti jika tidak ada Pengajar Muda lagi, teman – teman pemuda bisa melanjutkan kegiatan yang pernah dilakukan bersama” jelas saya.

Dan akhirnya panitia terbentuk juga dengan kolaborasi antara perangkat desa sekaligus orang tua murid dan pemuda. Dan ketua panitia dari pemuda Desa, Keesokan harinya kami panitia membuat surat undangan dan membuat susunan acara .hari Sabtu adalah perlombaan untuk anak – anak SD juri dan wasit melibatkan ibu bapak dewan guru dan orang tua murid, riuh suara orang tua wali murid mendukung anaknya masing – masing.

Hari minggunya dimulailah lomba dari desa, di mulai setelah melakukan ibadah bersama. Lomba pertama adalah balap perahu cess, tarik tambang dan bola dangdut, sorenya bola volly, warga begitu antusias mengikuti dan menonton perlombaan, warga desa yang kerja pulang ke desa hanya untuk mengikuti perlombaan atau hanya sekedar menonton, karena di Desa Bungan Jaya ini baru pertamakalinya di adakan acara 17 an.

Senin pagi inilah yang membuat saya terharu di saat upacara bendera, kami mengadakan upacara bendera di Desa di ikuti seluruh siswa – siswi SD dan beberapa warga yang siap  dari pagi untuk mengikuti upacara kemerdekaan yang sederhana ini.

Upacara tahun ini tidak seramai yang pernah saya  ikuti, karena Desa kami jauh menuju ke kecamatan atau ke kabupaten untuk upacara bersama, karena harus melalui jalur sungai, namun tidak membuat kami tidak upacara mengenang jasa para pahlawan yang telah gugur berjuang untuk merebutkan  kemerdekaan.

Namun upacara kali ini adalah upacara terhikmat yang pernah saya ikuti, kita tidak sebanyak peserta upacara di kecamatan atau kabupaten,  tapi kita dengan sepenuh jiwa mengikutinya, aura itulah yang membuat bulu kuduk saya merinding disaat mereka menyanyikan lagu Indonesia Raya bersama. terharu dan merasa bahagia sekali dapat merasakan suasana upacara kali ini. Ini menjadi kebahagiaan tersendiri yang saya dapatkan,

“Bahwa kemerdekaan ini adalah milik semua rakyat Indonesia, walau kami jauh dari Kecamatan atau Kota Kabupaten tapi kami masih di tanah yang sama tanah air Indonesia, kebahagian yang sama pun kami rasakan atas kemerdekaan ini. Untuk itu Upacara kemerdekaan ini bukan hanya untuk mengenang para pahlawan tapi juga meningkatkan rasa nasionalisme dan cinta tanah air kita, kedepannya hal ini perlu di teruskan oleh perangkat desa kedepannya” amanat pembina upacara.

 

Cerita Lainnya

Logo Indonesia Mengajar
KONTAK

(021) 7221570
info@indonesiamengajar.org

ALAMAT

Jl. Senayan Bawah No. 17,
Kel. Rawa Barat, Kec. Kebayoran
Baru, Jakarta Selatan 12180

© 2020 Gerakan Indonesia Mengajar
Ikut Iuran