Meski Terdampak, Namun Bukan Berarti Berhenti Memberi Dampak

23 Juli 2020

Mari kita mulai tulisan ini dengan melemparkan ingatan ke masa kanak-kanak, tepatnya ketika kita duduk di bangku sekolah dasar. Sejenak kita luangkan waktu untuk mengingat proses belajar di masa-masa belum mengenal beban hidup, di mana yang kita kenal hanyalah sekolah dan lapangan. Di masa itu, ketika sedang belajar bersama guru, momen apa yang paling teman-teman ingat hingga saat ini? 

Biasanya, memori kita tak akan jauh dari pengalaman belajar olahraga, praktik langsung belajar sains, atau pelajaran muatan lokal ketika kita diminta membuat sesuatu. Meski tak semuanya, namun jarang sekali anak-anak yang tidak menyukai aktivitas tersebut. Kira-kira apakah pembelajaran yang seperti itu merupakan pembelajaran ideal?

Kebanyakan dari kita tidak mengetahui bahwa pelaksanaan pembelajaran di sekolah diatur dalam Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dan Peraturan Pemerintah No.19 tentang Standar Pendidikan Nasional. Undang-Undang No. 20 pasal 40 ayat 2 menerangkan bahwa, “guru dan tenaga kependidikan berkewajiban menciptakan suasana pendidikan yang bermakna, menyenangkan, kreatif, dinamis, dan dialogis.”

Sementara itu, Peraturan Pemerintah No.19 pasal 19 ayat 1 berbunyi “proses pembelajaran pada satuan pendidikan diselenggarakan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi siswa untuk berpartisipasi aktif, memberikan ruang gerak yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat dan perkembangan fisik, serta psikologi siswa.”

Menurut Carl R. Rogers pada jurnal yang ditulis oleh Teaching Excellence in Adult Literacy, para pelajar sebaiknya tidak hanya memilih topik apa yang ingin dipelajari, tetapi juga bagaimana cara belajarnya dan mengapa topik tersebut menjadi sangat menarik. Hal ini mengacu pada pembelajaran yang berpusat pada siswa atau Student Centered Learning. Pembelajaran yang berpusat pada siswa memungkinkan terjadinya proses belajar yang kontekstual dan menyenangkan. Siswa tak hanya terpaku pada buku bacaan dan papan tulis. Lebih lanjut, jurnal tersebut juga menjelaskan bahwa pembelajaran yang berpusat pada siswa akan membuat siswa meningkat motivasi belajarnya, mendapatkan kepercayaan diri yang tinggi, dan merasakan hal-hal baik pada dirinya.

Pembelajaran yang kontekstual dan berpusat pada siswa umumnya terjadi pada proses belajar-mengajar tatap muka. Di Indonesia, proses belajar-mengajar seperti ini banyak terjadi di sekolah. Namun kondisi tersebut tak lagi kita dapati di tengah pandemi. Menyoroti aspek pendidikan dan sekolah akhir-akhir ini, kita akan disajikan pada pemandangan sekolah-sekolah sepi, seragam sekolah yang tergantung sekian lama dalam lemari, hingga kemungkinan kehilangan pekerjaan yang dialami oleh pedagang yang kerap kali menggantungkan rezekinya pada kantin sekolah.

Pembelajaran di rumah menjadi solusi yang dipilih oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Melalui Surat Edaran No. 4 Tahun 2020, Menteri Pendidikan menyatakan bahwa seluruh proses belajar dilaksanakan di rumah. Tentunya sesuai dengan ketentuan-ketentuan yang telah ditetapkan.

Tampaknya semua elemen pendidikan terkejut dengan surat edaran tersebut. Proses belajar di rumah merupakan sesuatu yang baru. Seluruh elemen pendidikan, tak terkecuali orang tua siswa, bak kebakaran jenggot. Pembelajaran yang biasanya berfokus pada interaksi antara guru dan siswa di dalam kelas, kini dialihkan menuju media-media daring, mulai dari WhatsApp Group, Zoom, hingga televisi.

Selayaknya kebijakan baru yang wajib diterapkan oleh masyarakat, tentu saja ada bagian masyarakat yang cepat beradaptasi. Proses belajar di rumah (setidaknya) cepat diadaptasi oleh masyarakat di kota. Dukungan fasilitas seperti kepemilikan gawai dan akses internet berperan sangat besar. Orang tua--yang kini menjadi tumpuan belajar anaknya--dengan sigap memainkan orkestra pendidikan di rumah. Dengan berbagai pengalaman orang tua menjajal asam garam kehidupan, membagi waktu antara bekerja di rumah dan menemani anak belajar di rumah perlahan-lahan mulai ditaklukkan. Meski ada yang terseok-seok juga.

Tak jarang banyak orang tua yang mengeluh antara membagi waktu antara bekerja, menjalankan urusan domestik rumah tangga, dan menemani anak belajar. Belum lagi bagi orang tua yang ketambahan tugas karena harus mengasuh anak balita. Alamak!

Apakah semuanya cepat beradaptasi? Mengutip salah satu narasi pada Dark, serial televisi Jerman yang sedang naik daun, ”Pemikiran kita dibentuk oleh dualisme. Masuk, keluar. Putih, hitam. Baik, jahat. Semuanya muncul sebagai pasangan yang berlawanan…”

Di antara masyarakat yang terdampak oleh kebijakan belajar di rumah, ada bagian dari masyarakat yang masih sulit beradaptasi. Siapa lagi kalau bukan masyarakat yang tak didukung oleh fasilitas memadai untuk pelaksanaan belajar di rumah. Mereka yang belum teraliri listrik, tidak memiliki gawai, dan nihil akses internet. Kelompok tersebut tersebar di sudut-sudut republik--namun tetap mengibarkan bendera yang sama dengan kita, tinggal di daerah terdepan--namun tetap di tanah yang sama dengan kita, dan bermukim di wilayah-wilayah yang katanya tertinggal--namun sebenarnya tertinggal secara apa?

Pengajar Muda yang bertugas di daerah banyak menemui fenomena ini. Tinggal di daerah yang belum mendapatkan akses listrik dan internet serta hidup akrab dengan keterbatasan. Akan tetapi, di tengah pandemi ini anak-anak didiknya tak lagi belajar di sekolah. Anak-anak didik Pengajar Muda mungkin hanya sebagian kecil populasi yang aktivitas belajar utamanya ditiadakan. Larangan berkumpul di sekolah bisa saja ditafsirkan sebagai libur sekolah. Karena di rumah, persediaan bahan ajar tak selengkap di sekolah. Godaan untuk bermain alih-alih belajar di rumah tentu besar sekali.

Narasi pada serial Dark di atas, ternyata belum selesai. Di bagian akhir narasi mengatakan bahwa, “...Tapi itu salah.” Setelah kita menyelam lebih dalam, pernyataan bahwa pemikiran kita hanya didominasi oleh dualisme--dalam konteks ini orang tua di perkotaan yang banyak terlibat di pendidikan anaknya dan orang tua di pedesaan tak berdaya--memang tak sepenuhnya benar. Tidak bisa hanya dinilai dengan hitam dan putih. Orang tua di pedesaan tak sepenuhnya mengibarkan bendera putih di tengah pandemi ini.

Di tengah keterbatasan dan gelapnya keadaan, akan selalu ada pelita-pelita yang mencuat ke permukaan. Memberikan sejuta harapan kepada orang lain yang masih meraba-raba di tengah kegelapan. Adalah Ibu Misnah--atau lebih akrab disapa Mama Akbar--yang tinggal di Desa Hamak Utara, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Kalimantan Selatan. Mama Akbar merupakan orang tua siswa dari salah satu siswa di SDN Riam Talo 2, tempat di mana salah satu Pengajar Muda bertugas. Di sela-sela kesibukannya bertani selama pandemi Covid-19, Mama Akbar masih sempat menjawab keresahannya. Beliau secara sukarela menjadi guru mengaji di rumahnya sendiri. Belajar mengaji dilaksanakan setiap hari, kecuali hari Jumat, pada pukul 2 siang. Anak-anak yang tinggal di Desa Hamak Utara pun ikut belajar mengaji dengan tertib. Ketika ditanya apa yang membuat Mama Akbar bergerak, sambil sedikit tersipu malu beliau menyatakan bahwa beliau pernah mengenyam pendidikan agama di pesantren dan ingin meneruskan ilmu yang dimiliki kepada anak-anak agar bisa mengaji. Tak hanya itu, bahkan Abah (Ayah) Akbar juga membuatkan meja dari kayu untuk mendukung anak-anak belajar mengaji.

Memang benar adanya bahwa otak akan berputar lebih gigih apabila berada di bawah tekanan. Hal ini pula yang dilakukan oleh para orang tua siswa di Desa Muning Dalam, Kabupaten Hulu Sungai Selatan. Di desa yang hanya dapat diakses menggunakan kelotok--semacam perahu kecil bermuatan 7-10 orang--ini, hanya ada 30 rumah yang memiliki televisi dari total 112 rumah. Keadaan ini mendorong orang tua siswa di desa untuk berdiskusi dengan Pengajar Muda yang bertugas demi menemukan solusi. Di luar dugaan, orang tua siswa yang belum memiliki televisi berbondong-bondong mengantarkan anaknya ke rumah tetangga yang memilikinya. Semata-mata agar anaknya mampu mengikuti program Belajar dari Rumah.

Setiap pukul 09.00 WITA anak-anak sudah diantar oleh orang tuanya dengan perlengkapan alat tulis dan berpakaian rapi. Meskipun tempat belajar di rumah tetangga tidak jauh dari rumah, namun orang tua siswa tetap melakukan kebiasaan seperti layaknya mengantar anaknya ke sekolah. Orang tua juga mendampingi anaknya dan membantu Pengajar Muda menjelaskan pelajaran sehingga anak-anak Muning Dalam dapat belajar dan mengerjakan tugas melalui saluran TVRI. Memang, ya, perumpamaan sapu lidi itu benar adanya.

Sekarang kita akan berlayar menuju selatan di Indonesia, tepatnya ke Kabupaten Sabu Raijua, Nusa Tenggara Timur. Desa Ledeae--yang bahkan tidak ditemukan melalui pencarian di Google Maps--juga turut terdampak pandemi ini. Anak-anak di SDN Lobolauw (nama sekolah di Desa Ledeae) dirumahkan. Orang tua segera mengambil alih peran belajar di rumah dengan sigap. Ketika Pengajar Muda yang bertugas di sana berkeliling dari rumah ke rumah, pemandangan yang tersaji sungguh meneduhkan, meskipun cuaca di Pulau Sabu panasnya tak tertahankan. Di rumah-rumah, terlihat orang tua mendampingi anaknya belajar di rumah menggunakan buku pelajaran yang dipinjamkan oleh sekolah atau tugas yang diberikan oleh guru.

Cerita orang tua yang senantiasa mendukung pendidikan anaknya seakan tak pernah usai. Di Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara, merespons pandemi ini, pembelajaran di rumah juga dilakukan, namun akses telekomunikasi belum memungkinkan anak-anak dan masyarakat di Desa Lalomerui untuk melakukan pembelajaran secara daring. Otomatis pembelajaran dihentikan dalam beberapa waktu. Mama Ish, salah satu orang tua siswa, prihatin menyaksikan kondisi ini. Beliau meminta Bu Hastuti sebagai guru yang tinggal di Desa Lalomerui untuk mengajarkan anak-anak di rumah secara bergantian. Dorongan dari Mama Ish disebabkan oleh rasa takut jika anak-anak ketinggalan pelajaran. Gayung bersambut, kata terjawab. Bu Hastuti segera merespons kegelisahan Mama Ish dengan aksi konkret. Bu Hastuti memindahkan papan tulis kecil ke rumahnya dan mengajarkan anak-anak secara bergantian dalam kelompok-kelompok kecil.

Orang tua siswa yang bergerak dengan caranya sendiri selalu menjadi percikan-percikan semangat bagi orang lain yang bergelut di dunia pendidikan. Atau setidaknya bagi orang yang resah dengan pendidikan Indonesia di tengah pandemi. Keempat contoh di atas--Mama Akbar, orang tua di Muning Dalam, orang tua di Ledelae, dan Mama Ish--yang menolak takluk pada keterbatasan, mengajarkan kita bahwa manusia tak akan pernah kalah pada keadaan. Bagaimanapun sulitnya pandemi ini, selalu ada jalan bagi orang-orang yang menginginkan roda pendidikan tetap bergulir.

Jika memang kita percaya bahwa kebaikan itu menular, maka apakah semangat mereka akan tertular pada kita? Sudahkah semua orang tua mengubah keluh menjadi peluh? Potret orang tua yang meneteskan peluhnya untuk memperjuangkan pendidikan, semudah menemani anaknya belajar, menjadi kondisi ideal yang kita idam-idamkan di tengah pandemi. 

Jika kita bersedia sedikit saja membuka sanubari untuk memulai langkah pertama, maka perang pendidikan melawan pandemi akan kita menangkan. Akhirnya, kita akan mendapatkan pembelajaran bahwa sebenarnya semua orang dapat melakukan langkahnya masing-masing sesuai dengan porsinya.

Toh, orang-orang yang kita dengar ceritanya di atas membuktikan bahwa meskipun mereka terdampak, namun bukan berarti berhenti memberi dampak.

 

***
Ditulis oleh:
Redaksi Pojok Refleksi Indonesia Mengajar


Konten Lainnya Lainnya

Lihat Semua