Okt
31

Setiap anak adalah masterpiece yang sempurna, kata Bapak Munif Chatib pada pelatihan intensif kami sebelum diterjunkan ke lapangan. Kini, aku pun sependapat dengan beliau, setiap anak selalu menunjukkan hal-hal yang luar biasa. Kepolosan dan kejujurannya dalam bertutur sering kali mengundang decak kagum dariku sekaligus pemikiran mendalam sebagai bahan refleksi atas apa yang terjadi di kehidupan nyata. Beberapa kejadian sudah membuktikan hal itu, ini sekelumit kisah anak-anak yang menjadi satu dari sekian banyak bahan perenunganku yang mengkonklusikan bahwa setiap anak adalah masterpice.

Siang itu aku memberikan soal-soal pra UTS sebagai latihan dalam menghadapi UTS yang akan dilaksanakan seminggu lagi. Sekaligus, aku ingin mengetahui sejauh mana pemahaman anak-anak di kelasku tentang berbagai materi yang sudah diberikan. Tentu saja saat ini aku sedang membicarakan tentang tes kognitif, yang mengukur pemahaman siswa dilihat dari kebenaran jawaban yang mereka tuliskan. Saat itu pelajaran Pkn. Setelah kubagikan soal, anak-anak kelas IV dan V di kelasku langsung terpaku pada selembar kertas di hadapan mereka. Mulut mereka berdesis membaca (mengeja) kata demi kata yang dirangkai menjadi soal yang harus bisa mereka takhlukkan. Kupandangi wajahnya satu per satu. Lucu memang, melihat mereka yang biasanya hiperaktif dan tidak mau diam sekarang bergeming dengan mimik yang beragam. Terkadang tersenyum dengan muka penuh kemenangan ketika mereka bisa mengisi soal, menggaruk-garuk kepala dengan muka mengernyit dan dahi terlipat. Ada pula yang memandang dengan mata kosong ke arah kertas ulangan mereka sambil menggigiti ujung pulpen mereka, tampaknya seperti melamun. Beberapa bahkan terlonjak kaget dan memasang ekspresi yang jenaka dengan mata dan mulut terbuka lebar saat kuumumkan waktu yang tersisa tinggal 15 menit. Anak-anak pun semakin gelisah.

Kubaca soal-soal itu sekali lagi, seteah puas kusimpan di tempatnya. Tidak ada yang sulit seharusnya, pikirku. Tak terasa 90 menit pun telah lewat. Aku mengumumkan waktu habis sekaligus meminta mereka mengumpulkan kertas jawabannya saja di meja guru. Seperti biasa kutanyai mereka, “ Bagaimana ulangannya anak-anak?”, dengan muka cerah  serentak mereka menjawab “ Bisaaaaa Paaaak!”. Aku pun tersenyum, percaya saja dengan mereka. Ini yang kupelajari dari mereka, optimis. Padahal mungkin saja itu cara mereka untuk menyenangkan hati gurunya. Setelah membahas soal-soal tadi, aku pun melihat jawaban-jawaban mereka pada jam istirahat di ruang guru.

Pada soal pilihan ganda, memang tidak banyak kesulitan yang mereka temui. Namun begitu masuk ke soal essai, jawaban menakjubkan pun bermunculan. Satu soal yang terlalu tidak wajar jika kuabaikan adalah pertanyaan “Apa tugas utama polisi?” karena hampir semua anak menjawab “Menangkap maling”. Kurang lebih isinya seperti itu, walaupun dengan diksi yang berbeda-beda tentunya. Aku pun termenung, sesederhanakah itukah pemikiran ank-anak ini. Tugas utama polisi bagi mereka hanya menangkap maling?! Pikiranku pun melayang, mencari memori tentang pelajaran ini. Sistem pemerintahan daerah, ya itu dia! Aku sempat menjelaskan lembaga-lembaga yang mendukung pemerintahan daerah. Kusebutkan Polres, yaitu kepolisian resort yang ada di tingkat kabupaten. Tapi tunggu dulu, apakah aku sempat membahas tentang tugas polisi. Syaraf otakku bekerja keras memanggil ingatan itu. Nah dapat!

****

Waktu itu di ruangan kelas seperti biasanya, kubuat kelas IV yang jumlahnya hanya 10 ornag itu duduk melingkar. Kuperlihatkan kepada mereka gambar polisi yang kubuat di atas kertas A4 dan kuwarnai.

“Kalian tahu siapa ini?”

“Pak polisiii...”, ujar beberapa anak kompak

“Dari mana kalian tahu ini gambar polisi?”, tanyaku lebih lanjut mencoba mengenali cara berpikir mereka.

“Dari bajunya Pak..”, kata imam

“Topi nya Pak..”, adit melanjutkan

“Oke bagus, siapa yang tahu apa tugas polisi?”

“Menangkap penjahat Pak..”,jawab Letri

“Ya, bagus Letri.. ada lagi yang lain?”

“Menangkap maling, Pak..”, ujar Imam lagi

“Siip betul Imam, sekarang.. kalau tidak ada penjahat dan tidak ada maling bagaimana? Apa artinya?”

Kuperhatikan mereka yang tampak berpikir keras, entah mencari jawaban atau mencoba mencerna bahasaku yang masih asing bagi mereka.

Kudiamkan saja mereka, menunggu salah satu dari mereka mengutarakan pendapatnya.

“Jadi aman Pak.. tidak takut lagi..”, Kalpin menjawab dengan suara pelan dan mau-malu.

“Hebat Kalpin, betul ya pendapat teman kalian. Kalau tidak ada penjahat dan maling hidup kita akan aman, tidak perlu takut lagi..” ujarku senang karena akhirnya ada yang menjawab

“Sekarang.. dari jawaban Kalpin tadi Bapak ulangi pertanyaannya ya.. jadi kira-kira tugas utama polisi itu apa?” tanyaku lagi mencaba konstruktif

“Menangkap maling Pak..” jawaban itu lagi-lagi keluar dari mulut Imam

“Iya betul,, tapi yang lebih tepat apa? Ayo tadi sambungkan dengan jawaban dari Kalpin..”

“menangkap penjahat Pak”, ujar suara di ujung, entah siapa.

Aku menarik nafas perlahan, mencoba bersabar. Kupancing dengan cara lain. Apakah memang tugas polisi di mata anak-anak ini harus spesifik? Kulihat text book yang menyebutkan tugas polisi adalah menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat. Kuputuskan untuk memberi tahu mereka karena belum ada yang bisa menyimpulkan. Setelah kujelaskan mereka mengangguk-angguk. Kutanyai mereka apakah mengerti tugas polisi. Mereka menjawab lantang “Mengertii Paaak..”

***

Kembali kulihat lembar jawaban siswa itu. Sama sekali tidak ada yang menjawab menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat. Bahkan kata aman sekali pun tidak muncul dari jawaban-jawaban mereka. Yang mereka ingat adalah jawaban Imam yang mungkin memang mewakili pemahaman mereka semua atas tugas polisi, yaitu menangkap maling. Aku termenung, memikirkan dan mencoba menyelami pemikiran anak-anak itu. Setidaknya, aku berusaha mengingat bagaimana pandanganku terhadap polisi waktu aku seusia mereka. Nihil. Yang muncul dalam ingatanku malah bagian dari novel The Kite Runner ketika seorang Ayah mengatakan kepada anaknya mengenai kejahatan yang paling berat dosanya. Ia menyebut mencuri adalah kejahatan yang paling tidak bisa dimaafkan.

Mencuri merupakan akar dari semua kejahatan. Jika kamu sudah mulai memikirkan untuk mencuri, berarti sebentar lagi kamu akan menjadi manusia paling jahat yang pernah ada. Mengapa demikian? Mencuri artinya mengambil sesuatu yang bukan merupakan hak kita. Korupsi? Jelas mencuri. Mencuri uang rakyat. Membunuh? Itu juga secara filosofis mencuri, mencuri hak seseorang untuk hidup. Mencemarkan nama baik seseorang berarti mencuri hak orang itu untuk hidup tenang. Mengedarkan narkotika berarti mencuri hak seseorang untuk hidup sehat. Jika direnungkan, argumen si ayah di novel tersebut memang benar. Segala jenis kejahatan pada intinya adalah mencuri atau maling, dalam bahasa anak-anak dusunku.

Aku pun tersenyum, sejauh itukah pemikiran anak-anak ini. Tentu tidak akan sedetail dan sedalam itu. Namun, intuisi mereka pastilah sudah sampai kesana. Kuambil jawaban-jawaban itu, kuberi tanda senyum untuk setiap jawaban-jawaban mereka. Apakah itu artinya jawabannya benar? Tidak kuberi nilai penuh tentu saja, tapi tidak juga kuanggap salah. Tanda senyum sendiri merupakan apresiasi terbesar dari saya untuk anak-anak ini. Untuk kepolosan dan kesederhanaan pemikiran mereka, yang berhasil membuat gurunya belajar kembali. Belajar memahami dan menyelami apa yang ada dalam pikiran siswa-siswinya.

****

Tebat Rawas, 15 September 2012

Salam Hangat,

Adhi Rachman Prana

6 Komentar
Tinggalkan komentarmu

Belum punya akun? Daftar sekarang!