REKAM JEJAK PETARUNG diLAUTAN
Yuri Alfa Centauri | 23 March 2012

Mereka adalah petarung dilautan, menembus angin, memecah ombak, berkejaran dengan badai merupakan kehidupan mereka.  “Inilah resiko kehidupan kami!”terang seorang bapa, ketika ditanya perasaanya saat berada dilautan, diatas perahu (pumpboat), berhari-hari, mencari ikan, dan bahkan terkadang ada yang hanyut terbawa arus karena mesin  mati serta harus rela kehilangan sanak keluarga karenanya.

Masyarakat Matutuang, salah satu masyarakat dari suku Sangir, yang tinggal di pulau kecil tempat saya ditugaskan sebagai Pengajar Muda, pulau Matutuang. Mereka adalah suku-suku yang mencari kehidupan dari hasil laut, terkadang harus berpindah ke pulau yang berbeda untuk mengail, hanya untuk beberapa waktu (hitungan hari atau minggu), tergantung kondisi musim ikan ada diperairan mana.

Posisi pulau yang masuk kedalam klaster perbatasan dan dekat dengan negara tetangga,  jauh dari daratan besar menyebabkan hanya transportasi umum seperti kapal printis yang melewatinya. Jadwal kapal printispun sangat jarang sekali hanya ada 3-4 kali dalam satu bulan dengan 2 kapal. Jarak kapal A(Daya Sakti) dengan B(Berkat Taloda) adalah 5 hari sedangkan dari kapal B kembali ke kapal A membutuhkan waktu 10 hari dan terus bergulir seperti itu, terkadang cuaca mempengaruhi, jika cuaca buruk maka kapal akan menunggu untuk berlabuh atau malah sama sekali tidak karena kondisi tersebut dapat menyebabkan kerusakan pada kapal bahkan dapat membuat kapal karam. Kapal perintis melakukan perjalanan ke daerah klaster perbatasan menuju beberapa pulau berpenghuni, yakni pulau Kawaluso, Pulau Matutuang, pulau Kawio dan Pulau Marore.

Perjalanan dari Tahuna ke Pulau Matutuang ataupun sebaliknya membutuhkan waktu yang bervariasi, tergantung kondisi cuaca, kondisi kapal, jumlah barang (bongkaran/tambangan) yang dimuat, dan keadaan lain yang tidak terduga (contohnya adalah jika mesin perahu tambangan mati –sebuah perahu untuk memindahkan barang karena tidak ada dermaga)  maka waktu yang dibutuhkan akan lebih lama lagi, sehingga tidak ada waktu yang benar-benar pasti. Jika menggunakan kapal Daya Sakti menuju pulau Matutuang membutuhkan waktu kira-kira 12 jam karena sebelumnya kapal hanya singgah di Pulau Kawaluso, berbeda dengan kapal Berkat Taloda yang membutuhkan waktu 20 jam, atau 1 sampai 2 hari, karena jalurnya berbeda, pergi terlebih dahulu ke pulau paling ujung, Marore kemudian baru ke pulau Matutuang. Sedangkan jika akan kembali ke kota Tahuna, menggunakan Daya Sakti lebih lama, bisa 2 sampai 3 hari, dan dengan Berkat Taloda sekitar 18 jam. Sehingga dapat kita bayangkan, dahulu ketika masih menggunakan perahu layar, begitu lama dan beresikonya sebuah perjalanan laut.

Selain itu masyarakat dapat menggunakan pumpboat, perahu untuk mengail ikan, jarang digunakan untuk transport, karena mahalnya harga  bahan bakar, jika disewa (bagi yang tidak mempunyai pumboat sendiri) dari pulau matutuang sampai kota Tahuna di pulau besar (daratan utama kabupaten Sangihe) ataupun sebaliknya, Tahuna-Matutuang maka biaya yang dikenakan kira-kira dapat mencapai 600.000-800.000 bahkan  sampai 1 juta untuk satu kali perjalanan dan lagi-lagi, tergantung kondisi cuaca.

Keadaan tersebut ternyata berpengaruh pada pendidikan  wajib belajar bagi anak usia sekolah dasar. Merekaterhambat oleh keadaan alam, informasi serta transportasi yang terbatas mengakibatkan akses antarpulau yang terpisah lautan menjadi sulit. Kesulitan akses inilah yang seringkali menjadi penghalang bagi masyarakat yang hidup di pulau untuk mendapatkan kesetaraan, mulai dari kualitas pendidikan hingga kualitas hidup.  

Terkadang pula dari mereka ada yang harus pergi ke kota, ikut dengan orangtua  untuk berjualan ikan, kopra dan barang dagangan lainya, apa boleh buat, mereka harus ikut karena jika tinggal dirumah, sendirian, dan tidak memiliki keluarga lainya maka tidak ada yang mengurus, terutama anak-anak yang masih di kelas 1, 2 dan 3. Jadwal yang tidak menentu dari faktor orang tua serta lamanya jarak kedatangan kapal printis menyebabkan mereka meninggalkan pulau minimal 2 minggu, atau lebih lama lagi.

Anak –anak Matutuang kurang mendapatkan tempat dibandingkan anak-anak di pulau besar, dan mereka kekurangan akses informasi, hal ini disebabkan karena faktor posisi pulau yang jauh dari pulau utama dan pulau-pulau kecil lainya serta tidak adanya akses telepon (tidak ada signal). Ditambah lagi dengan faktor  transportasi laut umum murah dengan menggunakan kapal perintis  yang memiliki jangka waktu kedatangan satu minggu sampai dua minggu antara satu kapal dengan kapal lainya, jika menggunakan perahu pumpboat sendiri ongkos untuk bensin mahal, bisa mencapai 300.000, bahkan yang tidak punya pumpboat harus menyewa dengan harga yang lebih mahal. Untuk menghemat memang biasanya berangkat beramai-ramai. Lautan lepas yang menghadap samudera Pasifik membuat cuaca di pulau dan sekitar Matutuang tidak menentu, bisa hujan deras disertai ombak besar dan angin kencang, tapi mendadak bisa berhenti begitu saja dan kembali cerah. Hal ini membuat transportasi laut sering harus menunggu cuaca membaik untuk dapat berlayar, bukan hanya satu atau dua jam, tapi bisa berhari-hari.

Hal ini pula yang dihadapi guru-guru (kebanyakan dari mereka  berasal dari luar Pulau Matutuang), hingga ada dari mereka yang pulang menemui istri dan sanak keluarga atau ada kegiatan dinas di kabupaten, baru akan kembali setelah beberapa minggu. Rasanya naif jika dikatakan mereka bolos karena kemauan mereka semata, tidak dipungkiri mereka memerlukan kebutuhan psikis, hanya untuk sekedar menelepon anaknya dirumah. Atau yang kepedulianya sangat tinggi pun tidak berdaya jika harus merelakan setengah dari gajinya satu bulan untuk menggunakan pumpboat kembali ke Matutuang, tanpa menunggu kapal perintis. Jarang sekali yang mau ditempatkan di Pulau seperti Matutuang, bahkan ada yang menangis histeris saat mengetahui jika dirinya harus menjadi guru di pulau ini, dan “rela berjuang” agar mendapatkan tempat yang lain.

Kenapa tidak menggunakan pengajar yang berasal dari Matutuang? Sebabnya karena desa Matutuang adalah sebuah desa yang baru diresmikan tahun 2008, tetapi telah dihuni sejak tahun 1990-an oleh masyarakat yang pergi mengail ikan. Oleh karena itu belum memiliki sumber daya manusia untuk menjadi tenaga pendidik yang asli dari sana. Saat ini hanya ada satu anak yang baru berhasil masuk universitas pendidikan, UNIMA sulut, lainnya masih kisaran usia SMA, selebihnya SMP dan SD.

Mereka yang memiliki kemauan keras masuk SMA harus berjuang keras pula di kota untuk membiayai separuh hidupnya, dengan menjadi buruh kasar, seperti mencuci dan memasak agar tidak membebani keluarga di kampung. Yang berada di pulau tidak kalah kerja kerasnya, anak-anak (terutama laki-laki) banyak yang menjadi buruh tambangan, mengangkut barang-barang belanjaan dari pulau ke Kapal Printis ataupun sebaliknya. Sebagian dari mereka juga “bakubik”, mengangkat pasir dan batu untuk keperluan projek yang sedang berlangsung di Pulau. Hasil jerih payahnya mereka kumpulkan atau diberikan kepada orangtua untuk membantu biaya hidup.

Karena hal itulah, EdenHell, salah satu murid kelas IV, yang akhirnya tidak bersekolah lagi, membantu orang tua untuk mengail, karena dia adalah seorang anak laki-laki, yang menjadi tumpuan keluarga, terbawa hanyut oleh arus laut saat mengail ikan bersama pamanya, berhari-hari tidak ada kabar, karena sebelumnya hanya berencana mengail satu malam saja, tetapi arus dan kehilangan arah membuat perahunya terbawa jauh sampai berpulu-puluh mil. Beruntung mereka ditemukan selamat.

Bagi para pelaut dan yang pernah hidup disekitarnya, kekuatan magis dari maha luasnya lautan akan “selalu hidup”, sejak 5000 tahun yang lalu ketika orang mulai mengarungi dan membelah lautan menjadi sarana untuk melakukan eksplorasi, perdagangan dan komunikasi:

“Mengikuti hembusan angin, melewati luasnya samudera, menapaki tingginya pegunungan,

akan ada banyak kehidupan dibalik angin, diujung samudera, dipuncak gunung, yang tak boleh kita lewatkan,

sehingga kita akan tahu ada dunia lain yang menarik dibaliknya!”.

 

Yuri Alfa Centauri

Matutuang, 13 November 2011 , 22 Maret 2012

 

  

Cerita Lainnya

Logo Indonesia Mengajar
KONTAK

(021) 7221570
info@indonesiamengajar.org

ALAMAT

Jl. Senayan Bawah No. 17,
Kel. Rawa Barat, Kec. Kebayoran
Baru, Jakarta Selatan 12180

© 2020 Gerakan Indonesia Mengajar
Ikut Iuran