Indonesia Mengajar

Pojok Refleksi

Indonesia Tangguh: Merdeka di Bumi, Merdeka di Langit

Thu, 26 August 2021

Dulu waktu di SD kelas V, saya mendapat pelajaran bahwa emas, misalnya, adalah kekayaan alam yang tidak dapat diperbaharui. Bahwa suatu saat emas akan habis. Demikian dengan kekayaan alam yang tidak dapat diperbaharui lainnya. Pelajaran ini mengikat mindset seseorang bahwa emas itu terbatas dan karena itu emas menjadi barang rebutan. Tapi tahun-tahun mendatang, pengetahuan ini perlu diperbarui, bahwa emas, seperti yang telah saya contohkan, adalah kekayaan semesta yang tak terbatas.

Kita selalu memandang sumber daya alam di  bumi sebagai sumber daya yang terbatas. Akibatnya masa depan bumi terancam akibat perebutan sumber daya alam. Kita selalu memandang ke bumi (earth-oriented) dan jarang melihat ke luar bumi (universe-oriented).  Padahal sejak ribuan (countless) tahun silam, Tuhan sudah menyediakan kekayaan alam yang tak terbatas. Di mana? Di langit. Lihatlah ke atas. Kekayaan alam tersebut tersimpan di asteroid.[1]

Asteroid tidak lagi dipandang sebagai bebatuan angkasa yang mengancam kepunahan bumi, tapi justru bisa menyelamatkan bumi dari kepunahan akibat perang dan perebutan sumber daya alam, karena asteroid mengandung berbagai logam yang tersedia dengan limpahnya yang saat ini sudah sangat langka di bumi.[2]

Saya optimis kita bisa mengakhiri perang di masa depan karena akar perang adalah perebutan kekayaan sumber daya alam yang tersedia di suatu wilayah.

Peringatan hari kemerdekaan Indonesia yang ke-76 kiranya menjadi momentum titik balik kesadaran kita terhadap ancaman keutuhan bangsa yang sejatinya berakar pada perebutan sumber daya alam yang serba terbatas di bumi.[3] Mungkin sejak kecil kita jarang jalan-jalan melihat bintang. Maksud saya, mengunjungi planetarium dan observatorium. 

Ini bisa dimaklumi karena Indonesia hanya memiliki 2 planetarium dan 4 observatorium.[4] Wajar jika hampir setiap kita memiliki aktivitas menatap bintang (star gazing) dari tahun ke tahun yang sama dengan kakek buyut kita: menatap bintang dengan mata telanjang dan berakhir dengan percaya bahwa bintang-bintang hanya seukuran kelereng dan pasir. 

Bandingkan dengan Amerika yang memiliki lebih dari 1.500 planetarium (lebih dari 50% total planetarium di dunia ada di Amerika) dengan 350 planetarium permanen.[5] Akhirnya akses anak-anak ke planetarium ini lebih mudah. Mereka didorong oleh guru dan orang tuanya untuk mengunjungi planetarium-planetarium untuk membangun inspirasi dan rasa ingin tahu (curiosity) pada anak-anak.

Neil deGrasse Tyson, astrofisikawan terkenal asal Amerika serta 1 dari 100 orang paling berpengaruh di dunia versi TIME 100, pertama kalinya menyukai dunia astronomi justru saat ia jalan-jalan mengamati bintang (star gazing) di Planetarium Hayden saat ia berusia sembilan tahun (SD kelas 4).[6]

Mau di bawa ke mana anak-anak usia sekolah dasar akan menentukan mimpi mereka kelak. Karena mimpi tercipta melalui aktivitas yang menyenangkan, bukan aktivitas yang dipaksakan. 

Indonesia sudah memiliki salah satu observatorium terbesar di Asia Tenggara.[7] Namanya Observatorium Timau, yang terletak di Amfoang, pulau Timor, NTT. Inilah kesempatan menanam mimpi itu pada anak-anak sedari sekolah dasar. Saatnya jalan-jalan berwisata keluarga bukan hanya melihat alam, tapi juga melihat bintang. Ini akan menjadi wisata pendidikan dan wisata langit yang menarik bagi guru dan orang tua. Biarkan anak-anak bermimpi menjadi pilot, astronom, astronot dan astrofisikawan. Dukunglah mereka mencapai mimpi mereka. 

Neil deGrasse Tyson pernah berkata, "science is a cooperative enterprise, spanning the generations. It's the passing of a torch from teacher, to student, to teacher. A community of minds reaching back to antiquity and forward to the stars." Sains adalah usaha kooperatif, mencakup generasi. Ini adalah penerusan obor dari guru, ke siswa, ke guru. Sebuah komunitas pikiran yang menjangkau kembali ke zaman kuno dan meneruskan ke bintang-bintang.[8]

Karena itu kampus-kampus perlu mendukung kompetensi teknik penerbangan dan antariksa, sains atmosfer, teknik aeronautika dan astronautika, serta astronomi. 

Masa depan suatu negara ratusan tahun ke depan tergantung dari persiapan saat ini untuk mengeksplorasi kekayaan di luar angkasa yang tak terbatas. Sejak 76 tahun kemerdekaan, sudah siapkah Indonesia dengan kemungkinan ini? Berapa anggaran yang dikeluarkan untuk riset-riset keantariksaan? Sampai sejauh mana program LAPAN (Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional) kita? Dalam dokumen Renstra LAPAN 5 tahun silam (2014-2019), berbagai program dan kegiatan mengarah kepada pemanfaatan penerbangan dan IPTEK untuk pemantauan SDA, lingkungan serta mitigasi bencana dan perubahan iklim. Ini masih earth-oriented, bukan universe-oriented. Ini bisa dimaklumi karena belum berkembang pesatnya teknologi informasi pd 5 tahun silam ketimbang sekarang. Dulu belum ada teknologi IoT (Internet of Things), AI (Artificial Intelligence), cloud, robotic serta 3D printing yg berkembang akibat revolusi industri 4.0 

Ternyata LAPAN telah menyadari potensi penyelenggaraan antariksa nasional ini sehingga dalam dokumen Renstra 5 tahun ke depan(2020-2024)  LAPAN telah mencatat adanya kebutuhan nasional berbasis sains antariksa untuk mendukung ketahanan ekonomi nasional berkelanjutan. Ini bisa diperkuat melalui optimalisasi fungsi riset, sehingga pada tahun 2045 bisa tercapai tujuan Rencana Induk Riset Nasional (RIRN), yaitu terciptanya masyarakat yang inovatif dan berdaya saing secara global berbasis riset.[9]

Tapi sayangnya peta perencanaan LAPAN masih terikat pada tema-tema Prioritas Riset Nasional (PRN) yang masih berbasis earth-oriented karena masih bergerak pada tatanan perubahan iklim dan SDM. Ini sifatnya tentatif dan rigid. Kita membutuhkan suatu rancang bangun perencanaan yang bukan hanya panjang tapi fluid sesuai dinamisitas perkembangan teknologi yang eksponensial, kalau kita tidak ingin ketinggalan kereta. 

Mengapa kita hanya memiliki dokumen rencana 5 tahunan dan 25 tahunan? Sudahkah kita bersiap dengan kondisi 50 tahunan hingga 100 tahunan ke depan? Dan sudah siapkah kita dengan perubahan yang serba cepat? Karena jika time-bound pikiran kita masih kaku pada 5 & 25, maka wajar jika kita bisa terjebak dengan persoalan remeh remeh. Jika kita kurang dinamis terhadap perubahan dan tidak menyiapkan contingency/emergency plan, maka kita menjadi sasaran empuk hantaman badai perubahan yang revolusioner dan seringkali tidak terprediksi.

Sekarang mari pikirkan Indonesia hingga seratus tahun ke depan. Mari pikirkan Indonesia dengan kemungkinan perubahannya yang dinamis dan tidak terprediksi. Kita akan dibawa semata kepada persoalan kelangsungan hidup manusia di bumi. Itu saja. Kita terlepas dari semangat imperialisme dan hanyut dalam putaran baru internasionalisme seperti cita-cita Soekarno saat ia paparkan pidatonya, Membangun Dunia Kembali (To Build The New World) di muka Sidang Umum PBB ke-XV tahun 1960 “Kami berusaha membangun suatu dunia yang sehat dan aman. Kami berusaha membangun suatu dunia, dimana setiap orang dapat hidup dalam suasana damai. Kami berusaha membangun suatu dunia, dimana terdapat keadilan dan kemakmuran untuk semua orang. Kami berusaha membangun suatu dunia, dimana kemanusiaan dapat mencapai kejayaannya yang penuh.”[10]

Ini memang membebaskan kita dari persoalan identitas komunal: apa agamamu dan apa sukumu serta membawa kita pada persoalan bersama: the existence of humanity on earth yang terakumulasi dari persoalan-persoalan besar di dunia seperti perubahan iklim, dominasi AI (kecerdasan buatan), ketegangan geopolitik dan evolusi media sosial.[11] Bahwa walaupun kita beragam, sejatinya kita semua diciptakan sama. Jangan sampai kita terjebak pada persoalan identitas komunal dan terus mengekor negara-negara lain. 

Sudah ada 9 misi ke Mars yang sukses dari 6 negara yang berkompetisi, misi membangun stasiun di bulan, misi mengobservasi matahari, misi ke planet-planet serta misi untuk mengeksploitasi benda-benda angkasa lainnya untuk kepentingan hidup manusia di bumi.[12][13][14][15] Semua ini bisa berujung pada bentuk penjajahan yang baru: penjajahan di langit. Jangan sampai kita terus dijajah dari bumi hingga ke langit. Kita yang telah merdeka di bumi, haruslah merdeka di langit jua.

Semangat pesimisme bisa mengisi paru-paru harapan kita dalam menatap masa depan, tetapi dengan menginjak usia kemerdekaan 76 tahun, ini menunjukkan bahwa bangsa Indonesia sedang berada dalam genggaman tangan yang tak terlihat (the invisible hand) dari Sang Maha Kuasa yang sanggup merajut dan mewujudkan doa-doa dan harapan penggagas bangsa agar putera-puteri bangsa ini dapat melihat mimpi-mimpi mereka menjadi kenyataan. 

Ini juga menunjukkan bahwa kita bukan bangsa yang lemah. Soekarno pernah bilang, “kita tidak berani gagal. Kita tidak berani membelakangi sejarah. Jika kita berani, kita sungguh tidak akan tertolong lagi. Bangsa saya bertekad tidak akan gagal.” Semuanya tergantung kita semua yang hidup dan bernafas di bawah awan dan langit Indonesia untuk mendedikasikan diri pada tugas-tugas agung dan mulia yang lebih besar di depan kita demi masa depan dunia yang lebih baik. Indonesia Tangguh, Indonesia Tumbuh. Dirgahayu Indonesiaku.

 ***
Ditulis oleh:
Sherwin Ufi
(Penulis adalah alumnus Australian National University (ANU), saat ini bekerja sebagai ASN pada instansi Badan Perencanaan, Penelitian dan Pembangunan (Bapelitbang) Kababupaten Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur)

Ikut Iuran
Ikut terlibat dalam pendanaan Program Pengiriman Pengajar Muda ke berbagai titik di Indonesia.

Newsletter
Ingin mendapatkan pemberitahuan terkait kabar-kabar dari Indonesia Mengajar?

Berlangganan
Konten Lainnya

Indonesia Tangguh: Merdeka di Bumi, Merdeka di Langit
26 August 2021
Inisiatif yang Membawa Dampak Positif
02 November 2020
Membangun Manusia Berarti Membangun Bangsa
23 October 2020
Apresiasi dan Kolaborasi Jadi Kunci Lewati Pandemi
17 October 2020
Pendidikan di Tengah Pandemi: Mengapa Larut dalam Drama, Kalau Masih Ada Pilihan untuk Berjuang Bersama?
25 September 2020
Internet Tak Hanya Tentang Saling Terkoneksi, Melainkan Bentuk Partisipasi
18 September 2020
Seluruh Konten