Indonesia Mengajar

Pojok Refleksi

Bendera yang Senantiasa Berkibar Memang Sebaiknya Beriringan dengan Semangat yang Terus Berkobar

Fri, 14 August 2020

Tidak semua orang bisa dan mau untuk mengajar di tempat Suku Anak Dalam (SAD) bermukim. Sebuah suku yang terkenal menerapkan gaya hidup nomaden, tinggal di hutan, dan jauh dari peradaban manusia modern. Meski begitu, SAD masih masuk dalam wilayah Indonesia, sehingga pendidikannya harus tetap diperhatikan sesuai dengan amanat Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia.

Seperti kalimat pembuka tulisan ini, bukan perkara yang mudah memberikan pendidikan kepada masyarakat SAD. Ada berbagai macam yang dipertaruhkan untuk bisa mengajar di sana, mulai dari keselamatan diri karena pemukiman berada di hutan yang penuh bahaya dari hewan buas, tidak ada jaminan hidup yang cukup bagi pengajar, hingga akses yang jauh dari pemukiman penduduk. Seperti salah satu cerita guru di daerah SAD yang bertempat di Kabupaten Musi Rawas, Sumatra Selatan.

Guru itu bernama Ibu Ratna, seorang guru honorer yang kesehariannya mengajar di SAD. Ibu Ratna yang biasa dipanggil Bu Rat merupakan satu-satunya guru yang bisa dan mau mengajari anak-anak SAD. Sedikitnya guru yang mau dan bisa mengajar bukan tanpa alasan, karena perlu kepedulian dan kemampuan yang lebih untuk mengajar di sana.

Bu Rat harus menempuh perjalanan yang jauh dan sepi setiap pergi mengajar. Belum lagi, stigma karakter anak-anak yang sulit diatur, jarang mandi ketika pergi ke sekolah dan mesti didatangi ke rumahnya masing-masing agar mau bersekolah. Selain hambatan itu, stereotip dari masyarakat sekitar terhadap guru SAD juga menjadi tantangan tersendiri, tidak sedikit yang masih menganggap bahwa guru SAD adalah guru buangan.

Cerita ini diambil dari pengalaman salah satu Pengajar Muda yang ditempatkan di Desa Harapan Makmur--desa induk pemukiman SAD. Ternyata memang ada banyak guru yang menjadi penggerak di daerahnya masing-masing dengan segala keterbatasan yang ada. Guru yang terus berdedikasi terhadap pendidikan anak-anak Indonesia. 

Di momen kemerdekaan ini, ketika kita sedang mengenang pahlawan yang memperjuangkan kemerdekaan dan linglung mencari sosok pahlawan masa kini, angin segar benar-benar datang dari jantung hutan Sumatra. Bagi kami, Bu Rat adalah pahlawan tanpa tanda jasa, gambaran guru yang mau bermanfaat tanpa pujian masyarakat.

Keteladanan Bu Rat juga bisa dilihat dari dedikasinya dalam mengajar kepada anak-anak di sana. Bu Ratna awalnya hanya ditugaskan oleh kepala sekolah sebanyak 3 hari dalam seminggu untuk mengajar di sana, namun beliau menolak dan menawarkan diri untuk mengajar 6 hari dalam seminggu. Melalui percakapan ringan bersama Pengajar Muda, Bu Rat dengan tegas mengatakan kenapa ia melakukan hal demikian.

"Kalau cuma 3 hari di sana, terus libur, anak-anak nggak akan pernah bisa menyerap ilmu dengan baik,⁣ Bet." (Sapaan kepada Rahma Nurbaiti yang bertugas sebagai Pengajar Muda)

“Buat apa ngajar capek-capek ke sana-sini, kalau akhirnya mereka lupa? Mereka juga punya hak⁣ sekolah yang sama dengan anak-anak di desa kita(Harapan Makmur). Enam hari (dalam) seminggu,” Bu Rat menambahkan.

Melalui cerita Bu Rat, kita bisa merenungkan kembali makna pendidikan Indonesia yang merupakan hak segala bangsa, seperti yang diamanatkan Undang-Undang Dasar. Sejatinya, pendidikan harus dinikmati oleh semua orang yang ada di Indonesia, tanpa pengecualian, karena dengan pendidikan kita bisa mewujudkan kesejahteraan umum bagi seluruh rakyat Indonesia.

Anak-anak SDA juga layak menggantungkan hidupnya pada pendidikan. Dengan pendidikan, anak-anak SAD bisa baca tulis untuk memudahkan mereka berinteraksi dengan dunia luar. Di tengah situasi lingkungan saat ini, masyarakat SAD sudah mulai terancam keberadaanya, hal itu disebabkan karena sumber daya alam yang menjadi satu-satunya penopang hidup mereka mulai terkikis. Pada siapa lagi eksistensi SAD di masa depan diharapkan jika generasi muda SAD tak mampu bersaing dengan zaman.

Kami pun percaya--sebagaimana Bu Rat juga percaya--bahwa pendidikan bukan untuk mengubah anak-anak SAD menjadi rakus, namun sebaliknya, lebih arif dan bijak serta memiliki kemampuan yang lebih baik dalam mengelola sumber daya alam mereka. Karena hakikatnya pendidikan adalah untuk memanusiakan manusia, maka setiap orang harus mendapatkannya. 

Memasuki momen 17 Agustus, perkotaan mulai dihiasi dengan pernak-pernik merah-putih. Bendera mulai dinaikkan. Tapi, mengapa tak kita coba memberikan sorotan kepada Bu Rat dan guru-guru lain yang terus berjuang?

Bukankah bendera yang senantiasa berkibar memang sebaiknya beriringan dengan semangat yang terus berkobar?
 

***
Redaksi Pojok Refleksi Indonesia Mengajar