FAS – “sebuah jalan kecil untuk menggapai MIMPI besar”
Yuri Alfa Centauri | 23 March 2012

Festival Anak Sangihe (FAS)-begitu acara ini dinamakan, seperti yang telah dirumuskan bersama bahwa acara ini adalah sebuah kegiatan bagi anak-anak khususnya usia Sekolah Dasar di wilayah Kabupaten Kepulauan Sangihe untuk mengembangkan dirinya dalam bentuk pameran hasil karya, pagelaran seni, dan cereer days (simulasi karir). Kegiatan ini memfasilitasi anak-anak dari kota hingga pelosok pulau di wilayah Kabupaten Kepulauan Sangihe untuk datang, berkumpul, dan memamerkan hasil karyanya kepada khalayak yang lebih luas.

Anak-anak di pelosok Sangihe yang selama ini jarang keluar dari pulau tempat tinggalnya, terhambat oleh keadaan alam dan moda transportasi yang terbatas mengakibatkan akses antarpulau yang terpisah lautan menjadi sulit. Kesulitan akses inilah yang seringkali menjadi penghalang bagi masyarakat yang hidup di pulau untuk mendapatkan kesetaraan, mulai dari kualitas pendidikan hingga kualitas hidup.  Seringkali, anak-anak didik yang hidup di pulau kecil dalam wilayah seperti Kabupaten Kepulauan Sangihe tidak mendapatkan tempat yang sama dengan anak-anak didik yang hidup di pulau besar. Keterbatasan akses membuat mereka jauh dari pertukaran informasi dunia luar. Bagi beberapa dari mereka, mungkin ini adalah pengalaman pertama kali keluar dari pulaunya. Sehingga, hal ini membuat anak-anak yang tinggal di pulau kecil kurang percaya diri dan miskin informasi.

Hidup di pulau kecil membatasi anak-anak untuk berkarya, tanpa apresiasi. Jarak antarpulau yang berjauhan dengan kondisi alam yang tidak menentu mengakibatkan anak-anak didik di pulau-pulau kecil hidup saling berjauhan dan tidak terhubung satu sama lain. Dengan adanya FAS, ke depannya diharapkan ada wadah khusus bagi mereka untuk memamerkan hasil karya, memertontonkan pertunjukan, bakat dan potensi anak-anak di pulau kecil untuk dapat diapresiasi lebih baik dan lebih luas. FAS akan memberikan gambaran yang lebih luas bagi anak-anak bahwa hidup mereka tidak sekedar di pulau yang berbatas lautan, tetapi juga harapan masa depan yang terbentang di depan mata. FAS akan menjadi penghubung diantara anak-anak yang saling berjauhan, jika anak-anak didik ini disatukan dalam kebersamaan melalui wadah kreativitas, bukan tidak mungkin akan menjadi potensi unggulan bagi daerah.

Di sisi lain FAS diadakan bertepatan dengan ulang tahun Kabupaten Kepulauan Sangihe, 31 Januari 2012 serangkaian dengan upacara adat Tulude. FAS menjadi kegiatan yang terintegrasi dalam rangkaian ulang tahun daerah. Harapannya,  upacara Tulude (HUT Kabupaten Kepulauan Sangihe) bersama dengan FAS dapat menarik lebih banyak wisatawan lokal, domestik maupun internasional. Hal di atas tentu sinergis dalam membangkitkan sektor pariwisata, seni, budaya dan tentunya pendidikan di wilayah Kabupaten Kepulauan Sangihe. Dengan datang ke tradisi rutin Upacara Tulude dan kegiatan FAS, anak-anak diharapkan mampu meningkatkan rasa cinta kedaerahan khususnya dan Indonesia pada umumnya.

Sedangkan di balik layarnya...

Sebelum hari pelaksanaan, banyak hal yang terjadi, dimulai dari HUBLA (lokasi pelatihan pengajar muda),tempat ide Festival ini muncul untuk pertama kali, perdebatan konsep acara, merencanakan agar acara ini tetap terlaksana, keyakinan dan kegoyahan kepercayaan pada diri sendiri dan tim, pesimistis dan jatuh bangun apakah acara ini dapat terlaksana atau tidak, maksud, tujuan dan harapan acara ini diadakan, perbandingan dengan jenis kegiatan lain yang “memungkinkan” untuk dilakukan, hambatan komunikasi dan geografis, proses birokrasi dan advokasi, semuanya bertujuan agar acara ini menjadi “milik bersama”; pemerintah daerah, dikpora, pihak sekolah, masyarakat pulau, masyarakat didaratan besar sangir, instansi, lembaga serta orang-orang yang terkait  yang merasa memiliki, dan bukan hanya Pengajar Muda.

Hari pelaksanaan yang dilakukan dengan penuh antusias, semangat dan tentu saja kerepotan disana-sini. Proses mendatangkan siswa, mengurus kepanitian, kesekretariatan, konsumsi, acara, perlengkapan, dekorasi, publikasi, dokumentasi, keuangan dan “menjaga” agar kegiatan ini tetap “menjadi milik bersama”, dikerjakan bersama-sama oleh berbagai pihak.

Proses pasca acara, bagaimana membawa siswa pulang kembali kepada orangtuanya, siswa yang harus menunggu sampai kapal datang hingga 20 hari, proses penyelesaian laporan, berkunjung ke berbagai pihak yang telah bekerja sama dan membantu acara sebagai wujud dari rasa terima kasih dan ucapan maaf, berbagi tugas untuk menjaga kawan yang sama-sama telah berjuang dan harus jatuh sakit selama tujuh hari di rawat di Rumah Sakit, mengurus pelaporan yang rencananya dibuat “ciamik”, testimoni berupa saran, kritikan, tanggapan dari berbagai pihak yang terlibat yang dibutuhkan sebagai feedback untuk acara ini, dan apakah pengaruh serta dampaknya pada pihak-pihak yang terkait, khusunya siswa-siswi dan orangtua yang telah mempercayakan anak-anaknya kepada kami, sampai kepada titik jenuh dari PM sendiri yang tidak dipungkiri kelelahan.

Tetapi jauh dari dalam lubuk hati muncul perasaan akan diri yang teraktualisasi menjadi sesuatu yang berbeda, baru, yang telah memberikan perombakan dalam diri berupa koreksi, kritik dan pemikiran serta gagasan yang muncul dan berkembang dari suatu perjalanan yang walaupun hanyasetahun tapi merupakan perjalanan kompleks, hidup dengan keterbatasan (komunikasi, informasi, transportasi), kenyataan dan realitas yang tidak ingin diselami, terpaksa harus didalami, serta kerja kelompok yang unik (setiap orang punyaposisi masing-masing, berdiri sama rata bukan atasan bawahan, tetapi terkadang muncul keegoisan dalam diri yang memaksa kesama-rataan itu serta merta hilang dan timbulnya perselisihan), tetapi dibaliknya ada pula keterbukaan.

Tentu saja selain hambatan ada pula kesenangan dari menikmati hal ini sebagai suatu perjalanan, mengenal hal-hal dan dunia baru, bertemu dengan rekan satu tim yang telah memberikan banyak sekali pelajaran, bertemu dengan berbagai macam orang yang “mengejutkan”, waktu-waktu yang (terasa lebih lambat atau malah lebih cepat) karena berada di tempat yang benar-benar berbeda dari kehidupan kami sebelumnya, mendapatkan arti dari kesederhanaan,  memberikan kesempatan untuk berpikir, berdialog dengan diri sendiri, berkontemplasi dengan alam dan mencurahkannya dalam berbagai media, tulisan dan gambar.

FAS dan perjalanan ini menjadi sebuah dan salah satu jalan kecil bagi anak-anak pulau, komunitas masyarakat dan pemerintahan, serta kami sendiri pengajar muda untuk merajut asa dan mimpi yang lebih besar. Jalan kecil yang suatu saat pasti akan menemukan jalur besarnya untuk berkarya. Kita tidak dapat melihatnya saat ini juga, karena ini adalah sebuah proses bukan sesuatu yang instan, mungkin baru dapat terlihat setelah 10 tahun kemudian, atau bahkan lebih. Asalkan kita mau terus memegang mimpi tersebut dan berkeinginan teguh untuk merealisasikannya.

Yuri Alfa Centauri

Pulau Matutuang, Sangihe,  11 Maret 2012

Cerita Lainnya

Logo Indonesia Mengajar
KONTAK

(021) 7221570
info@indonesiamengajar.org

ALAMAT

Jl. Senayan Bawah No. 17,
Kel. Rawa Barat, Kec. Kebayoran
Baru, Jakarta Selatan 12180

© 2020 Gerakan Indonesia Mengajar
Ikut Iuran