Dapur Festival Anak Sangihe
Yuri Alfa Centauri | 18 April 2012

- “Siapa yang ingin ikut Festival Anak Sangihe??? saya pa guru, saya!”, setiap anak berebut mengajukan diri-

Pemilihan anak menjadi topik tersulit yang menjadi agenda persiapan FAS (Festival Anak Sangihe) di pulau Matutuang, unsur-unsur eksternal yang harus dihadapi, kriteria dan kualitas anak itu sendiri serta antusias yang membara dari masing-masing anak. Unsur eksternal yang harus dipenuhi karena menyangkut keberagaman, toleransi, dan kepercayaan, yang diwakili oleh lokasi tempat dan kelompok masyarakat, unsur religi, unsur suku. Tidak dipungkiri ajang FAS menjadi suatu penyatuan dari unsur-unsur tersebut yang jika tidak dipenuhi maka tidak akan pernah terangkul semua elemenya, karena yang dibawa hanya perwakilan anak, bukan satu sekolah (lain lagi jika hal ini dilakukan karena anak-anak dari semua elemen masyarakat ada didalamnya), ini yang membuatnya menjadi sulit. Ditambah kualitas dari anak-anak itu sendiri, jangan sampai muncul ucapan dari orang tua murid, “kenapa anak itu terpilih sedangkan anak saya tidak, padahal anak saya lebih ‘pandai’/lebih layak?”

Kepercayaan dari setiap elemen masyarakat menjadi penting karena meyakinkan setiap dari mereka bahwa anak-anaknya mampu, dan meningkatkan kepercayaan diri, tidak hanya dari diri anak tersebut, tetapi dari orangtua dan elemen masyarakatnya.

Masyarakat pulau Matutuang secara garis besar memiliki unsur masyarakat yang terdiri dari orang Sangir, yang berasal dari daratan dan pulau-pulau sangir (yang masuk ke dalam wilayah Indonesia), dan masyarakat dari negara tetangga, Filipina (terdiri pula dari beragam latar belakang, yang berasal dari sangir wilayah indonesia dan sudah menetap lama di filipina kemudian kembali ke Indonesia dan yang memang asli dari Filipina). Bahasa yang digunakan didalam pulau sangat beragam, bahasa Sangir, bahasa Indonesia logat Manado (Manado Pasar), bahasa Bisaya (bahasa tradisional Filipina), bahasa Tagalog dan beberapa orang dapat berbahasa Inggris.

Dari segi lokasi tinggal kelompok masyarakat yang secara natural terjadi karena unsur kesamaan asal-usul, religi, (tidak secara menyeluruh, masih ada yang berbaur pula) ada pula yang soliter, memiliki rumah yang menyendiri di area yang sepi. Lindongan 1 (dusun 1) yang terdiri dari masyarakat islam dan kristen, Lindongan 2 terdiri dari masyarakat kristen, adalah dua tempat yang paling banyak ditinggali oleh masyarakat, berada di pantai utama. Ada pula yang tinggal dibagian atas pulau, banyak dihuni oleh masyarakat Indonesia yang lama tinggal di negara tetangga. Dan satu sampai dua rumah berada di pantai perempuan dan pantai bangka, dua pantai yang sepi.

Unsur religi, menjadi hal yang sangat penting karena kesensitifanya, keberagamannya dapat menjadi suatu kekuatan yang kokoh jika bersatu dan dapat pula menjadi seperti pecahan kaca yang sulit disatukan. Masyarakat matutuang diwakili oleh 3 gereja (GMIST, Kema Injil, Menara Injil) dan islam. Secara garis besar, masyarakat dari Kema Injil tinggal di area tengah pantai utama (diantara lindongan 1 dan 2), masyarakat menara injil tinggal di lindongan 2, masyarakat islam tinggal di lindongan 1 dan di area atas pulau, masyarakat GMIST di lindongan 1 dan 2. Tetapi ada pula yang berbaur satu sama lain.

Sedangkan dari sisi anak-anak SDN Matutuang,

Kriteria dan kualitas serta antusias yang membara dari masing-masing anak menjadi nilai pertimbangan dari sisi internal anak itu sendiri yang menjadi poin penilaian tersulit karena selain banyaknya anak, ada sisi-sisi yang tidak “terjamah” dari seorang siswa terkadang terlantar karena tertutupi sifat-sifat lainya yang kebetulan adalah sifat yang diaggap nakal, yang menggangu pengajar dan sesama siswa dikelas. Tetapi saat kita mengetahui hal tersebut, sisi tersembunyi itu, maka kita akan melihat kemampuan dan daya konsentrasinya yang luar biasa akan hal yang dia sukai, misalnya kepada suatu mata pelajaran tertentu, atau kepada bidang tertentu (musik, gambar)

Menemukan sisi yang tidak tampak merupakan hal sulit, karena harus dilakukan pendekatan yang intens, pengamatan yang konstan dengan pola pendekatan yang beragam, dari seorang anak saja membutuhkan waktu lama, apalagi untuk banyak anak (dalam satu kelas, bahkan satu sekolah). Karena terkadang kita, sebagai guru luput dari memperhatikan hal yang tersembunyi, sibuk dengan “memarahi” anak-anak tersebut karena “kenakalanya”, yang menyembunyuikan kemampuan sebenarnya dari anak itu.

Setelah melihat semua unsur tersebut harapannya adalah tidak hadir perasaaan akan perbedaan keyakinan, jenjang sosial, asal usul menjadi pengahalang dan penghambat perwakilan anak-anak ini untuk tampil, yang ada adalah rasa kebersamaan dan toleransi.

Seperti tertuliskan dalam tagline FAS, “Biar Mesarung Kai Sembau”, Kebersamaan dalam Keberagaman.

Saat semua unsur telah terpenuhi, 6 orang anak terpilih dan tantangan selanjutnya adalah berlatih untuk pementasan dan mempersiapkan karya-karya yang akan dipamerkan.

Yuri Alfa Centauri,

Pulau Matutuang, 16 Februari 2012

Cerita Lainnya

Logo Indonesia Mengajar
KONTAK

(021) 7221570
info@indonesiamengajar.org

ALAMAT

Jl. Senayan Bawah No. 17,
Kel. Rawa Barat, Kec. Kebayoran
Baru, Jakarta Selatan 12180

© 2020 Gerakan Indonesia Mengajar
Ikut Iuran