Indonesia Mengajar

Pojok Refleksi

Internet Tak Hanya Tentang Saling Terkoneksi, Melainkan Bentuk Partisipasi

Fri, 18 September 2020

Internet sudah menjadi barang lumrah di masyarakat sekarang. Perkembangan dan penyebarannya semakin hari semakin pesat. Sekarang saja, penggunanya sudah mencapai 4,5 miliar orang dari seluruh dunia. Padahal di tahun 1995, pengguna internet baru mencapai 16 juta orang. Internet sendiri baru berkembang di abad ke-20, tepatnya di tahun 1960-an—tentunya di tahun tersebut tidak pernah ada yang membayangkan bahwa internet akan berkembang seperti sekarang.

Internet telah banyak menyebabkan perubahan sosial di masyarakat. Salah satunya fenomena yang disebut globalisasi, di mana setiap orang di dunia terhubung satu sama lain melewati batas ruang dan waktu. Globalisasi banyak memudahkan manusia dalam berinteraksi satu sama lain, dalam hitungan detik mudah bagi siapapun untuk mengetahui apa yang terjadi di belahan dunia lain, meski jarak yang memisahkan bisa ribuan kilometer dan zona waktu yang berlaku jauh berbeda.

Internet telah mengubah banyak hal, salah satunya cara manusia berinteraksi. Dalam hitungan detik kita bisa memesan transportasi online untuk bepergian dengan menggunakan jasa driver yang sama sekali tidak kita kenal; berbicara secara tatap muka dengan saudara yang dipisahkan oleh pulau; memesan makanan saat tengah malam tanpa harus keluar rumah. Semuanya mudah dengan adanya internet.
Berbagai kegiatan di atas merupakan hal positif yang bisa kita lakukan dengan internet. Namun, seperti pisau yang bermata dua, tajam dan banyak kegunaannya—bukan hanya memotong bawang atau daging, tetapi bisa juga digunakan untuk kejahatan—internet selalu memiliki sisi yang tak selamanya baik. Di dalam Film Dokumenter yang diproduksi oleh Netflix, The Social Dilemma, memperlihatkan bagaimana efek buruk internet terhadap kehidupan manusia.

Kecanduan, kesepian, hoax, hingga penjualan data pribadi merupakan masalah serius yang ditimbulkan oleh internet. Hal tersebut bisa jadi lebih parah jika dimanfaatkan oleh pengguna internet yang masih di bawah umur, anak-anak yang seharusnya bisa banyak bermain justru terkurung di rumah memandang layar handphone—terlebih lagi tanpa pemahaman dari orang sekitar tentang bahayanya konten-konten kekerasan atau tindak asusila yang bertebaran di internet.

Setiap hal di dunia ini tampaknya memang selalu memiliki sisi positif dan negatif. Seperti pisau yang jika digunakan dengan baik maka kegunaanya akan luar biasa bermanfaat bagi manusia—internet pun begitu, benda itu hanya alat dan diperlukan pemahaman yang sangat baik agar bisa benar-benar menggunakan alat yang satu ini.

Sudah menjadi kodrat manusia untuk saling berinteraksi satu sama lain, itulah kenapa manusia disebut dengan makhluk sosial. Makhluk yang membutuhkan orang lain bukan sekadar untuk memenuhi kebutuhan jasmani, lebih dari itu, kebutuhan ragawi yang sering disebut dengan mental juga dipenuhi oleh orang lain. Itulah kenapa manusia senang berorganisasi, membangun komunitas, saling membantu satu sama lain setidaknya di lingkup  paling kecil, yaitu keluarga sendiri.

Di dalam keilmuan sosiologi, sifat dasar manusia adalah melakukan interaksi sosial, hal yang tidak bisa dilakukan sendiri, melainkan harus melibatkan orang lain. Kehidupan bermasyarakat muncul akibat interaksi-interaksi tersebut, dari level mikro hingga makro interaksi selalu terjadi. Melalui interaksi, manusia membentuk nilai dan norma, memperoleh rasa aman karena saling menjaga, memenuhi kebutuhan emosional untuk saling mencintai, bahkan tidak jarang juga melahirkan konflik. Semuanya bermula dari sifat dasar manusia sebagai makhluk sosial yang membutuhkan interaksi.

Di tengah pandemi ini, kita diwajibkan untuk menjaga jarak dan diam di rumah selama waktu yang sama sekali tidak bisa diprediksi. Hal itu pula yang menjadi salah satu hambatan bagi pemenuhan kebutuhan manusia sebagai makhluk sosial. Akan tetapi, manusia selalu menemukan cara untuk keluar dari impitan situasi. Salah satu cara manusia berinteraksi bisa dilakukan dengan media internet—berbagai fenomena baru muncul, seperti work from home, pembelajaran jarak jauh, yang pada intinya membentuk kebiasaan baru di mana internet menjadi sebuah kegiatan yang sangat berarti bagi kehidupan masyarakat.

Tentu itu bukan hal yang negatif mengingat banyak orang yang membayangkan jika pandemi terjadi ketika internet belum ditemukan. Betapa membosankannya hidup di rumah dan hanya berinteraksi dengan keluarga, tidak bisa bekerja, tidak bisa menonton, tidak bisa memesan makanan, dan tidak bisa berinteraksi dengan teman. Tentu dalam hal ini, internet telah membantu kebutuhan manusia yang paling mendasar, yaitu hubungan sosial dengan orang lain. 

Tetapi bagaimana pun juga, penggunaan internet yang terlalu berlebihan dan banyak mengakses konten negatif juga bukan merupakan hal baik. Mengutip perkataan Christopher Mccandless  dalam Film Into The Wild, “The very basic core of a man's living spirit is his passion for adventure. The joy of life comes from our encounters with new experiences, and hence there is no greater joy than to have an endlessly changing horizon, for each day to have a new and different sun.”

Internet hanya alat untuk melakukan petualangan, bukan petualangan itu sendiri. kehidupan sesungguhnya adalah kehidupan nyata, kehidupan orang disekitar kita.

Cerita kali ini datang dari timur Indonesia, tepatnya Kabupaten Maluku Barat Daya. Ada delapan Pengajar Muda yang ditempatkan di sana, salah satunya Pauline Samuyugi, atau biasa dipanggil Ugi, seorang gadis keturunan Tionghoa asal Bandung yang ingin mengabdikan dirinya untuk perubahan yang memajukan Indonesia. Ugi ditugaskan di Desa Batumerah, Kecamatan Damer.

Desa Batumerah adalah salah satu surga dari Indonesia timur. Tempat ini tidak akan pernah membuat masyarakat kelaparan, daerah yang berada di tepi pantai, sekaligus di bawah kaki gunung telah memberikan segalanya bagi masyarakat. Meski tinggal di dekat pantai, sebagian masyarakat hidup dari berkebun. Tanaman cengkeh dan pala menjadi komoditas utama yang menghasilkan uang,. Hasil bumi itu kebanyakan dikirim ke Surabaya melalui tengkulak setiap tahun ketika panen. Tidak hanya itu, untuk konsumsi keluarga, masyarakat juga berkebun di halaman rumah, tanaman seperti sawi dan kangkung mudah ditemui di setiap halaman rumah warga. Buah-buahan seperti jambu, mangga, pisang juga sangat melimpah, belum lagi makanan laut seperti cumi-cumi, kerang dan ikan juga tersedia.

Sebuah misi yang dibawa oleh Pengajar Muda, yaitu mendorong perbaikan mutu pendidikan di daerah tempatnya mengabdi diwujudkan dengan cara mengajak berbagai stakeholder untuk sama-sama membangun desa menjadi lebih baik, entah itu dari segi sarana dan prasarana, serta kualitas lain yang bisa memperbaiki kehidupan sosial ekonomi masyarakat.

Salah satu fenomena yang dihadapi oleh Ugi di Desa Batumerah adalah munculnya internet. Menjadi barang baru dan mewah bagi masyarakat Batumerah ketika adanya internet, tentu berbagai perubahan terjadi dengan sangat cepat, entah itu positif maupun negatif, keduanya bisa saja terjadi. Tugas Pengajar Muda saat itu adalah bagaimana meminimalkan efek negatif dari internet terhadap masyarakat, terutama anak-anak.

Ugi yang tinggal bersama Ibu Pendeta sebagai salah satu stakeholder di sana, tentu memiliki keuntungan tersendiri. Desa yang mayoritas dihuni oleh masyarakat beragama Kristen sangat menghormati Pendeta. Di Batumerah, Pendeta memiliki stratifikasi sosial yang sangat tinggi, sehingga sangat dihormati dan petuahnya selalu dituruti.

Ugi melihat bahwa internet yang masuk ke desa membuat masyarakat sangat antusias, begitupun dengan anak-anak, mereka mulai bisa belajar melihat dunia luar, mengetahui apa yang terjadi di berbagai tempat selain Maluku Barat Daya. Selain manfaat yang bisa didapatkan, tersimpan risiko yang juga membahayakan, terutama mudahnya mengakses konten-konten negatif bagi anak-anak.

Melalui keresahan tersebut dan bantuan Ibu Pendeta, Ugi mencoba mengumpulkan masyarakat, kemudian mensosialisasikan bahaya internet, terutama bagi anak-anak. Ugi tidak melarang masyarakat untuk menggunakan internet karena internet juga memiliki banyak manfaat. Ugi dan Ibu Pendeta memberikan sosialisasi cara menggunakan internet positif untuk anak-anak, agar konten yang ditampilkan dapat diseleksi sehingga anak-anak tidak terpapar konten-konten yang tidak semestinya mereka terima.

Setelah sosialisasi dilakukan, kini banyak orang tua yang sadar akan sisi negatif yang bisa ditimbulkan oleh internet. Orang tua juga menyambut baik sosialisasi tersebut dan tentunya berbondong-bondong untuk menggunakan fitur internet positif untuk handphone mereka. Hal ini tentu bisa memaksimalkan potensi internet dan menjauhkan hal-hal negatif yang bisa ditimbulkan.

Seperti yang kita pahami, internet adalah alat. Manfaat dari alat tersebut sangat bergantung dari siapa dan untuk apa alat tersebut digunakan. Selain melakukan sosialisasi, Ugi tak berhenti begitu saja untuk memanfaatkan potensi keberadaan internet. Berawal dari keinginan Ibu Pendeta untuk membangun Taman Baca di desanya, Ugi mencoba mewujudkan hal tersebut melalui bantuan internet—melalui setiap orang yang berada di belahan tempat lain yang peduli dan ikut membantu terbentuknya Taman Baca tersebut.

Potensi bantuan sangatlah tinggi, apalagi ketika itu sedang awal pandemi di negeri ini. Banyaknya orang yang tinggal di rumah menjadi potensi besar untuk mereka bisa melihat konten yang Ugi bagikan di internet, yang berisi ajakan untuk berdonasi buku. Melalui video dua menit yang Ugi buat dan sebarkan di media Instagramnya, ternyata berhasil banyak mengundang empati masyarakat hingga mengirimkan bukunya ke Maluku Barat Daya. Setidaknya ada 27 kardus seukuran 50 cm persegi yang sampai di Batumerah. Suatu yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya bahwa ternyata banyak sekali orang yang peduli dan ternyata kekuatan internet sangat besar untuk membantu banyak orang.

Orang lain mungkin berpikir bahwa butuh jutaan rupiah untuk mengirim buku dari luar pulau menuju Maluku Barat Daya, memang betul jika kita menggunakan jasa ekspedisi. Namun ternyata ada jalan lain yang bisa ditempuh. Ugi mengumpulkan buku-buku dari donatur di Bandung, tempat kediaman orang tuanya. Setelah semua terkumpul, buku tersebut tidak langsung dikirim ke Maluku Barat Daya, melainkan ke Surabaya terlebih dahulu, kemudian baru dititipkan ke beberapa kapal yang memang berlayar menuju ke Maluku Barat Daya, salah satunya melalui kapal pengiriman logistik. Lihatlah, ternyata jika kita ingin berbuat baik, semesta selalu memiliki cara agar hal itu bisa menjadi mudah—dan kemudahan itu hanya datang kepada mereka yang selalu percaya dan berbuat baik.

Sesampainya di Maluku Barat Daya, buku yang banyak itu belum memiliki tempat untuk bisa dibaca oleh anak-anak. Maka Ugi bersama Ibu Pendeta mencari tempat untuk membangun taman baca. Taman baca dibangun melalui bantuan warga yang berbondong-bondong mengerjakannya—mulai dari mempersiapkan pondasi, mencari bahan bangunan, membuat rak buku,  mengecat dan yang lainnya, semua dilakukan bersama-sama. Setelah terbangun, akhirnya anak-anak bisa bermain sekaligus mengisi taman baca yang dibangun warga dengan sangat antusias.

Indonesia Mengajar memang tidak pernah mengirim barang ke daerah penempatan. Indonesia Mengajar lebih percaya bahwa bantuan terbesar adalah iuran kehadiran dan pengembangan potensi lokal. Kehadiran Pengajar Muda untuk menemani masyarakat yang memiliki keinginan untuk berdaya menjadi landasan utama kerja Indonesia Mengajar. Ugi menyambut keinginan Ibu Pendeta untuk membangun taman baca dengan cara menjejaringkan masyarakat di Batumerah dengan donatur buku di belahan dunia lain. Bahkan, ketika beberapa donatur buku menawarkan alat tulis untuk masyarakat Batumerah, Ugi menolak. Alat tulis bisa selesai dan habis digunakan oleh anak-anak, berbeda dengan buku tentunya, benda yang merupakan hasil swadaya masyarakat tersebut akan terus bisa dibaca oleh anak-anak dan taman baca yang dibangun oleh masyarakat hasil jerih payah masyarakat akan kekal abadi. Posisi Ugi hanya sebagai pemantik perubahan yang memang sudah direncanakan sejak lama oleh masyarakat di Desa Batumerah.

Kita tidak pernah bisa mencegah perubahan yang disebabkan oleh kemajuan atau sebuah bencana alam. Internet adalah sebuah perubahan kemajuan, setiap masyarakat tidak bisa dicegah untuk mengonsumsi hal tersebut. Akan tetapi, seperti konsumsi lainnya, kita bisa membatasi konsumsi agar hanya hal-hal yang baik yang kita terima. Internet bisa menjadi tempat kita belajar jika diarahkan dengan benar dan memberikan edukasi agar efek buruk internet tidak terjadi.

Internet pun bisa menjadi alat untuk membantu banyak orang, membantu meski dalam situasi pandemi seperti ini. Kita masih bisa bermanfaat. Seperti yang telah dituliskan di atas, ketika kita ingin berbuat baik, maka semesta selalu memiliki cara agar hal itu bisa menjadi mudah.

Ugi dan masyarakat Batumerah berhasil membuktikan bahwa internet tak hanya tentang saling terkoneksi, melainkan bentuk partisipasi. 
 

***

Redaksi Pojok Refleksi Indonesia Mengajar

*Apabila teman-teman ingin berkontribusi untuk mengirimkan tulisan ke Pojok Refleksi Indonesia Mengajar, dengan senang hati kami akan menerimanya. Silakan hubungi lebih lanjut melalui pojokrefleksi@indonesiamengajar.org