info@indonesiamengajar.org (021) 7221570

mereka, role model masa depan

Yunita Ekasari 6 September 2011

Ramadhan ke-15

“Aslm,

Mbk aku hari ini adlh org yg paling bhgia...hehehe

Hari ini adlh hari pertama Propti d kmpus

Subhanallah, sungguh tak terbayang mbak..bahagia baget mbak...hehehe”

Begitulah kira-kira pesan singkat yang kuterima sore ini sesaat sebelum berbuka puasa di rumah faisal (salah satu PM Tulang Bawang Barat).

Kemudian dari siapakah pesan singkat itu?? Pesan singkat itu dari seorang remaja yang baru saja menikmati sederet jerih payahnya, memetik buah perjuangannya.

“Kuliah”, mungkin adalah hal yang biasa bagi remaja yang telah menyelesaikan pendidikannya di SMA. Itu, adalah hal yang hampir pasti jika berada di kota besar. Tapi tunggu dulu, pengirim pesan yang di atas adalah seorang remaja perempuan yang sejak kecil hingga beranjak dewasa hidupnya ia habiskan di sebuah desa, dimana kuliah bukan merupakan hal yang biasa bahkan ada yang menganggap keinginan untuk kuliah adalah suatu hal yang “nyelenh”. Di tempat yang tidak ada listrik apalagi jaringan internet. Di daerah yang jarak rumahh ke sekolah harus di tempuh entah berapa kilometer menggunakan sepeda ontel yang dibekali oleh orang tuanya. Aku kagum dengannya. Mengapa? karena disaat di luar sana, di kota dengan segala fasilitas dan kemewahan yang ada ternyata masih ada bahkan banyak yang mengeluh dengan keadaan yang ada. Namun, ia disini, dengan segala hal-hal yang jauh dari kemergelapan, ia membangun serpihan-serpihan mimpi dan selalu bersandar pada keyakinannya bahwa ia juga bisa menggapai mimpinya, menemukan cita-citanya. Bahwa kelak ia juga menjadi perempuan yang bisa mengobati kehausan raganya akan ilmu di perguruan tinggi. Bahwa ia juga kelak bisa kuliah, sama dengan lainnya. Dan hari ini, adalah hari pertamanya memasuki gerbang baru perjuangannya, memulai kuliah. Memulai untuk mendekatkan dirinya dengan puncak impian kehidupan yang ia bangun sejak lama.

Lalu siapakah sebenarnya yang aku ceritakan barusan?.

She is Lilis,saudara perempuanku sejak awal tahun ini. Karenanya aku merasa bahwa kehadiranku disini juga karena mimpi-mimpinya, karena sandaran leyakinannya yang begitu kuat bahwa Tuhan pasti akan menjawab doa-doanya, Tuhan memeluk mimpi-mimpinya.

Beberapa hari lagi, Indonesia merayakan ulang tahun kemerdekaannya. Dengan sederet gegap gempita hampir di seluruh penjuru nusantara. Tahun ini aku memulai untuk tidak hanya merayakan kemerdekaan,tapi  aku berharap tahun aku bisa mulai untuk memaknai kemerdekaan. Aku memulai untuk memaknai kemerdekaan di desa ini, ditempat yang sederhana dengan cara yang sederhana. Tidak mewah ataukah wah. Bahwa merdeka adalah memperjuangkan hal yang sebenarnya, bukan menjalani kebiasaan seperti kebiasaan kebanyakan orang. Kemerdekaan adalah juga bukan hanya ujung dari memperjuangkan hal-hal yang luar biasa, hal-hal yang merupakan di luar dari zona nyaman. Karena hidup akan terus penuh dengan perjuangan. Akan ada perjuangan selanjutnya setelah memperoleh kemeredekaan. Jika sebelum merdeka para pahlawan kita memperjuangkan agar bangsa ini merdeka. Maka setelah kemerdekaan sebenarnya akan ada perjuangan memepertahankan kemerdekaan. Membicarakan memepertahankan kemerdekaan adalah sesuatu yang sungguh berat menurutku, karena membahas itu membuat rasa bersalah dan berdosa seketika akan menghampiri. Bahwa sebenarnya aku belum bisa menjawab benarkah bahwa aku telah ikut andil dalam usaha memepertahankan kemerdekaan? Aku merasa belum memberikan apa-apa terhadap bangsa ini. Sangat malu rasanya karena sejarah telah membuktikan dan menceritakan ketangguhan,perjuangan dan pengorbanan para pahlawan Indonesia yang begitu dalam merebut kemerdekaan sementara aku belum berbuat apa-apa hingga sering bertanya kepada diri sendiri bahwa benarkah bangsa ini telah benar-benar merdeka? Lalu mengapa sederet masalah yang menggerogoti bangsa ini kemudian solah-olah menunjukkan kalau bangsa ini belum merdeka seutuhnya?. Sekali lagi aku tak ingin mengutuk. Sekali lagi aku ingin memulai untuk lebih memaknai kemerdekaan. Aku ingin memaknai secara sederhana di tempat yang sederhana ini.

Mungkin nama Lilis beberapa kali terlihat di beberapa tulisanku sebelumnya (semoga pembaca tidak bosan). Ya, dia yang kuyakini akan menjadi role model masa depan di desa ini. Namun, dia tidak sendiri, ada dua lagi pemuda desa yang kini merdeka karena telah berhasil menciptakan siklus kehidupan yang agak berbeda dengan warga desa lainnya. Namun, mereka kini akan terus melanjutkan perjuangan mereka.

Tiga orang anak muda sederhana yang memiliki mimpi yang cukup luar biasa. Mereka adalah tiga pemuda desa yang bermimpi agar masa depan mereka tidak berakhir pada aktivitas di Kebun Karet. Sumber daya alam (baca : kebun karet dan sawit) yang cukup melimpah di desa Indraloka 2 kemudian membuat kebanyakan warga desa menciptakan siklus kehidupan “masa anak-anak sampai remaja adalah untuk sekolah, dan setelahnya mencari pendamping hidup kemudian menghabiskan sebagian sisa hidup mereka di ladang-ladang karet. Pendidikan?? Bukan menjadi bagian yang prioritas dalam hidup mereka. Walaupn ada segelintir yang menganggap pentingnya pendidikan namun kebanyakan menganggap pendidikan adalah secondary not too important. Pernah salah seorang murid saya di SMP bercerita bahwa ketika ia menceritakan kepada ibu nya tentang cita-citany yang ingini menjadi dokter, ibunya lalu berkomentar agar biaya kuliahnya dialihkan saja dengan membeli ladang saja karena prospek nya secara ekonomi lebih bagus kata ibunya. Mungkin itu adalah hal yang wajar bagi sebagian orang. Siapa yang tak ingin hidupnya aman secara finansial dan siapa pula yang ingin mengalihkan uangnya untuk hal yang belum jelas secara ekonomi??. Pendidikan memang terlihat tidak menjanjikan secara material di masa depan bagi mereka. Hal itu wajar dan tidak ada yang perlu diperdebatkan. Itu dari kacamata mereka, mungkin karena tidak ada role model di desa ini. Jujur saya resah melihat keadaan itu. Seolah-olah saya ditantang dengan sebuah batu besar untuk menaklukkan itu. Saya hanya setahun di desa ini, bagaimana mungkin saya kemudian bisa memperbaiki semua masalah pendidikan dengan waktu yang cukup singkat, Ya setahun ternyata cukup singkat. Tapi bukan juga kita kemudian harus tinggal di desa ini selamanya. Dalam konsep community development yang pernah saya pelajari, bahwa sebuah proses community empowerment dinyatakan cukup berhasil apabila seorang fasilitator mampu membuat kelompok yang difasilitasinya lebih baik dari sang fasilitator. Teori sederhananya sama saja dengan konsep kaderisasi yaitu sebuah proses kaderisasi dinyatakan berhasil apabila sang kakak membuat adik-adiknya (baca : kader-kadernya) paling tidak sama dengan dia bahkan lebih baik. Konsep kepemimpinan sukses secara sederhana –bagaimana seorang pemimpin membuat para pengikutnya juga mampu menjadi seorang pemimpin-.

Saya ulangi lagi saya disini hanya setahun, dan kemudian tidak serta merta saya kemudian mampu mempengaruhi paradigma mereka tentang pendidikan. Dengan tegas saya mengatakan pada diri saya “mereka butuh role model yang berasal dari desa ini”. Di awal-awal masa penugasan saya sering mencari anak-anak muda, entah itu lewat pembicaraan santai dengan tetangga, guru-guru, ataupun pamong desa. Saya hampir putus asa karena kebanyakan remaja di desa ini telah berkeluarga. Bahkan orang tua murid saya di SD, kebanyakan seumuran dengan saya. Upppzz..jadi malu, merasa seperti kurang laku =(.

Namun, saya yakin pasti ada walaupun satu orang yang berpandangan lain tentang pendidikan. In average people definetely there is unavarage person. Saya mau mencari yang unavarage itu.

Pertemuan saya memang seperti seolah-olah sudah ditakdirkan olehNya. Lilis, kebetulan menjadi adik angkatku di setelah saya memutuskan untuk pindah rumah karena jarak rumah yang dulu ke sekolah cukup jauh, Susi si remaja perempuan yang bercita-cita tinggi adalah anak seorang buruh yang berprinsip bagaimanapun caranya anak-anaknya harus berpendidikan tinggi adalah tetangga Selfi (rekan, salah satu PM Tulang Bawang Barat). Sementara arifin, anak seorang petani karet yang berpandangan bahwa kuliah itu penting. Pertemuan dengan mereka seperti membuka harapan baru bagiku. Sungguh .Saya merasa desa ini bagian dari hidup saya. Namun, tak pula saya harus menjadi penduduk desa ini selamanya. Aku harus berbuat sesuatu untuk desa ini.

I love Indonesia wherever i’m now. And Indraloka is a part of Indonesia.

Mereka ingin kuliaahhh. Itu sudah lebih dari cukup bagi kami (PM di Way kenanga).

Mei 2011

Berangkatlah mereka ke Tanjung Karang untuk mengikuti SNMPTN. Satu bulan berlalu, pengumuman dan sayangnya tidak ada nama mereka di daftar peserta yang dinyatakan lulus. Tapi, saya yakin Tuhan akan menjawab doaku. Liburan lalu, aku menyempatkan diri ke Universitas Lampung (Unila), bertemu Sugi (mahasiswa  Unila yg berasal dari Indraloka). Dia membawa sebuah kabar gembira bahwa Unila bekerja sama dengan Koran Radar Lampung membuka jalur penerimaan baru di Unila “Penerimaan Mahasiswa melalui Perluasan Akses Pendidikan (PMPAP)”. Syaratnya adalah dengan mengisi formulir dan memenuhibeberapa berkas yang disebutkan dalam formulir. Formulir pun bisa diperbanyak.

Yeahh, we didn’t predicted before bahwa akan ada jalur penerimaan lain di luar SNMPTN dan jalur UML.

(Waktu itu kupikir, mungkin ini adalah jalan lain menuju mimpi mereka)

Mulailah kami melengkapi berkas-berkas seperti surat keterangan kurang mampu dari kelurahan, rekening listrik dan PBB, setelah itu beres dan kemudian mengirimnya ke alamat Sugianto yang kebetulan sedang berada di Tanjung Karang melalui Perwakilan Bus di Unit 2 Tulang Bwang.

Keeseokan harinya, Sugianto kembali menghubungiku bahwa ia telah mengantarkan berkas ke rektorat Unila namun pihak rektorat meminta agar si pemilik berkas mengantarkan langsung berkasnya karena ada proses wawancara. Karena kami terhimpit waktu, sorenya Arifin dan Susi pun berangkat dengan doa-doa kami yang mengantarnya dari tepi lintas Sumatera. Karena masalah berkas, Lilis pun berangkat besoknya. Namun, ia belum terlambat.

Seminggu kemudian, namun tak jua ada kabar, tak ada telepon dari pihak rektorat. Kami hampir putus asa.

Malam itu,setelah pulang dari sekolah menjelang maghrib ada e-mail yang harus kubaca yang dikirim dari kantor Pusat Indonesia Mengajar di Jakarta. Karena koneksi internet yang kurang baik di dusunku, maka kuputuskan untuk ke tempat Selfi yang memiliki jaringan internet yang cukup untuk sekedar membuka email (tapi jangan berharap untuk upload foto apalagi video).

Berangkatlah aku dengan adik angkat menuju rumah teman menyusuri setapak kebun karet. Sesampainya di rumah Selfi, aku kemudian membuka email dan secara tidak sengaja aku membuka website Unila di Unila.ac.id.

Ternyata, disana ada pengumuman peserta yang berhak untuk mengikuti wawancara di gedung rektorat Unila lantai 3. Ada nama, asal sekolah dan alamat rumah mereka disana. Mereka adalah peserta yang berhak ikut tes wawancara.

Saya membuka wabsite itu tanggal 26 juli 2011 dan undangan wawancara itu adalah tanggal 21 Juli 2011. Dan saya hanya bisa S-p-e-e-c-h-l-e-s-s. Mereka seharusnya ikut itu minggu lalu.

Mereka berhak, oh Tuhan, Mereka berhak!!!!

Tak semudah yang kami bayangkan di awal. Tapi akan selalu ada perjuangan untuk mewujudkan sebuah mimpi.Tanpa berpikir panjang, aku pun langsung mencoba untuk menghubungi Paman yang kebetulan menjadi salah satu staf pengajar di Unila. Paman kemudian memberikan nomor telepon salah satu panitia, Pak ainul. Karena waktu itu telah malam, aku memutuskan untuk menghubungi esoknya.

Esoknya kuhubungi nomor itu, hampir tidak ada respon. Ku coba menghubungi paman lagi. Aku meminta tolong kepada beliau untuk menanyakan Mungkin karena kesibukan beliau, paman baru menghubungiku lagi menjelang maghrib.Pamanku memberitahukan bahwa karena keterlambatan adalah bukan kesalahan peserta, maka mereka berhak untuk ikut wawancara susulan keesokan harinya pukul sembilan pagi di lantai 3 rektorat Unila.

Whaaattttt?? it was suprised me, shocked me *exxagerate*

Tuhan sedang memeluk mimpi mereka, Tuhan sedang memeluk mimpi mereka =’).

Tapi..tunggu dulu...

Waktu itu jembatan cakat sedang rusak. Dan sebagian angkutan umuum, jalurnya di alihkan ke lintas tengah, sedangkan desa kami berada di Lintas timur. Waktu berjalan terus, malam semakin menusuk dengan dinginnya. Aku,selfi dan mereka belum memeperoleh kepastian berangkat kapan dan menggunakan apa, sementara detik di jam tak mau berhenti. Waktu menunjukkan pukul 9 malam. Desa sepi dan gelap. Hingga saatnya ada pihak yang bersedia menolong kami. Kesepakatannya adalah mereka akan berangkat menuju Tanjung Karang pukul tiga dini hari. 

Hingga suatu hari di bulan ramadhan...

Setelah sahur dan menjelang subuh,

Hari itu adalah tanggal pengumuman, walaupun belum pagi, entah mengapa mata ini tidak bisa terpejam walaupun sejenak hingga pagi menjelang. Tidak seperti biasanya. Aku memilih untuk berdoa pada-Nya.

Daerahku cukup “mewah” dari segi sinyal. Sinyal seluler cukup menjangkau telepon genggamku. Aku masih bisa berkomunikasi baik telepon maupun sms. Ditengah doaku, tiba-tiba telepon genggamku menerima sms dari Pak ainul, beliau hanya meminta untuk mencari koran radar lampung pagi nanti. Aku hanya senyum membaca sms itu. Koran??.

Siangnya pengumuman di website keluar, Alhamdulillah ada tiga nama disana yang beralamatkan Desa Indraloka 2, Kabupaten Tulang Bawang Barat. Lilis dan Susi diterima di Fakultas Ilmu Pendidikan dan Arifin diterima di Fakultas Hukum.

Hari itu penuh rasa haru. Air mata bahagia menetes di mata para Ibu dan Ayah yang hebat yang telah melahirkan anak-anak yang luar biasa. Pelukan dan ucapan selamat kulayangkan kepada mereka -kecuali pada Arifin karena dia adalah kaum adam =)-. Juga kepada orang tua mereka atas dukungan dan doa mereka selama ini kepada perjuangan anak mereka. Senang sekaligus lega hati.

Semoga kelak mereka akan menjadi role model di desa ini, mereka kelak secara perlahan mengubah paradigma penduduk desa ini tentang pendidikan.

Sorenya kami berangkat ke Tanjung Karang, menuju Rektorat. Kami berencana bertemu Pak ainul untuk menyampaikan rasa terima kasih kami atas dukungan beliau selama ini.

Keesokan harinya, kami bertemu dengan Pak Ainul. Aku kemudian bercerita sedikit tentang Indonesia Mengajar berikut pengajar mudanya =). Dari pembicaraanku dengan Pak ainul, kuketahui bahwa Lilis, Arifin dan Susi adalah pendaftar “terjauh”. Mereka memang datang dari ujung lampung. Sempat juga kudengar, bahwa pihak panitia cukup salut dengan kegigihan anak-anak muda Indraloka ini. It’s the real fighting...

Pertemuan singkat itu ternyata membawa kabar gembira lagi bagi mereka, yaitu ada dua orang pejabat rektorat yang bersedia menjadi orang tua angkat bagi Lilis dan Susi. Mereka adalah Bu Retno dan Bu Marni. Hari itu juga kami bertemu Bu Marni dan Bu Retno yang bukan main baiknya.

Terima kasih bu retno dan bu marni, kami bagaikan menemukan sebuah Oase di tengah gurun kalahari. Bagaimana tidak?? Mereka tak memiliki satu pun saudara di Tanjung karang untuk bisa mereka jadikan tempat tinggal selama kuliah. Dan tawaran itu tentunya merupakan angin segar bagi kami. 

Dan...

Seminggu setelah itu ternyata beasiswa bidik misi dibuka bagi peserta yang lulus melalui jalur tertulis PMPAP dan SNMPTN. Biaya yang dicover beasiswa PMPAP hanyalah biaya pendidikan??, sementara bidik misi adalah beasiswa yang dapat membantu mereka dalam hal biaya hidup, they get two in one. Dan mereka kini tidak perlu terlalu khawatir lagi masalah biaya kuliah.

Yeaahh, dan itu adalah bonus atas perjuangan mereka. Tuhan akan selalu membayar setiap doa dan usaha manusia, dan Dia tidak akan pernah ingkar janji.

Where is a willingness, there is a way..right??

Just do it right and then Let’s GOD gives you the best...

Selamat hari kemerdekaan buat kalian yang akan menghadapi perjuangan selanjutnya.

 

Terbang tinggi ke awan, mungkin ada yang bisa kutemukan

Menyebrangi ilalang walaupun jauh yang harus kutempuh

(Ipang, OST. Serdadu Kumbang)


Cerita Lainnya

Lihat Semua