Agu
01

Maluku Tenggara Barat ini jauh sekali dari peradaban yang sering dikenal masyarakat Indonesia pada umumnya. Kabupaten ini bukan seperti Jawa atau Sumatra. Sangat jauh dari ketenaran Bali dan jauh sekali dari lirikan investor seperti halnya Kalimantan.

Wilayah ini tidak diketahui banyak orang, bahkan di peta pun sering tidak dimuat.

Disinilah kami bertujuh meluncur.

Laskar ini terdiri dari tujuh orang saja. Aku dan enam temanku.

Billy, sang komandan berbadan besar dan bermuka sangar. Namun senyumnya semanis gula merah dan hatinya seempuk kapas. Kepribadiannya yang begitu baik dan kuat selalu bisa diandalkan untuk memberi aura positif pada kelompok kecil ini.

Dhimas, the musical genius, sosok ekspresif yang telah memerdukan kelompok ini dari sejak awal nama kami tertera di atas kertas kecil dengan tulisan Maluku Tenggara Barat di atasnya. Lagu-lagu ciptaannya, nyanyian-nyanyian merdunya, menjadi penyemangat di setiap hari yang kami lalui, baik bersama ataupun terpisah. 

Hanan, seorang manusia yang sangat lucu. Ia selalu berbicara dengan nada keras, diikuti oleh ketawanya yang begitu  menggirangkan bagi siapapun yang mendengarnya. Itulah Hanan dan kelucuannya, ibarat garam di setiap makanan, semua akan hambar tanpa kehadirannya.

Savira, sang ibu dengan hobi mengunyah, tidak pernah kenal lelah dalam merangkul kami semua dalam kehangatan karakternya. Selalu baik hati, sabar, dan begitu kokoh di hadapan apapun.

Prita, sosok kreatif yang independen dan humoris, setiap langkahnya menggaungkan keringanan dan kesantaian yang menularkan nuansa damai ke dalam benak laskar ini. With Prita, everything is as easy as Sunday morning.

Uun, pemilik bibir tipis dan suara kecil yang cempreng, selalu bisa mengangkat mood kami di saat apapun, dalam kondisi apapun. Kelakuannya yang random dan terkadang tidak bisa ditebak adalah humor termahal kelompok ini.

Kami bertujuh terpilih untuk bersatu. Dan disini, we are all we have.

Inilah laskarku, sahabatku, keluargaku.

Saat aku merindukan rumah, merekalah ibu-bapakku, kakak-adikku. Saat aku bosan, merekalah hiburanku, komediku. Saat aku lelah, merekalah chargerku, baterai cadanganku. Dan di saat apapun, walau desa kami di pulau yang berbeda sekalipun, cukup enam orang ini saja untuk menyejukkan jiwaku.

Ya, laskar ini terdiri dari tujuh orang saja.

6 Komentar
Tinggalkan komentarmu

Belum punya akun? Daftar sekarang!