Indonesia Mengajar

Pojok Refleksi

Inisiatif yang Membawa Dampak Positif

Mon, 02 November 2020

Benar adanya, setiap orang selalu memiliki cerita unik dan tantangan tersendiri dalam kehidupan mereka. Tempat yang sama, tetapi waktu yang berbeda akan memberikan hasil yang berbeda pula dalam membentuk suatu peristiwa. Desa Parudongka, salah satu desa yang menjadi penempatan beberapa Pengajar Muda angkatan 18 selalu memiliki cerita menarik, meski bukan pertama kali Indonesia Mengajar menginjakan kaki di sana, cerita Pengajar Muda kali ini tetap unik dan inspiratif.


Aditya Riyadi Putra—atau yang biasa dipanggil Gatoy—Pengajar Muda Angkatan 18 yang bertugas di Desa Parudongka, Kecamatan Routa, Kabupaten Konawe memiliki kisah yang menarik dalam perjalanannya selama bertugas. Gatoy yang belum pernah sama sekali ke Pulau Sulawesi, merasa cukup kaget karena ditempatkan di Kecamatan Routa—kecamatan terjauh dari Kabupaten Konawe.


Routa selalu diekspresikan dengan “Puuu...setengah mati” oleh orang-orang di Kabupaten Konawe. Masyarakat yang tinggal di Sulawesi pun sangat jarang, bahkan banyak yang belum pernah mengunjungi Routa—apalagi Gatoy. 


Kecamatan Routa yang jauh dari pusat Kabupaten Konawe, ditambah dengan akses jalan yang sulit menjadi alasan utama. Setidaknya ada dua jalur yang bisa ditempuh untuk menuju kesana. Pertama, melewati Kendari, ibu kota Sulawesi Tenggara, dibutuhkan waktu sekitar 11 jam. Atau justru melewati Provinsi Sulawesi Selatan, dibutuhkan waktu sekitar 14 jam. Jika musim hujan, yang paling masuk akal untuk ditempuh adalah melalui Sulawesi Selatan, hanya sebagian orang yang nekat dan berani yang bisa melewati jalur lain.


Routa, memiliki topografi berbukit-bukit, sangat subur untuk lahan pertanian dan merupakan daerah penghasil merica. Hal itu disebabkan karena letak Routa yang dekat dengan garis khatulistiwa. Routa, yang di dalamnya ada Desa Parudongka sejak 2017 terpilih untuk jadi penambahan desa Transmigrasi. Sejak itu, ada banyak pendatang baru ke desa tersebut. Setidaknya ketika Gatoy hadir di desa, ada 177 Kartu Keluarga baru yang menempati daerah tersebut, di dalamnya terdapat suku Jawa, Bugis, Toraja, Timor Leste, Bali, dan yang lainnya. 


Banyaknya pendatang membuat desa tersebut bisa dibilang sebagai daerah yang toleran terhadap perbedaan. Gatoy menyaksikan sendiri bahwa guru, orang tua, dan anak-anak memahami perbedaan yang mereka miliki. Misalnya ketika berdoa sebelum kelas dimulai, anak-anak dengan khusyuk berdoa menurut kepercayaan mereka masing-masing. Pemandangan yang indah, sebuah miniatur bangsa yang menghargai perbedaan.


Sebagai daerah yang cukup jauh dari pusat kota di Sulawesi Tenggara, tentu Routa memiliki banyak kekurangan, terutama dari segi fasilitas untuk masyarakat. Pengajar Muda selalu berusaha agar banyak stakeholder mendatangi Routa, setidaknya agar tahu keadaan di sana, kemudian bisa membangun daerah ini menjadi lebih baik lagi.


Momen yang ditunggu-tunggu itu pun datang, ada acara rembuk kepala sekolah SMP yang dilaksanakan di Routa. Tentu ini merupakan kegiatan yang akan banyak mengundang Dinas Pendidikan, yang sebelumnya belum banyak menginjakan kakinya di Route. Bahkan ada cerita lucu, saking penasarannya stakeholder pendidikan di Konawe, salah satu Kepala Sekolah SD—yang sebenarnya tidak memiliki kepentingan dalam acara tersebut—memutuskan untuk ikut berangkat ke Routa. Pengajar Muda pun berinisiatif untuk membantu jalannya acara tersebut.


Ada cerita menarik dalam momen-momen mempersiapkan acara tersebut. Pada suatu malam, ditemani bintang-bintang, cahaya remang, bunyi genset, kopi panas, teh hangat, dan kursi kayu Pengajar Muda ngobrol-ngobrol bersama Kepala Sekolah yang hadir dan beberapa staf Dinas Pendidikan. Mereka bercerita menggunakan Bahasa Tolaki dan menyebut-nyebut nama Haiva (salah satu Direktur Indonesia Mengajar). Untuk Gatoy yang baru dua bulan di desa penempatan tentu masih canggung  dan belum memahami bahasa daerah sana. Ia hanya mengangguk-angguk saja, meski tidak mengetahui topik pembicaraan. Gelagat Gatoy dilihat dan dipahami Pak Arfin, salah satu warga yang mengobrol. Beliau langsung bercerita menggunakan bahasa Indonesia. 


“Dulu, kalau Haiva nggak kesini (Konawe), mungkin kita nggak akan pernah nginjek yang namanya Routa.”


Jadi dulu pas Haiva datang, sebelum ada Pengajar Muda di Konawe, Haiva minta ke Dinas Pendidikan untuk diantar ke Routa, semenjak itu akhirnya ada yang menginjakkan kakinya di Routa.


Dampak dari inisiatif itu ternyata luar biasa. Sekarang, sudah mulai sering Dinas Pendidikan menjalankan kegiatan yang berhubungan dengan pendidikan di Routa. Setidaknya sudah dua kali. Dan itu merupakan sebuah kemajuan. 


Belum lagi hasil-hasil positif lain seperti pembangunan fisik di Routa. Di Desa Parudongka, ada desa transmigrasi, sedari dulu masyarakat selalu mengusahakan untuk pengadaan Rombongan Belajar kelas IV, V, dan VI di desa transmigrasi. Sebelumnya, sekolah sudah dilakukan di kelas jauh SDN Parubela, tapi hanya sampai kelas III saja, sehingga ketika anak sudah kelas III, biasanya anak berhenti sekolah ataupun orang tua mengirim anaknya ke panti sosial di Sulawesi Selatan untuk tetap menyekolahkan anaknya. Kelas jauh merupakan sistem pembelajaran yang dilaksanakan dengan cara menginduk ke sekolah lain secara administratif, namun pelaksanaan kegiatan belajar dan mengajar sehari-hari dilaksanakan di sekolah sendiri.


Beberapa kali Pengajar Muda sudah mencoba membantu masyarakat mengusahakan pengadaan kelas IV, V, dan VI di Desa Parudongka. Mulai dari upaya pengajuan ke Kepala Sekolah hingga Dinas Pendidikan, tapi hasilnya belum ada, karena mereka tidak pernah ke sana. Hingga suatu ketika, setelah dua kali Dinas Pendidikan mengunjungi Routa, ada masyarakat ingin bertemu Kepala Dinas. Pengajar Muda membantu mereka menemui Pak Kepala Dinas, kemudian ternyata masyarakat tersebut mengajukan surat permohonan dari seluruh masyarakat Desa Parudongka untuk pengadaan rombongan belajar kelas IV, V, dan VI.


Masyarakat kemudian berdiskusi dengan Pak Kepala Dinas. Tidak lama kemudian, Pak Kepala Dinas langsung mengambil keputusan untuk diadakannya rombongan belajar kelas IV, V, dan VI kelas jauh dari SDN Parubela. Kini anak yang berhenti sekolah sudah kembali bersekolah, beberapa anak yang ada di panti sekolah sekarang ditarik kembali oleh orangtuanya dan bersekolah di desa lagi. 


Awalnya sungguh sederhana, berawal dari ucapan sederhana Kak Haiva, “Pak, Boleh temenin atau antar ke Routa?” kini berbagai stakeholder bisa menjalin kerjasama dengan masyarakat desa. Kebutuhan masyarakat dan pemangku kebijakan bertemu, timbul interaksi, dan akhirnya kontribusi dari semua dapat berjalan. Hal ini merupakan bukti, berawal dari sebuah inisiatif hingga akhirnya mampu memberikan dampak positif.

Ikut Iuran
Ikut terlibat dalam pendanaan Program Pengiriman Pengajar Muda ke berbagai titik di Indonesia.

Newsletter
Ingin mendapatkan pemberitahuan terkait kabar-kabar dari Indonesia Mengajar?

Berlangganan
Konten Lainnya

Indonesia Tangguh: Merdeka di Bumi, Merdeka di Langit
26 August 2021
Inisiatif yang Membawa Dampak Positif
02 November 2020
Membangun Manusia Berarti Membangun Bangsa
23 October 2020
Apresiasi dan Kolaborasi Jadi Kunci Lewati Pandemi
17 October 2020
Pendidikan di Tengah Pandemi: Mengapa Larut dalam Drama, Kalau Masih Ada Pilihan untuk Berjuang Bersama?
25 September 2020
Internet Tak Hanya Tentang Saling Terkoneksi, Melainkan Bentuk Partisipasi
18 September 2020
Seluruh Konten