Model
Yuri Alfa Centauri | 03 December 2011

“I’m a model!! And who are you???”

(Kutipan dari majalah di Bandung, Jeune, edisi The Models Issue)

Menjadi seorang “model” (baca: guru, tauladan, contoh), apakah harus menjadi figur yang benar-benar sempurna?! Maksudnya, rela tidak menjadi diri sendiri didalam menjalani kehidupanya, pekerjaanya. Menjadi “manekin” yang berjalan tanpa jiwa, hanya untuk mendapatkan “kesepakatan damai” dari lingkungan disekitarnya, menjadi orang paling baik di lingkungan yang baik?!

Saat menjadi orang yang mengajar dengan cara berbeda, dengan sudut pandang yang berbeda, maka bagi sebagian orang, lingkungan yang konvensional, akan dianggap aneh, “lucu, patut ditertawakan”.

Ketika melihat beberapa anak yang sekarang berada dihadapan saya dikelas, mencoret-coret meja, tembok, kursi, buku tulis habis digambar, seperti melihat diri saya dahulu, atau mungkin seperti melihat diri anda dulu, dengan berbagai aktifitas dan tingkah laku yang membuat kesal guru, tapi sebenarnya tetap menyimak dengan keacuhan tersebut atau memilih belajar diwaktu yang lain, dirumah, sayangnya saya tidak dapat menyampaikan hal tersebut pada pendidik saya dulu, karena mungkin masih anak-anak, tidak dapat menceritakan secara verbal dengan baik. Sehingga saya dianggap “cukup nakal”, dan tidak mau mendengarkan.

Sekarang dihadapan saya ada anak-anak seperti itu, saya bercermin pada diri saya dahulu, mencoba memahami dan memposisikan diri seperti mereka. Tetapi muncul kebingungan saat menghadapinya, apakah harus melarangnya ataukah tetap membiarkanya, karena saya tidak tau apa yang ada dalam benak anak-anak tersebut, apakah mereka menyimak atau tidak, karena terkadang kelakuan mereka dapat memicu keributan pula didalam kelas, atau mungkin perasaan seperti ini (untuk melarang semua kelakuan “nakal” tersebut, dan agar mereka duduk diam mematung, mendengarkan) muncul karena keegoisan sebagai “model”  yang ingin dihargai didepan kelas, ataukah perasaan bahwa anak ini harus “segera” menjadi “pintar” karena telah kedatangan seorang pengajar muda. Tetapi jika dibiarkan (dengan alasan bahwa, “biarkan saja, memang ini keunikan seorang anak” atau, “memang seperti ini metode mengajarnya!”), terkadang pandangan dari orang-orang dewasa lain disekitar menganggap hal tersebut salah dan harus dilarang, dimarahi.

Sehingga kekhawatiran menghinggapi saat mencoba membiarkan mereka sealamiah mungkin dan tidak memaksa anak-anak menjadi “seseorang” yang kita (orangtua, orang dewasa) “gambarkan”, ataukah sebaliknya dengan cara konvensional, murid yang diam mematung akan lebih baik, karena mereka “mendengarkan” dengan baik apa yang disampaikan dengan rasa patuh?

Saya bukan Tuhan, tidak tahu nasib seseorang kelak, tetapi yang saya rasakan adalah ingin memberikan kepada mereka “sesuatu” yang dapat mengembangkan karakter, agar mereka menjadi orang-orang yang berkpribadian. Saya tidak merasa bahwa diri ini telah menjadi seseorang yang sukses, yang lebih baik dari yang lainya, saya hanya merasa bahwa saya menjadi orang yang cukup beruntung, karena bisa menjadi diri sendiri sepenuhnya sampai saat ini, sejak dulu, setidaknya saya menginginkan hal tersebut pada diri anak-anak disekolah saya. Karena saya merasakan bahwa kejadian-kejadian yang dialami dulu, saat masih anak-anak, baru terlihat dampaknya saat ini. Tetapi sesuatu tidak dapat dipaksakan, kita selalu benar-kita selalu salah, karena manusia hidup dengan sudut pandang masing-masing, yang berbeda-beda.

Kemudian mungkin sikap didalam kelas, saat mengajar adalah tergantung pada harapan akhirnya, apakah ingin menjadikan anak-anak ini “pintar”, dengan nilai-nilai yang tinggi, ataukah menjadikan anak-anak yang memiliki kekuatan menjadi diri sendiri (tapi hasilnya tidak dapat langsung terlihat, tidak seperti  nilai-nilai raport yang tampak real, semoga, karena hal ini juga tidak dapat dijamin!).

Yang utama adalah bahwa tugas guru itu sangat penting, selain orangtua merekalah yang memberi pengaruh dan membangun fondasi dasar pada anak-anak, fondasi inilah yang kelak akan menjadi salah satu penentu pribadi anak-anak tersebut setelah dewasa. Saya percaya bahwa hasil tidak dapat langsung dilihat saat ini, dalam sekejap mata, mungkin baru bertahun-tahun kemudian dampaknya akan terlihat.

Sahabat saya selalu bilang seperti ini:

“Jika kalian sudah merasa penat..hentikan sejenak langkah kalian, pejamkan mata dan ingat kembali...apa alasan kalian ikut IM ini? Ingat kembali saat-saat itu....”,

sehingga saat akan mengajar kita akan teringat tujuan murni dan tulus untuk siswa-siswi sekolah dasar tersebut yang tidak akan tergoyahkan oleh apapun.

“Susan Wright dianggap wanita yang aneh pada jamannya, karena dia membiarkan anaknya-Wright bersaudara- untuk melakukan berbagai hal yang diinginkanya sesuka hati, segala sesuatu yang ingin mereka ketahui dan menjadi ibu yang menjawab semua pertanyaan anak-anaknya dengan jawaban yang berwawasan dan berakal sehat. Oleh orang-orang disekitarnya Susan dicap bukan contoh orangtua yang baik untuk anak-anaknya.”

Tetapi apa yang terjadi? Wright bersaudara mencatatkan nama mereka dalam sejarah sebagai orang pertama yang terbang ke angkasa!

Yuri Alfa Centauri, Pulau Matutuang, 25 Oktober 2011

Cerita Lainnya

Logo Indonesia Mengajar
KONTAK

(021) 7221570
info@indonesiamengajar.org

ALAMAT

Jl. Senayan Bawah No. 17,
Kel. Rawa Barat, Kec. Kebayoran
Baru, Jakarta Selatan 12180

© 2020 Gerakan Indonesia Mengajar
Ikut Iuran