Nov
01

1 November 2010, Ciawi tengah malam

45 menit lewat pukul 12 malam. Sekarang sudah masuk bulan November. Tidak terasa. Sudah enam minggu saya dan teman-teman Pengajar Muda ada di training camp ini. Minggu ini kami akan segera merasakan latihan militer Rindam yang kedua. Dan hari Rabu pada minggu depannya, kami akan diberangkatkan ke daerah penempatan masing-masing. Sebagai guru.

Perlu dicatat ya, sebagai guru. Bukan sebagai pelancong atau sekedar tenaga CSR dari suatu perusahaan besar yang hanya mampir satu-dua minggu di daerah pelosok. Insyaallah kami akan menetap disana selama satu tahun sebagai bantuan tenaga pendidik. Oleh karena itu, kami juga harus memiliki pengalaman dan keterampilan mengajar seperti layaknya guru.

Selama kurang lebih satu bulan ke belakang, kami ditempa dengan materi-materi teori mengenai pedagogis, seperti metode pembelajaran berbasis pada siswa dan konsep kecerdasan multiple intelligence; pengetahuan dasar pendidikan seperti kurikulum KTSP dan berbagai macam materi ektrakurikuler. Namun kami dan pihak Indonesia Mengajar sangat sadar bahwa teori tidak akan cukup membekali kami untuk berjuang nantinya. Kami perlu sesuatu pengalaman yang riil. Maka, dalam satu minggu ini kami mendapat tugas untuk mengajar di sekolah-sekolah dasar yang terletak di sekitar training camp.

Aku dan empat orang teman Majeneku mendapat kesempatan untuk mencoba mengajar di Madrasah Ibtidaiyah Tarbiyatul Huda. MI ini terletak tak jauh dari camp. Dapat dicapai dengan berjalan kaki sepuluh menit. Sesuai dengan namanya, sekolah ini memasukkan pelajaran-pelajaran agama Islam ke dalam materi sehari-harinya. Sebutlah Fiqih, Qur’an dan Hadits, Pelajaran Agama Islam, Sejarah Islam, Bahasa Arab, Akhlak dan Akidah. Pelajaran-pelajaran tersebut tentunya tidak kami sentuh. Karena dapat hampir dipastikan murid-muridnya tahu lebih banyak dari kami para Pengajar Muda.

Yang aku suka dari sekolah ini adalah jumlah muridnya yang tidak terlalu banyak dalam satu kelasnya. Kami hanya mengajar kelas-kelas besar, yaitu kelas 4, 5 dan 6. Kelas 4 hanya berisikan 22 murid, kelas 5 sebanyak 17 murid dan kelas 6 sebanyak 12 orang murid. Dengan jumlah murid yang tidak banyak, memungkin guru untuk berinteraksi intens dengan muridnya, sehingga guru dapat mengawasi perkembangan muridnya dengan lebih seksama.

Metode pembagian jadwal kami memungkinkan masing-masing dari kami untuk merasakan mengajar di semua mata pelajaran dan di setiap kelas. Setiap kelas memiliki keunikan dan tantangannya masing-masing. Begitu juga dengan mata pelajaran.

Kami dididik untuk mengajar siswa dengan menganut paham konstruktivisme, dimana pendidikan berbasis pada siswa. Siswa yang harus aktif berpikir dan menyimpulkan sendiri pengetahuan yang didapatnya. Dengan demikian, tugas guru bukanlah memberikan ceramah di depan kelas tentang konsep pengetahuan, melainkan menjadi fasilitator yang membimbing dan menggali potensi siswa untuk mendefinisikan konsep pengetahuan.

Berdasarkan pemahaman seperti itu, aku sadar tugas guru tidaklah mudah. Hal tersebut sangat tercerminkan dari kegiatan-kegiatan para Pengajar Muda seminggu ke belakang ini. Lampu yang biasanya dimatikan pada pukul 22.00, kali ini tidak dimatikan non-stop 24 jam. Hal tersebut dimanfaatkan oleh para Pengajar Muda untuk tidur larut malam, hanya untuk mempersiapkan proses belajar mengajar keesokan harinya. Mulai dari RPP atau Rencana Perencanaan Pembelajaran sampai pada alat dan bahan ajar. Yang sangat aku kagumi dari teman-teman Pengajar Muda ini adalah kreativitas mereka dalam menyiapkan metode untuk mengkonstruk pemahaman siswa.

Sebagai contoh, ada temanku yang menggunakan dadu-dadu untuk mengkonstruk pemahaman mengenai volume kubus. Metode tersebut berhasil, ketika muridnya berkata bahwa volume kubus dengan sisi 2 buah kubus adalah 2x2x2. Ada lagi metode menghafal dengan mnemonik lagu. Luar biasa.

Pengalaman mengajar satu minggu kemarin sangat berkesan untukku. Aku menyadari ternyata memang benar setiap tingkatan umur memiliki karakteristik yang berbeda. Untuk itu harus didekati dengan pendekatan yang berbeda pula. Murid-murid kelas 6 contohnya, sudah memiliki tingkat kematangan yang jauh dibandingkan kelas lainnya, sehingga aku menempatkan diri agak lebih superior ketimbang ketika berhadapan dengan murid-murid di bawahnya. Kelas 5 juga sudah cenderung tidak seperti anak-anak lagi, namun mereka masih sedikit manja sehingga pendekatan anak kecil masih berhasil. Nah, kelas 4 adalah kelas paling spesial dari semuanya. Karena isinya adalah little monsters. Tanpa bermaksud mengecilkan, tapi sungguh aku sangat kagum dengan para little monsters itu. Mereka memiliki energi yang tak kunjung habis. Aku sangat yakin mereka adalah anak-anak yang cerdas secara kinestetis sehingga pendekatan yang terlalu teori dan kaku akan kurang berhasil. Hal tersebut dimanfaatkan oleh aku dan teman-temanku dengan memberikan berbagai macam aktivitas fisik pada mereka termasuk dalam tugas-tugasnya. Seperti menggunting, menempel dan menggambar.

Mungkin ketika di penempatan nanti, aku akan lebih memahami karakteristik murid-muridku dan cara-cara pendekatannya, karena nanti aku akan menjadi guru kelas. Bukan berarti hal tersebut adalah hal yang mudah, ya. Pasti akan berat. Pasti akan penuh dengan tantangan. Tapi sungguh, aku ingin segera bertemu dengan mereka. Murid-muridku di Sulawesi Barat sana, di Majene.

Calon-calon muridku, tunggu ibu yaaa...

0 Komentar
Tinggalkan komentarmu

Belum punya akun? Daftar sekarang!