Indonesia Mengajar

Pojok Refleksi

Pendidikan di Tengah Pandemi: Mengapa Larut dalam Drama, Kalau Masih Ada Pilihan untuk Berjuang Bersama?

Fri, 25 September 2020

Pendidikan itu tanggung jawab siapa? Sebuah pertanyaan yang sering muncul dengan berbagai jawaban. Ada yang menjawab bahwa pendidikan itu tanggung jawab pemerintah atau negara; ada juga yang menjawab bahwa pendidikan itu tanggung jawab masing-masing individu atau keluarga; ada juga yang mengatakan bahwa pendidikan adalah tanggung jawab semua orang—semua elemen masyarakat yang berkecimpung di dalamnya. Tentu dari semua jawaban itu, jawaban yang dipercaya oleh Indonesia Mengajar adalah jawaban ketiga, yaitu pendidikan adalah tanggung jawab setiap orang. Mulai dari orang tua, tenaga pendidik, lembaga pendidikan yang dikelola negara maupun swasta, semuanya memiliki peran dan tanggung jawab yang sama untuk memperbaiki pendidikan.

Tidak bisa ditampikan, ada beberapa individu yang memiliki privilege sehingga dituntut untuk bertanggung jawab lebih dalam membantu proses pendidikan menjadi lebih baik. Sosoknya diperlukan untuk menjadi faktor penggerak proses pendidikan. Orang-orang itu adalah mereka yang mendapat pendidikan. Anies Baswedan pernah mengatakan bahwa “Mendidik adalah tanggung jawab setiap orang terdidik. Berarti juga, anak-anak yang tidak terdidik di Republik ini adalah ‘dosa’ setiap orang terdidik yang dimiliki Republik ini. Anak-anak nusantara tidak berbeda. Mereka semua berpotensi. Mereka hanya dibedakan oleh keadaan.”

Di belahan dunia lain, Penulis Amerika, Stan Lee melalui tokoh Peter Parker di film Spider-Man, berpendapat, “Seiring dengan kekuatan yang besar, datang juga tanggung jawab yang besar.” Hal itu menggambarkan bahwa setiap orang terdidik di negeri ini bagaikan orang dengan kekuatan besar dan mendapat tanggung jawab yang besar pula untuk mendidik yang lainnya. Apalagi di negara kita, di mana akses pendidikan yang berkualitas belum merata, sehingga peran dan tanggung jawab itu menjadi semakin mendesak.

Menjadi Pengajar Muda adalah salah satu bentuk tanggung jawab orang terdidik untuk membantu sesama. Tetapi perlu digarisbawahi, bahwa Pengajar Muda bukanlah satu-satunya kunci untuk menyelesaikan suatu permasalahan. Pengajar Muda hanyalah salah satu pendorong yang kekuatan dorongannya juga bergantung pada masyarakat di lingkungan tersebut. Maka, untuk menghasilkan perubahan yang baik dan berkelanjutan, Pengajar Muda tidak bisa bekerja sendiri.  Ia harus bekerja sama dengan berbagai stakeholder, yang kemudian terjadi bisa saja Pengajar Muda hanya menjadi pemicu untuk mendorong stakeholder tersebut bergerak membangun pendidikan yang lebih baik. Kita mengenal proses bekerja bersama ini sebagai sebuah bentuk kolaborasi.

Zulfa, salah satu Pengajar Muda yang ditempatkan di Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Kalimantan Selatan memiliki pengalaman kolaborasi dengan berbagai stakeholder di penempatannya. Sama dengan Indonesia Mengajar, setahun bersinggungan dengan dunia pendidikan membuat Zulfa paham bahwa kemajuan pendidikan adalah tanggung jawab kita semua, baik kepala sekolah, guru, orang tua, masyarakat desa, masyarakat kabupaten, hingga para pemangku kebijakan yang terkait. Pendidikan bagaikan jaring-jaring makanan yang saling berkesinambungan. Jika ada satu yang hilang atau tidak menjalankan perannya, maka jaring-jaring pendidikan tidak akan berjalan dengan baik.

Zulfa telah purna tugas sebagai Pengajar Muda. Namun masih hangat dalam ingatannya, hari ketika ia mendapat kabar dari guru yang ada di pulau seberang, yang berjarak kurang lebih 1246 km dari tempat tinggalnya. Jauh ya? Untungnya kemajuan teknologi saat ini membantu kita untuk berdekatan dan saling berinteraksi dengan orang-orang yang lokasinya jauh di luar sana. Beliau memberi kabar bahwa salah satu muridnya di SDN Riam Talo 2, Ahim namanya, lolos untuk lanjut ke Kompetisi Sains Nasional (KSN) atau yang dulunya kita kenal dengan OSN (Olimpiade Sains Nasional) tingkat provinsi. 

Pada tahapan kompetisi sebelumnya, yaitu KSN tingkat kecamatan dan kabupaten, Zulfa memang diberikan tugas oleh sekolah untuk mendampingi Ahim. Sehingga ketika mendapatkan kabar tentang kelanjutan dari kompetisi tersebut, Zulfa pun langsung dikabari. Sekarang kondisinya Zulfa sudah tidak bertugas di sana lagi. Lalu, bagaimana setelah Zulfa tidak di sana? Jujur, hal ini sempat membuat Mama Ahim pesimis untuk memberikan izin anaknya lanjut lomba di tingkat provinsi, “Karena tak ada Zulfa,” katanya. Sedangkan Mama tak paham akan materi sekolah dan pelajaran anaknya.

Kompetisi Sains Nasional (KSN) tingkat provinsi ini sempat dikabarkan akan ditiadakan karena kondisi pandemi. Akan tetapi, pada akhirnya kompetisi ini tetap diadakan, meski dilakukan secara daring. Bagi sebagian orang, melakukan pembelajaran daring adalah hal mudah, namun tidak bagi Aham yang tinggal di  desa dengan sinyal internet yang cukup sulit didapatkan. Hal ini semakin membuat Mama Ahim ragu mengizinkan anaknya melanjutkan kompetisi.

Sekolah juga sempat ragu. Guru-guru merasa tak yakin dengan kemampuannya untuk mendampingi siswa dalam kompetisi ini, karena ini adalah pengalaman pertama bagi mereka untuk mengikutkan siswa pada kompetisi tingkat provinsi. Namun, setelah proses yang lumayan panjang dan perenungan di masing-masing pihak, pihak sekolah dan Mama Ahim akhirnya bersepakat akan mengambil kesempatan ini untuk belajar. Mama akhirnya memberikan izin. Kepala sekolah pun membantu mengurus surat dan berkas yang diperlukan untuk mengikuti perlombaan ini. Semua orang berpartisipasi untuk mendukung KSN ini. Bahkan, Koordinator KSN kabupaten pun berjuang mengupayakan agar para peserta didik dapat mengikuti lomba dengan baik dan tanpa halangan.

Berdasarkan hasil kesepakatan bersama tim pembinaan KSN dan untuk memperlancar kegiatan di hari perlombaan, maka dilakukan terlebih dahulu uji coba sistem KSN secara virtual melalui aplikasi. Tim pembinaan dan peserta KSN melakukan uji coba secara bersama-sama di SDIT Qurrota A'yun—tempat  ini dipilih karena mempertimbangkan ketersediaan sinyal internet di desa yang belum terjangkau, salah satunya desa penempatan Zulfa.

Uji coba dilakukan dengan menggunakan laptop—ini merupakan hal baru bagi Ahim untuk mengoperasikannya. Tentu ini bukan hal mudah, tapi  menjadi pembelajaran berharga nantinya bagi siswa. Di tengah kondisi yang serba terbtas, masih ada hal yang patut disyukuri, Wali Kelas Ahim, Pak Juhri, masih bisa mengoperasikan laptop dan melek teknologi. Beliau juga termasuk orang yang peduli akan minat dan potensi siswa. Meski sedang cuti untuk mengikuti pelatihan guru, beliau masih menyempatkan waktu untuk mendampingi siswanya. Termasuk hari ini, Pak Juhri turut mendampingi Ahim di dalam ruangan untuk melakukan uji coba sistem.

Indonesia Mengajar percaya—sebagaimana Zulfa juga percaya—bahwa kegiatan uji coba sistem tentu tidak akan terlaksana jika orangtua tidak mendukung anaknya. Tak berlebihan rasanya jika perasaan salut kita berikan kepada Abah dan Mama Ahim yang menjalankan peran sebagai orangtua dengan baik. Peran untuk mendukung pendidikan anaknya serta mendorong potensi dan minat yang dimiliki anaknya, salah satunya dengan mengantarkan dan menemani anaknya untuk uji coba sistem KSN yang jaraknya jauh dari desa. Pun ketika di rumah, mereka membantu anaknya mengulang materi pelajaran dengan tebak-tebakan soal yang sebelumnya sudah dikoreksi oleh guru sekolah.

Tentunya ini adalah sesuatu hal yang baik, yang kadang lupa untuk kita berikan apresiasi. Beberapa keluhan yang ada akibat pandemi, sadar atau tidak, sebenarnya sedang mendorong kita untuk mengeratkan gandengan tangan untuk berjuang bersama. Yap! Hikmah dari pandemi ini membuat semua orang bergerak bersama, termasuk orangtua, guru, dan yang lainnya untuk mengupayakan pendidikan menjadi lebih baik bagi anak-anaknya. 

Ah, betapa syahdunya melihat kisah-kisah penggerak pendidikan di tengah pandemi. Orang-orang yang enggan larut dalam drama, karena lebih memilih untuk berjuang bersama.

***
Ditulis oleh : Arofatuz Zulfa Zakiyyah, PM XVII Kabupaten Hulu Sungai Selatan
Disunting oleh: Redaksi Pojok Refleksi Indonesia Mengajar


*Apabila teman-teman ingin berkontribusi untuk mengirimkan tulisan ke Pojok Refleksi Indonesia Mengajar, dengan senang hati kami akan menerimanya. Silakan hubungi lebih lanjut melalui pojokrefleksi@indonesiamengajar.org

 

Ikut Iuran
Ikut terlibat dalam pendanaan Program Pengiriman Pengajar Muda ke berbagai titik di Indonesia.

Newsletter
Ingin mendapatkan pemberitahuan terkait kabar-kabar dari Indonesia Mengajar?

Berlangganan
Konten Lainnya

Indonesia Tangguh: Merdeka di Bumi, Merdeka di Langit
26 August 2021
Inisiatif yang Membawa Dampak Positif
02 November 2020
Membangun Manusia Berarti Membangun Bangsa
23 October 2020
Apresiasi dan Kolaborasi Jadi Kunci Lewati Pandemi
17 October 2020
Pendidikan di Tengah Pandemi: Mengapa Larut dalam Drama, Kalau Masih Ada Pilihan untuk Berjuang Bersama?
25 September 2020
Internet Tak Hanya Tentang Saling Terkoneksi, Melainkan Bentuk Partisipasi
18 September 2020
Seluruh Konten