“Virus” Bule
Yuri Alfa Centauri | 13 April 2012

Siang hari yang kebetulan terik (beberapa hari sebelumnya hujan) muncul sebuah perahu yang tidak biasanya terlihat, speed fiber milik pemda. Masyarakat sudah bertanya dan mengira-ngira siapakah yang datang, Bupatikah (seseorang yang dinanti-nanti untuk datang ke pulau tapi belum muncul juga)?

Kapal tersebut berhenti, tanpa merapat ke pantai berpasir, memberi isyarat pada masyarakat untuk memberikan jemputan dengan perahu katingting (perahu cadik) pada seseorang yang akan datang berkunjung ke pulau. Diangkutlah orang yang keluar dari kapal, masih mengenakan pelampung jingga terang yang mencolok. Seisi pulau (termasuk pula saya) telah menunggu dibibir pantai, akan memberikan penyambutan. Ternyata yang muncul lebih dari ekspektasi masyarakat, orang berkulit putih, berambut pirang, bertubuh tinggi yang membuat masyarakat riuh, terutama anak-anak, “bule-bule!” pa guru pe teman!” (lho bukanya saya orang Jepang?! Baca notes “I’am Japanese!)

Orang asing yang muncul tersebut berasal dari Amerika dan Kanada semuanya berjumlah tiga orang. Langsunglah pendaulatan tidak resmi disematkan pada saya, untuk menjadi guidenya,  “apaaa?”, (dalam hati, bisa rempong ini, bahasa inggris gw kaan...)!!! Tetapi tiba-tiba pikiran yang tadi berkabut menjadi cerah lagi seperti cuaca di siang itu, ternyata sudah ada guide resmi dari Pemda yang mengantarnya, “selamateee!”

Tetapi mau tidak mau tetap harus mengobrol (memang norak saya, jarang ketemu bule juga), karena mereka berkunjung ke rumah tempat saya tinggal, kantor desa. Wajah mereka antusias sekali, apalagi melihat kondisi lingkungan dipulau kecil yang ramai ini, membuat saya juga ikut antusias, kira-kira ada tujuan apa mereka, sehingga datang jauh-jauh ke pulau di klaster perbatasan ini.

Perkenalkan nama mereka adalah Marry, Robert dan Shawn, ketiganya datang dari Amerika dan Kanada dibawah naungan organisasi penyelamat hiu, sharksaver, ditemani oleh guide, yakni seorang pendeta Indonesia yang lama bertugas di Filipina, bapak Heinrich Wolf.

Mengenai kunjungannya datang ke pulau Matutuang tentu sudah dapat ditebak, mereka akan meneliti terumbu karang, ekosistem laut dan terutama keberadaan hiu diperairan tersebut. Rencananya mereka akan berada di pulau selama 4 hari, awalnya akan satu minggu, tetapi berhubung kedatangannya ke pulau matutuang terhadang cuaca buruk, maka jadwalnya semakin pendek.

Mereka menyelam di perairan sekitar pulau Matutuang, pulau dumarehe dan pulau mamanuk (2 pulau yang berada dekat matutuang, dan keduanya tidak berpenghuni). Hasil dari penyelaman di pagi dan siang hari, mereka diskusikan malamnya bersama kami, tokoh masyarakat dan saya.

Menurut hasil pengamatan mereka, keberadaan terumbu karang di perairan matutuang sudah cukup rusak, sepertinya akibat penangkapan ikan dengan menggunakan bahan peledak. Sedangkan menurut masyarakat, kemungkinan itu adalah cara penangkapan ikan oleh masyarakat dahulu, karena saat ini tidak ada sama sekali yang menggunakan peledak.

Hiu, telah ada kesalahan paradigma dari masyarakat bahwa, jika ada hiu berarti ikan lainnya berkurang, maka hiu pun menjadi komoditas, dan ditangkap, sebetulnya tidak, dengan adanya hiu justru ikan akan semakin banyak, itulah penjelasan tentang hiu dari rekan-rekan sharksaver.

FunFishingatau memancing untuk hobi, adalah jenis kegiatan yang mereka sarankan kepada pemerintahan daerah dan masyarakat untuk menjadi pilihan terbaik ke depan sebagai aksi penyelamatan hiu, koral dan jenis-jenis ikan langka tetapi tetap mengakomodir kebutuhan utama masyarakat, untuk memenuhi kebutuhan hidup. Tentunya hal tersebut menjadi kebijakan yang belum relevan untuk dilaksanakan saat ini karena pembangunan ke arah tersebut pasti membutuhkan keseriusan yang tinggi dan tentu saja dana yang tidak sedikit, disamping infrastruktur,  konsep pariwisata, dan investor. Seperti yang sudah dapat dilihat di Raja Ampat, Papua, hiu menjadi salah satu binatang yang dapat “ditonton” oleh pengunjung yang datang.

Kami pun sempat membicarakan tentang perihal saya kenapa ada disini (waktu kedatangan pertama mereka pun saat melihat saya merasa aneh, “pendudukah?”). Saat saya ceitakan bahwa saya kemari dalam rangka program Indonesia Mengajar, dan salah satu dari mereka, Mary, ternyata sempat melihat websitenya dan mengetahui program IM. Giliran saya yang kaget. Ternyata mereka telah mengetahui sejauh itu. Saya pun senang, mereka adalah orang yang bertemu di pulau tak bersinyal, jauh dari mana-mana dan datang dari negara yang jauh yang mengetahui program ini. Bule-bule ini pun berkunjung ke sekolah dan memberikan beberapa kenang-kenangan untuk anak-anak Matutuang, buku-buku tentang hiu. “Terima Kasih Marry, Robert dan Shawn!”

Yuri Alfa Centauri

Pulau Matutuang, 15 Januari 2012

Cerita Lainnya

Logo Indonesia Mengajar
KONTAK

(021) 7221570
info@indonesiamengajar.org

ALAMAT

Jl. Senayan Bawah No. 17,
Kel. Rawa Barat, Kec. Kebayoran
Baru, Jakarta Selatan 12180

© 2020 Gerakan Indonesia Mengajar
Ikut Iuran