Resonansi Penenun Indonesia

Oleh: Shally Pristine (Angkatan II) | 19-11-2011

Pada suatu Ahad petang, sebundel kertas berjudul Menulis Gerakan Indonesia Mengajar (GIM) dari Akon Labs sampai ke pegangan saya. Satu dari sekian banyak kumpulan materi Pelatihan Intensif Pengajar Muda (PM) II itu cuma saya baca selewat lalu. Isinya seputar teknik penulisan narasi GIM bagi PM. Materi ini diberikan karena PM harus menuliskan aktivitasnya secara berkala di blog.

Kesan awal saya: mau nulis aja ribet.

Bagi saya yang terbiasa berpikir dengan pola random, menuruti tata titi tentrem penulisan terstruktur Cerita Diri (Story of I) dan Cerita Kita (Story of Us) rasanya memblok kreativitas. Satu dua kali saya mencoba teknik penulisan tahap demi tahap a la Akon Labs, kemudian saya menyerah. Saya kembali ke kebiasaan, menulis secara acak baru hasilnya disunting untuk memenuhi poin-poin kunci.

Bersama bundel materi itu, terlampir tulisan singkat berjudul The Rise of Indonesia, salah satu contoh Cerita Diri. Tulisan ini asyik karena bicara optimisme dengan ringan, jauh dari kesan berkhotbah. Namun keasyikan itu tak bisa tinggal lama-lama karena segunung tugas Pelatihan menghujani di pekan berikutnya. Kedua berkas dari Akon Labs itu pun tenggelam di antara kertas-kertas lain.

Padatnya kegiatan saat pelatihan menjadi cerita tersendiri. Teman saya, PM Bagus, sempat berujar Pelatihan ini bagai karnaval yang tiada habisnya. Dalam kesempatan yang lain, saya sempat BBM-an dengan PM Dika di Halmahera Selatan. Saya mengeluhkan minimnya waktu untuk mengendapkan pikiran (saturasi) selama Pelatihan sehingga materi tidak terpahamkan dengan sempurna.

Waktu itu Dika menjawab enteng, "tenang aja, Shal. Nanti di daerah penempatan bakal banyak waktu untuk itu."

***

Saya mendapat kehormatan untuk bertugas di Dusun SP3 Oi Marai, Kecamatan Tambora, Kabupaten Bima. Dusun transmigrasi berusia tujuh tahun ini adalah penjungkiran nyaris sempurna dari semua yang saya akrabi di kota besar. Dusun ini luasnya sekitar 60 hektare dengan penghuni hanya sekitar 100 KK dengan letak rumah yang berjauhan. Di sini, kata-kata Dika seperti menemui kenyataannya.

Oi Marai adalah dusun tanpa sinyal telepon, jauh dari gangguan siaran televisi, dan minim interaksi sosial karena penduduk yang jarang, sehingga kehidupan berjalan lambat. Saya pun punya segudang waktu memamah bekal sekardus buku dari ibukota. Saya serasa jadi Soekarno yang tengah dibuang ke Ende. Sebelum digiring ke pengasingan, Bung Karno membawa berkoper-koper buku sebagai teman.

Selain punya waktu menghabisi buku-buku kerap kali yang dibeli karena "lapar mata" melihat diskon di pameran atau pembukaan toko baru, saya juga sempat melongok kembali kumpulan materi pelatihan. Termasuk, bundel dari Akon Labs dan borang pelaporan kegiatan individual PM yang secara khusus menanyakan berapa banyak tulisan yang sudah dihasilkan dan dampaknya.

Kepingan ingatan yang telah sempurna mengendap kini berkelebat saling melekat, menyusun alasan logis untuk saya, "Mengapa GIM harus dituliskan?".

Bangsa kita adalah penutur ulung. Aneka dongeng, legenda, dan parabel jadi lestari berkat tradisi bercerita sejak zaman karuhun. Di masa modern, kebiasaan bertutur lisan sebagian bersalin bentuk lewat tulisan, menambah kekuatan dan daya jangkaunya. Pergerakan pemuda di awal kebangkitan nasional pun digerakkan oleh budaya ini, berbekal satu semangat yang saling beresonansi.

Saya teringat spontanitas Mbak Yasmin dan suaminya yang ingin memberikan donasi setelah dia membaca satu tulisan saya tentang memprihatinkannya kondisi Oi Marai. Satu tulisan saja dampaknya demikian. Saya jadi teringat juga 10 koli paket sumbangan buku dari Indonesia Menyala yang sudah sampai di Kota Bima, menunggu diambil. Juga antusiasme berbagai pihak menyambut program ini.

Resonansi adalah peristiwa bergetarnya suatu benda karena ada benda lain yang bergetar dengan frekuensi yang sama. Makin kuat getaran benda sumber, resonansi akan bertambah besar. Sekarang, resonansi itu sedang terjadi. Dia terus menular lewat tuturan, mencari entitas dengan frekuensi ketulusan yang sama untuk kemudian turut menggetarkannya.

Berceritalah agar resonansi itu merangkai Cerita Diri tiap-tiap Aku, semacam The Rise of Indonesia, menjadi Cerita Kita. Hingga mereka saling menjalin menjadi tenun bernama Indonesia.

:)

PS: foto di atas adalah ekspresi anak-anak ketika menerima kiriman buku yang dibeli dengan uang donasi Mbak Yasmin dan suaminya. Semoga bisa berkah yaa :)