Idealisme, Harapan dan Kesederhanaan
Yuri Alfa Centauri | 14 May 2012

Datang dengan membawa idealisme dan target tinggi mungkin menjadikan kearoganan itu muncul.

Seperti yang ditulis oleh teman sesama pengajar muda Sangihe, Annisa, : “kesombongan selalu berpihak kepada mereka yang tidak paham”, saat teringat kali pertama ide festival anak sangihe tercetus, adalah menyatukan seluruh anak di kabupaten kepulauan Sangihe, dalam sebuah festival: pertunjukan kesenian, pameran hasil karya, dancarrier dayyang sempat kami anggap “enteng”, ternyata jauh sekali dari kata “mudah”.

Sejatinya ada tahapan-tahapan yang harus dilewati, tidak  serta merta begitu saja. Orang yang “hadir belakangan”datang untuk beradaptasi, berasimilasi dan tidak untuk mengkonstruksi semua hal dalam tatanan kehidupan masyarakat setempat. Menempatkan diri dan melihat dari sudut pandang mereka  membuat permasalahan terlihat, mungkin yang paling esensial sekalipun, mana yang harus diutamakan, mana yang substansial, mana yang hanya muncul dari keinginan kita belaka, yang bukan berasal dari respon kebutuhan masyarakat setempat.

Tetapi memiliki idealisme merupakan sesuatu yang sangat diperlukan. Daoed joesoef didalam catatannya menyampaikan: “Ideal adalah seperti bintang dilangit, kita memang tidak pernah mencapainya, tetapi kita,bagai pelaut, memetakan haluan gerakan kita dengan berpedoman kepadanya (ideal). Artinya, seorang idealis, berkat idealnya, mampu mengatakan kepada publik, apa-apa yang (akan) mereka butuhkan sebelum mereka sendiri mengetahui atau menyadarinya.” Karena hakikatnya adalah “mampu melihat lebih dahulu kedepan”.

Saat  menginginkan yang ideal itu pula, mungkin kita memberikan harapan, terhadap orang lain maupun diri sendiri.

Kita berharap setiap hari, berharap hari ini cerah, berharap diberikan kemudahan, kesehatan, kebaikan sampai kepada harapan agar dapat membuat dan menghadirkan sesuatu yang nyata, “real”, sebagai bentuk perubahan, tetapi ternyata kita “gagal” merealisasikannya. Kita mungkin berharap “jalan” yang dilalui mulus, tanpa hambatan, tetapi kenyataanya kita harus menyelami hal-hal yang tidak ingin dialami. Kita berharap apa yang dilakukan itu benar tetapi kenapa malah semakin merasa ada yang ‘salah’. Kita bisa berharap banyak hal, ada yang tercapai tetapi ada pula yang tidak terealisasi.

Akankah harapan tetap dianggap sebagai sesuatu yang baik?

Bukankah lebih baik bersikap realistis, ”apa yang telah ada, ya biarkan begitu adanya”?! Tetapi jika begitu, masalah yang ada tidak akan pernah terselesaikan. Seperti yang ditulis John Farndon, “Mungkin hal terpenting tentang harapan bukannya apakah hal itu realistis atau tidak, melainkan akibatnya pada motivasi dan kepercayaan diri. Kadang hampir tidak mungkin menilai masa yang akan datang secara tepat. Kadang masa yang akan datang tampaknya menunjukkan tidak adanya kesempatan bagi perubahan yang lebih baik. Kadang rencana atau gagasan tampak begitu mustahil untuk menjadi kenyataan. Akan tetapi, harapan setidaknya  dapat memberikan motivasi untuk berbuat sesuatu, kemauan untuk bertindak.”Dengan harapan kecemasan akan berkurang. Harapan pula membuat orang tidak tertekan.

Seiring dengan berjalannya waktu, saat idealisme dan harapan berjalan beriringan diantara ‘timbul-tenggelamnya’,muncul kesadaran akan kesederhanaan (dalam kompleksitas masalah) tentang hal yang harus dilakukan selama ‘proses’ini berlangsung.

Kesederhanaan dalam kompleksitas masalah ini maksudnya adalah melihat sesuatu yang sederhana dari sudut pandang holistik. Bukankah untuk tugas ini kita harus melihat keseluruhan, tidak seperti seorang teknisi yang melihat sesuatu, fokus berdasarkan bidang yang digelutinya?!Mungkin kita harus memikirkan dan mencari kaitan antara satu bidang (masalah) dengan bidang lainnya. Walaupun dalam tugas ini tidak ada tendensi untuk menyelesaikan seluruh persoalan. Yang diperlukan dari melihat secara menyeluruh adalah agar yang kita lakukan-jika dampaknya kemudian tak sesuai harapan- tidak berakibat seperti efek domino terhadap hal lainnya (meminimalisasi akibat sosial yang terjadi)karena kurangnya eksplorasi dan tidak tepatnya penerapan.Kesederhanaan tercapai karena kita memahami kompleksitasnya, bukan karena mengabaikannya.

Seperti yang dijabarkan oleh jonathan ive dalam filosofi perancangan produknya; “Kesederhanaan bukan sekedar gaya visual. Bukan sekedar serba minimalis atau ketiadaan pemborosan. Untuk mencapai kesederhanaan, kita harus menggali kompleksitas hingga ke akar-akarnya. Kita harus benar-benar mengerti esensi suatu produk supaya bisa menyingkirkan bagian-bagian yang tidak esensial.”

Rasanya terlalu sempurna jika melihat kesederhanaan seperti apa yang dikatakan Newton dalam Rules for Methodizing the Apocalypse, “Kebenaran akan selalu ditemukan dalam kesederhanaan”.Setidaknyahal sederhana yang saat ini dapat dilakukan adalah mempercayai bahwa segala sesuatu atau setidaknya ada hal-hal yang akan berubah menjadi lebih baik.

Yuri Alfa Centauri                              

Matutuang, Juni 2011-Mei 2012

Cerita Lainnya

Logo Indonesia Mengajar
KONTAK

(021) 7221570
info@indonesiamengajar.org

ALAMAT

Jl. Senayan Bawah No. 17,
Kel. Rawa Barat, Kec. Kebayoran
Baru, Jakarta Selatan 12180

© 2020 Gerakan Indonesia Mengajar
Ikut Iuran