Hidup Sebatas Bibir Pantai
Yuri Alfa Centauri | 23 March 2012

Merenung sambil melihat pantai yang sepi dikala waktu senggang merupakan hal yang menyenangkan, walaupun terkadang  ada beberapa anak yang sedang bermain “tario”(seperti bodysurfing) dengan menggunakan pelampung gabus bekas menyimpan ikan, atau papan kayu, serta anak yang sedang mengail ikan, menambah suasana pantai menjadi lebih hidup. Angin semilir yang menerpa serta suara deburan ombak menyemarakan keadaan hati, flamboyan.

Damai, tenang, walaupun sepi ada kegembiraan dalam hati, memandang cakrawala dikejauhan membuat pikiran melambung tinggi akan keinginan dimasa depan, cita-cita serta pilihan-pilihan hidup, dan bukan memandangnya sebagai suatu “sosok” dikejauhan yang tak terjamah, hampa. Saya terkadang melihat anak yang bermain air ditepi pantai, sambil terlihat sedang memandang ke kejauhan, cakrawala, termangu. Saya pun mencoba menebak, kira-kira apa yang sedang dilihatnya, dipikirkanya.

Pilihan pertama atau keduakah?             

Sedih rasanya jika ternyata mereka melihat yang kedua, sesuatu yang tampak teramat jauh, sehingga tidak terjamah, tidak ada cita-cita, tidak ada harapan, ya beginilah hidup, “hanya sebatas bibir pantai”.

“Sudah joo, buat apa sekolah, kita (saya) mau mengail saja, dapat doi (uang) langsung beli hape (handphone)!” ucap Tentri anakkelas 4 beberapa bulan lalu. Kala itu saya hanya bisa berkata, “kalau tidak sekolah kamu tidak akan dapat membaca dan berhitung, lantas saat kamu telah menjadi nelayan dan harus menjual ikan tangkapanmu ke kota, karena tidak dapat membaca dan berhitung kamu ditipu oleh pembeli, siapa yang akan rugi?”. Ya, apapun cita-citanya kelak, nelayan, polisi, dokter atau seniman yang terpenting bukanya adalah mereka menjadi apa yang diinginkan menurut kesadaran yang muncul karena telah mendapat wawasan (sebuah pembebasan dari belenggu ketidaktahuan)? seluruh wawasan yang ada di penjuru dunia jika perlu. Saat kelak telah dewasa, pilihan-pilihan hidup itu datang mereka yang akan memilih dan memutuskan, apapun yang terjadi itulah keputusan yang telah diambil dengan segala konsekuensinya sehingga harus dijalani.

Tetapi saat ini, saat mereka kanak-kanak, siapa yang akan membantu mempertahankan keyakinan dan keinginannya, saat mereka terus memelihara harapan dan asanya? Bagi saya yang telah memasuki usia dewasa saja, yang hidup ditempat dengan akses pengetahuan yang luas, dilokasi yang memiliki banyak kemudahan, dikelilingi oleh kawan yang mendukung, untuk tetap mempertahankan semangat, antusias dan cita-cita masih mengalami kesulitan, selalu jatuh-bangun.

“Saya ingin menjadi tukang kodak (kamera), apa itu ya namanya pa guru?”, jericho, siswa kelas 3 SD bertanya pada saya, “Fotografer!”. Dia pun selalu ingat kata itu sampai saat ini, walaupun Fotografer adalah salah satu kata yang sulit untuk anak-anak di pulau penempatan saya, tapi karena itulah cita-cita yang sangat diinginkannya, maka dia selalu mengingatnya. Hanya saja sedikit muncul skeptisme dari saya saat melihat kondisi keluarga dan lingkunganya, hal ini memang salah, harusnya tetap optimis, tapi tetap muncul pikiran akankah orang-orang  disekitarnya mengerti apa yang dicita-citakannya, adakah kemudian yang akan mendukungnya?

Anak-anak remaja pulau matutuang yang berhasil lolos dan mempunyai semangat untuk melanjutkan sekolah hingga tingkat SMA, harus bersusah payah, terkadang ada yang harus menjadi buruh cuci, atau buruh masak di kota (Tahuna, Peta) untuk membiayai keberlangsungan sekolah dan hidupnya, hingga tidak membebani keluarga dikampung yang berprofesi sebagai nelayan. Tetapi setelah SMA selesai mereka kembali kebingungan, berbagai instansi pemerintah dan perusahaan swasta mensyaratkan lulusan diploma atau sarjana. Dunia seakan runtuh bagi mereka, akankah kemudian hanya akan menjadi “buruh”, kembali pada kungkungan batas pantai dari pulau kecil mereka. Dari sinilah muncul skeptisme dari masyarakat akan fungsinya pendidikan (sekolah), untuk apa sekolah tinggi, tetapi hanya akan sama seperti dengan yang tidak bersekolah.

Lantas apa yang bisa kita lakukan? Kita bukan orang besar, tidak dapat memberi “materi”, kita bukan orang “berkuasa” yang dapat memberi kemudahan, kita bukan “pembesar” yang dapat memberi surat keputusan, tapi bukankah kita masih punya tenaga dan pikiran, memberikan wawasan kepada anak-anak tersebut, masyarakat pun sangat menghargai hal ini, mereka tidak pernah memandang sebelah mata akan orang-orang yang membantu hanya dengan memberikan tenaga dan pikiran, karena hal ini dilakukan dengan intens, terus menerus, berkelanjutan. Terasa sekali kekuatan dari “berbagi”, sekecil apapun yang diberikan.

Berikan dan berbagilah sebagian mimpi-mimpi kita, karena mereka sangat membutuhkanya, ulurkanlah tangan kita, rangkulah mereka, tiap detik, tiap rangkulan, tiap saat akan selalu berharga.

“Hidup hanya sebatas bibir pantai”, apakah menyenangkan? Tentu saja tidak menurutku, karena masih ada tempat-tempat lain diluar sana, nun jauh dicakrawala yang dapat kita datangi.

 

Yuri Alfa Centauri

Pulau Matutuang, 18 Desember 2011

Cerita Lainnya

Logo Indonesia Mengajar
KONTAK

(021) 7221570
info@indonesiamengajar.org

ALAMAT

Jl. Senayan Bawah No. 17,
Kel. Rawa Barat, Kec. Kebayoran
Baru, Jakarta Selatan 12180

© 2020 Gerakan Indonesia Mengajar
Ikut Iuran