Apa yang mereka butuhkan, bukan yang “saya” inginkan
Yuri Alfa Centauri | 23 March 2012

“Kami tidak bodoh, jangan pernah menghakimi kami dengan nada merendahkan!!!”, ucap seorang bapak dipulau penempatan kala bercerita dengan antusias tentang sebuah “kekuasaan” dan “kepintaran” yang mendatangi dan berbicara kepada mereka, membawa seabrek  uang dan materi untuk dijejalkan dan dipaksa masuk kedalam “rongga mulut” mereka

Berangkat dari perbincangan hangat tersebut, muncul berbagai pertanyaan di benak tentang kebutuhan masyarakat, apa yang patut disampaikan dan diberikan kepada mereka. Perlukah akan semua hal yang dibawa, yang disodorkan agar mau  diapresiasi oleh mereka. Bukankah mereka sudah berkecukupan? Salahkah dengan kehidupan mereka saat ini?

Seringnya pengetahuan dan materi yang datang secara “prematur”, tanpa substansi yang jelas, yang tidak berdasarkan atas kebutuhan yang sebenar-benarnya sebuah komunitas masyarakat,  tetapi kemudian  mengharapkan hasil yang seragam,  misal, seperti  di kota-kota besar (yang biasanya menjadi contoh) mengakibatkan kekacauan pada tatanan kehidupan mereka, sederhananya seperti penggunaan berbagai barang (fasilitas)  yang tidak pada tempatnya, kebudayaan asing yang diaplikasikan begitu saja pada kehidupan sehari-hari, tanpa esensi, hanya imaji belaka, di kalangan kaum muda, sehingga melupakan kebudayaan asli.

Ketika masyarakat ini menjadi “komoditi” yang dapat dieksploitasi, berbagai kalangan yang “berkuasa dan pintar” memanfaatkannya untuk berbagai kepentingan. Dana dan infrastruktu, yang tampak secara “real”, nyata, dihadirkan berlebihan, tanpa melihat perlunya memunculkan hal yang lebih substansial seperti sumber daya manusia, yang kelak berguna untuk mensejahterakan daerah setempat. Fasilitas tidak hadir atas respon kebutuhan masyarakat, melainkan dari sebuah kebutuhan “kekuasaan”.

Bukankah sebetulnya tidak ada yang salah dengan kehidupan mereka, sepertinya hanya bentuk perbedaan dari pola pikir dan aktualisasi diri. Mungkin karena sulitnya akses untuk mendapatkan wawasan yang jauh lebih banyak, sehingga berimbas pada keterbatasan pengetahuan, sebetulnya tidak tepat pula jika disebut terbatas tetapi terbentuk sebuah “spesifikasi pengetahuan” yang didapat hanya dari lingkungan tempat tinggalnya, dari hal-hal yang mereka lakukan sehari-hari. Berbeda dengan masyarakat yang mengenal  pengetahuan yang lebih meng-global (lebih luas) karena wawasan didapat tidak hanya dari lingkungan tempat hidupnya, tetapi dari berbagai referensi, seperti literatur dan buku yang dibaca, berita yang didengar, film yang ditonton, internet, dan berbagai sumber lainnya. Bukan salah mereka jika tidak mempunyai waktu untuk mengaktualisasi diri dengan berbagai pengetahuan, karena mereka berpikir untuk saat ini dan esok pagi, kasarnya adalah akan “makan” apa diri kita serta keluarga hari ini. Sejumlah  besar pikiran tersedot kedalam hal-hal menyangkut rutinitas sehari-hari.

Sehingga orang yang datang belakangan, orang-orang yang merasa “lebih tau”, harus dapat menahan diri,  beradaptasi, berasimilasi, bukan lantas  yang mengkonstruksi semua hal yang mereka butuhkan. Hal tersebut hanya memunculkan ketergantungan berjangka panjang, yang nantinya hanya berupa harapan akan bantuan yang datang, harapan hampa.

Oleh karena itu saat melihat mereka, selalu teringat; bukankah setiap masyarakat mempunyai sebuah kebebasan pada cara mereka hidup dan pada setiap sisinya pasti menyimpan cerita dan keindahanya sendiri?!

 

Yuri Alfa Centauri

11 Desember 2011

Cerita Lainnya

Logo Indonesia Mengajar
KONTAK

(021) 7221570
info@indonesiamengajar.org

ALAMAT

Jl. Senayan Bawah No. 17,
Kel. Rawa Barat, Kec. Kebayoran
Baru, Jakarta Selatan 12180

© 2020 Gerakan Indonesia Mengajar
Ikut Iuran