Belajar Toleransi Dengan Sederhana
Afifalhariri Pratama | 05 July 2015

            “Anak – anak. Toleransi adalah sikap saling menghargai antar individu atau anggota masyarakat. Dalam konteks keagamaan, toleransi berarti sikap saling menghargai dan menghormati agama lain. Dengan kata lain kita tidak boleh mengejek – ejek agama lain. Mengerti?”.

            Tidak. Tidak. Ini bukan cerita saya yang sedang mengajarkan tentang toleransi kepada anak – anak. Tetapi ini ajakan untuk kembali merenungi kembali tentang toleransi. Sudah sejauh manakah kita mengaplikasikan makna toleransi tersebut?. Sejujurnya saya gerah. Terutama ketika membuka beranda facebook di bulan puasa ini. Puncaknya pada pasca keputusan Lukman Sardi yang telah menentukan pilihan agamanya. Beranda facebook dipenuhi cemoohan keagamaan. Merasa diri yang paling benar. Menghakimi keyakinan orang lain yang berbeda dengan dirinya. Coba mari kita dinginkan sejenak api – api yang sedang berada di kepala. Kita tidak akan belajar kepada Nelson Mandela, Mother Teresa, Dalai Lama dan Gus Dur. Mari kita belajar kepada pak Wardi dan ibu Mus warga desa di kecamatan Lalan ini yang mengajarkan betapa indah toleransi dengan cara yang sederhana dan nyata.

            Contoh saja pak Wardi sekeluarga yang beragama Kristen. Beliau tinggal di sekitaran kompleks SD Bandar Agung Lalan. Ketika kami berkunjung ke Bandar Agung, perpustakaan SD adalah pilihan tempat kami menginap. Setelah minta izin dengan pak Imam sang penjaga perpustakaan tentunya. Hal yang membuat saya tercengang dengan pak Wardi adalah ketika di bulan puasa, ia tahu ada beberapa dari kami yang beragama Islam dan menjalankan puasa. Ia pernah membawa rice cooker berisi nasi, rantang yang berisi ikan dan sayur, jajanan ringan serta air minum ke perpustakaan. Ia berkata itu semua buat sahur nanti, siapa tahu katanya kami sungkan membangunkan mereka untuk sahur. Saya tidak habis fikir. Betapa pak Wardi sampai detail memikirkan hal seperti itu. Seperti kami yang sungkan membangunkan mereka untuk memasak hingga mungkin tak bisa sahur. Sungguh sederhana namun sangat indah.

            Selanjutnya ibu Mus yang merupakan hostfamily dari Tio. Ibu Mus adalah seorang pemeluk ajaran Islam yang taat, hal ini dapat dilihat dari rumahnya yang dijadikan tempat mengaji anak – anak pada pagi hari. Suaminya yang menjadi pengurus mesjid dan bu Mus sendiri yang sehari – harinya mengenakan hijab. Tio yang beragama Katolik ditempatkan di rumah ibu Mus. Ketika bulan puasa, ibu Mus justru yang menganjurkan Tio untuk makan. Ketika lapar, makan saja. Ia tidak memaksakan Tio untuk berpuasa bersama. Saya membayangkan andainya saja ibu Mus seperti teman – teman di beranda facebook saya yang sibuk mengkafirkan pemeluk agama lain. Sibuk mencela dan mencari kesalahan agama lain. Bukan hal yang tidak mungkin bahwa Tio akan diusir dari rumah bu Mus. Tetapi nyatanya, Tio dianggap seperti anak kandungnya sendiri. Bahkan, menurut Tio, justru dia yang merasa sungkan kepada ibu Mus karena terlalu baiknya.

            Apakah mereka pernah mengikuti workshop toleransi seperti yang diadakan oleh organisasi Encompass?. Atau kah mereka pernah membaca buku – buku tentang humanisme seperti Phylosophy of Humanism?. Mengkhatamkan karya – karya Pramoedya?. Saya ragu mereka pernah. Tetapi yang mereka lakukan adalah bukti nyata sebuah toleransi dari hal yang paling sederhana. Kalau boleh meminjam terminologi dalam Islam, Lakum dinukum waliyadin. Perkara vertikal, keimanan, keyakinan terhadap suatu ajaran agama, itu perkara individu. Manusia tidak berhak untuk mencampuri hak – hak yang berkaitan dengan individu. Namun dari segi horizontal, sesama manusia, kewajiban secara universal baik itu perintah agama maupun bukan adalah berbuat baik sesama manusia. Dari perspektif toleransi keagamaan artinya secara minimal memberikan kesempatan kepada seluruh ummat beragama untuk melaksanakan perintah agamanya dan tidak memaksa keyakinan beragama kita kepada mereka.

            Di Desa ini saya menemukan betapa pelajaran toleransi itu tidak didapatkan secara teoritis tetapi langsung menyentuh tepat sasaran. Tidak ada kutipan – kutipan dari tokoh humanisme terkenal ketika pak Wardi dengan kedua anaknya yang bahkan membawa rantang masih tergopoh – gopoh ke perpustakaan demi kami agar bisa sahur. Pak Wardi tidak mengutip kata – kata Dalai Lama yang berbunyi “Jika mampu, tolong bantulah orang lain. Jika tidak, setidaknya jangan mecelakakan orang lain”. Atau ibu Mus yang kemudian berkata “Tidak ada orang yang lahir untuk membenci sesama karena perbedaan warna kulit atau agama”.

            Mereka berbicara dengan bahasanya sendiri. Mereka berbicara dengan cara yang sederhana. Mereka mengajarkan bahwa toleransi itu bisa dilakukan oleh siapa saja. Sebab sejatinya ketika berbicara tentang toleransi, humanisme, dia adalah bahasa yang paling universal. Tidak memiliki batasan – batasan.

            Mengapa kita yang di facebook tidak malu kepada mereka?. Kita yang bertitel segudang dengan kadar intelektual yang katanya ciamik, yang sering mengutip quote – quote terkenal, tidak bisakah kita bertoleransi dengan sederhana?. Minimal tidak mencaci maki keyakinan orang lain di beranda facebook?.

           

            

Cerita Lainnya

Logo Indonesia Mengajar
KONTAK

(021) 7221570
info@indonesiamengajar.org

ALAMAT

Jl. Senayan Bawah No. 17,
Kel. Rawa Barat, Kec. Kebayoran
Baru, Jakarta Selatan 12180

© 2020 Gerakan Indonesia Mengajar
Ikut Iuran